Hidayatullah.com– Bangladesh meminta bantuan UN High Commissioner for Human Rights (OHCHR), lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan hak asasi manusia, dalam penyelidikan kasus pembunuhan Sharif Osman Hadi, salah satu pemimpin gerakan pemuda yang melakukan unjuk rasa besar-besaran untuk menggulingkan pemerintahan PM Sheikh Hasina pada tahun 2024, kata pemerintah hari Ahad (8/2/2026).
Misi Bangladesh di Jenewa mengirimkan sebuah nota diplomatik berisi permintaan kepada Office of the UN High Commissioner for Human Rights (OHCHR) untuk memberikan dukungan terhadap penyelidikan yang “adil, tidak memihak, dan cepat” atas kasus pembunuhan tersebut, kata kantor pers pemerintahan sementara Bangladesh seperti dilansir AFP.
“Nota itu meminta bantuan teknis dan kelembagaan dari OHCHR untuk mendukung penyelidikan,” imbuhnya.
Hadi, 32, ditembak mati oleh sejumlah orang bertopeng di ibu kota Dhaka pada Desember 2025 dan akhirnya meninggal dunia akibat luka yang dideritanya di sebuah rumah sakit di Singapura. Kematiannya memicu gelombang protes baru yang diwarnai kerusuhan di Bangladesh.
Sebelum pembunuhannya, Hadi sudah mengumumkan akan maju sebagai calon independen dalam pemilihan umum pertama sejak penggulingan Hasina yang akan digelar pada hari Kamis.
Pemerintahan sementara saat ini yang dipimpin pakar ekonomi penerima Nobel Muhammad Yunus, menegaskan komitmen untuk melakukan penyelidikan kasus itu dengan standar akuntabilitas dan transparansi tertinggi, dan berjanji akan menyeret pelakunya ke pengadilan.
Hadi merupakan seorang aktivis yang bersuara lantang mengkritik India, tempat di mana Hasina mencari perlindungan sejak melarikan diri di tengah demonstrasi kemarahan rakyat pada Juli 2024.
Para pendukung Hadi memujanya sebagai seorang martir dan simbol anti-kemapanan dari gerakan pemuda yang mengubah lanskap politik Bangladesh.*




