Hidayatullah.com – Amerika Serikat terus memimpin statistik kriminologi global terkait fenomena pembunuh berantai. Berdasarkan data terbaru dari Serial Killer Database di Radford University, AS mencatat sekitar 3.690 kasus terdokumentasi, yang mencakup lebih dari 66% dari total kasus global. Angka ini terpaut sangat jauh jika dibandingkan dengan negara lain seperti Inggris (196 kasus) dan Rusia (164 kasus).
Tingginya angka ini tidak serta merta menunjukkan bahwa warga Amerika secara biologis lebih cenderung menjadi pelaku kriminal, melainkan cerminan dari kecanggihan sistem pelaporan dan keterbukaan informasi.
The New York Times dalam ulasan mendalamnya menyoroti peran krusial basis data federal. “Sistem Violent Criminal Apprehension Program (ViCAP) milik FBI memungkinkan detektif menghubungkan titik-titik pembunuhan yang terpisah jarak ribuan mil, sesuatu yang jarang bisa dilakukan di negara dengan sistem kepolisian yang terfragmentasi,” tulis media tersebut.
Senada dengan hal itu, BBC News meninjau fenomena ini dari sudut pandang sejarah dan budaya kriminologi. Dalam salah satu laporannya, BBC menyebutkan bahwa istilah “serial killer” sendiri merupakan produk budaya penegakan hukum AS era 1970-an yang sangat didukung oleh media.
“Keterbukaan informasi dan obsesi media Amerika terhadap kasus-kasus kriminalitas menciptakan ekosistem di mana setiap pola pembunuhan segera teridentifikasi dan masuk dalam catatan sejarah publik,” ungkap laporan tersebut.
Namun, dominasi statistik ini juga menyimpan anomali yang disebut sebagai Dark Figure of Crime. The Guardian melaporkan bahwa dominasi AS dalam data global kemungkinan besar disebabkan oleh “kegagalan pelaporan” di negara-negara berkembang atau otoriter.
“Di banyak bagian dunia, pembunuhan berantai sering kali tidak terdeteksi karena kurangnya teknologi DNA dan koordinasi antarwilayah, sehingga banyak korban hanya dicatat sebagai orang hilang tanpa pernah dihubungkan satu sama lain sebagai pola kejahatan tunggal,” tulis koresponden kriminologi The Guardian.
Meskipun AS mendominasi secara historis, data Radford University menunjukkan tren penurunan tajam jumlah pembunuh berantai aktif sejak puncaknya di tahun 1980-an. Para ahli sepakat bahwa kemajuan forensik modern dan kewaspadaan masyarakat telah mempersempit ruang gerak pelaku sebelum mereka mencapai jumlah korban yang besar.*




