Hidayatullah.com— Sejumlah insiden kekerasan terhadap warga Muslim kembali terjadi di berbagai wilayah India selama bulan Ramadhan, memicu kekhawatiran di kalangan kelompok masyarakat sipil mengenai meningkatnya ketegangan komunal di negara tersebut.
Salah satu kasus terbaru terjadi di distrik Muzaffarnagar, negara bagian Uttar Pradesh. Seorang imam masjid bernama Abdul Wahab dilaporkan menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok pemuda saat pulang dari masjid di kawasan Sarwat. Polisi setempat telah mendaftarkan laporan resmi atau FIR terhadap lima orang yang diduga terlibat dalam serangan tersebut.
Dalam sistem hukum India, FIR atau First Information Report merupakan laporan awal yang didaftarkan polisi ketika menerima informasi tentang dugaan tindak pidana. Pendaftaran FIR menjadi langkah pertama dalam proses penyelidikan kriminal dan memungkinkan aparat penegak hukum untuk memulai penyidikan serta mengambil tindakan hukum terhadap pihak yang diduga terlibat.
Seorang pejabat kepolisian setempat, Siddharth Mishra, mengatakan laporan tersebut mencantumkan lima nama yang diduga terlibat dalam pengeroyokan, yakni Lavi, Basant, Harish, Aditya, dan Rishabh.
“FIR telah didaftarkan terhadap lima orang. Polisi telah memulai penyelidikan dan tindakan hukum sedang dilakukan,” ujarnya seperti dikutip media India, ThePrint.
Menurut laporan media New Age Islam, para pelaku diduga terlebih dahulu menghentikan Abdul Wahab di jalan dan menanyakan identitasnya sebelum melakukan penyerangan menggunakan tongkat dan pemukul kriket. Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka serius dan harus menjalani perawatan medis di rumah sakit.
Kasus lain terjadi di negara bagian Bihar. Seorang pemuda Muslim bernama Mohammad Dawood menjadi korban kekerasan massa di Desa Fulhara, distrik Samastipur. Ia diikat pada tiang listrik dan dipukuli oleh sekelompok warga setelah dituduh melakukan pencurian.
Seorang saksi menyebut tidak ada barang curian yang ditemukan pada Dawood setelah warga memeriksa barang-barangnya. “Dia diikat di tiang listrik dan dipukuli oleh sekelompok orang yang menuduhnya mencuri. Namun setelah diperiksa, tidak ditemukan barang curian pada dirinya,” tulis laporan media The Siasat Daily.
Barang yang ditemukan pada Dawood hanya telepon genggam serta kunci kendaraannya. Maktoob Media melaporkan bahwa tidak ditemukannya barang curian memicu kekhawatiran di kalangan warga Muslim setempat bahwa insiden tersebut kemungkinan dipicu oleh prasangka agama.
Insiden yang lebih mematikan terjadi di negara bagian Rajasthan. Seorang sopir pickup Muslim berusia 28 tahun bernama Aamir meninggal dalam insiden kekerasan di wilayah Bhiwadi setelah diduga diserang kelompok vigilante pelindung sapi.
Keluarga korban menuduh kelompok vigilante yang dikaitkan dengan organisasi radikal Hindu Bajrang Dal melepaskan tembakan yang mengenai kepala Aamir. Kelompok vigilante sapi di India dikenal sebagai jaringan aktivis yang mengklaim melindungi sapi—hewan yang dianggap suci dalam tradisi Hindu—dan sering menargetkan orang yang dituduh menyembelih atau menyelundupkan sapi.
Menurut laporan The Quint, paman korban mengatakan beberapa tembakan dilepaskan dan salah satunya mengenai kepala Aamir. Polisi menyatakan insiden bermula dari kejar-kejaran terhadap kendaraan yang diduga membawa sapi dan berujung bentrokan, sementara penyebab pasti kematian masih menunggu hasil penyelidikan.
Kematian Aamir meninggalkan seorang istri yang sedang hamil empat bulan serta seorang anak perempuan berusia dua tahun. Polisi telah mendaftarkan FIR terhadap sejumlah orang tak dikenal, termasuk dugaan keterlibatan anggota Bajrang Dal, namun hingga laporan terakhir belum ada penangkapan.
Di tengah rangkaian insiden tersebut, muncul pula kekhawatiran setelah ribuan aktivis Hindu mengikuti acara bertajuk “Trishul Deeksha” di negara bagian Himachal Pradesh.
Dalam acara itu para peserta menerima trisula—senjata simbolis dalam tradisi Hindu—dan mengambil sumpah kolektif untuk melindungi agama Hindu, negara, serta sapi yang dianggap suci.
The Siasat Daily melaporkan ribuan peserta menghadiri kegiatan tersebut. Sementara Maktoob Media menyebut acara serupa sebelumnya juga pernah diselenggarakan oleh organisasi Hindu garis keras sebagai bentuk mobilisasi komunitas.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah organisasi pemantau kekerasan komunal juga mencatat peningkatan insiden penyerangan terhadap minoritas, termasuk Muslim, terutama terkait isu penyembelihan sapi, tuduhan pencurian, maupun konflik identitas.
Para pengamat mengaitkan tren tersebut dengan menguatnya politik identitas sejak partai nasionalis Hindu Bharatiya Janata Party yang dipimpin oleh Narendra Modi berkuasa di tingkat nasional pada 2014.
Sejumlah laporan lembaga pemantau independen menyebut kasus mob lynching dan kekerasan terkait isu sapi meningkat dalam periode tersebut, meskipun pemerintah India menolak tuduhan bahwa kebijakan negara mendorong kekerasan komunal.*




