Hidayatullah.com – Angkatan Udara AS telah kehilangan setidaknya tujuh pesawat dalam perangnya dengan Iran, menurut laporan CNN pada Sabtu.
Ditembak jatuhnya dua jet tempur AS sejak pekan lalu, sebuah pesawat F-15 Angkatan Udara AS dan A-10, meningkatkan jumlah total pesawat berawak AS yang hilang dalam konflik dengan Iran menjadi tujuh, menurut laporan tersebut.
Pada tanggal 2 Maret, hanya beberapa hari setelah perang dimulai, tiga F-15 secara keliru ditembak jatuh oleh pertahanan udara Kuwait dalam insiden tembakan salah sasaran di atas Kuwait.
Keenam awak pesawat berhasil melontarkan diri dengan selamat. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan minggu ini bahwa ketiga pilot tersebut telah kembali menerbangkan misi melawan Iran.
Pada tanggal 12 Maret, enam personel AS tewas ketika sebuah pesawat tanker pengisian bahan bakar KC-135 jatuh di Irak. Militer AS mengatakan pesawat-pesawat tersebut terlibat dalam insiden dengan pesawat lain selama Operasi Epic Fury, nama untuk serangan AS terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari. Pesawat kedua mendarat tanpa masalah.
Pada 27 Maret, sebuah pesawat peringatan dan kontrol udara E-3 Sentry dilaporkan hancur saat berada di darat selama serangan Iran di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi.
Serangan itu dilaporkan melukai setidaknya 10 anggota militer AS, meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Sebuah pesawat tanker Angkatan Udara AS juga rusak dalam serangan itu, kata sumber.
Dalam insiden terpisah, sebuah jet tempur F-35 AS terpaksa melakukan pendaratan darurat di pangkalan AS di Timur Tengah bulan lalu setelah terkena tembakan yang diyakini berasal dari Iran, lapor CNN, mengutip dua sumber yang mengetahui situasi tersebut.
Kawasan tersebut telah siaga sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang hingga saat ini, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Teheran telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.*




