Hidayatullah.com– Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dalam wawancara yang disiarkan hari Sabtu (2/5/2026) mengatakan bahwa pelarangan atas sebagian aksi unjuk rasa pro-Palestina bisa dibenarkan, khususnya yang menyerukan supaya intifada disebarluaskan.
Politisi Partai Buruh itu mendapatkan tekanan untuk bertindak setelah beberapa insiden serangan antisemit terjadi, termasuk pekan ini, ketika dua pria ditikam di daerah pinggiran London, Golders Green, di mana banyak orang Yahudi bermukim.
Tersangka seorang pria berusia 45 tahun warga Inggris kelahiran Somalia dinyatakan harus mendekam di dalam tahanan saat dihadirkan untuk pertama kalinya di pengadilan hari Jumat dengan dakwaan percobaan pembunuhan, lansir AFP.
Starmer hari Kamis mengunjungi lokasi kejadian dan layanan ambulan sukarela Yahudi. Di sana dia dicemooh oleh sebagian warga lokal, yang menuduhnya tidak berbuat cukup untuk melindungi mereka.
Mereka juga mengecam para aktivis pro-Palestina yang melakukan aksi jalan kaki di beberapa kota di Inggris, yang dimulai sejak serangan Hamas 7 Oktober 2023 yang memicu peperangan di Gaza.
Starmer, yang merupakan seorang mantan pengacara HAM dan kepala kejaksaan yang memiliki seorang istri keturunan Yahudi, mengatakan banyak orang Yahudi yang mengatakan kepada dirinya bahwa mereka terganggu dengan seringnya aksi protes antisemit.
“Saya sangat mendukung kebebasan berekspresi, aksi protes damai,” katanya kepada BBC yang mewawancarainya. “Namun, ketika ada seruan-seruan semacam ‘globalize the intifada’, itu sangat keterlaluan,” kata Starmer.
“Tentunya harus ada tindakan yang lebih tegas untuk itu,” ujarnya.
Intifada merujuk pada gerakan perlawanan rakyat sipil Palestina terhadap penjajahan Israel tahun 1987-1993 dan awal 2000-an.
Starmer mengatakan dia ingin mengatur penggunaan bahasa yang dipakai dalam berbagai aksi supaya lebih ketat dan ada “kalanya” ketika para pengunjuk rasa harus berhenti sama sekali.
Dia menambahkan bahwa sudah dilakukan beberapa kali pembicaraan perihal tindakan apa yang kiranya bisa diambil untuk menindak hal tersebut.
Bulan Desember tahun lalu, polisi di London dan Manchester mengatakan bahwa mereka akan menangkap siapa saja yang meneriakkan seruan “globalize the intifada.”
Komunitas Yahudi di Inggris memandang seruan tersebut “sangat sangat berbahaya,” kata Starmer.
Hari Kamis (30/4/2026), Inggris menaikkan status waspada ke level dua tertinggi “severe”, antara lain karena serangan terhadap warga Yahudi di Golders Green belum lama ini, serta ancaman dari kelompok ekstremis dan kanan-jauh.*




