Hidayatullah.com – Aksi protes terhadap Israel semakin beragam dan kreatif. Terbaru para musisi dan aktivis pendukung Palestina menggelar konser alternatif dari Kontes Lagu Eurovison berjudul “United for Palestine.”
Di dalam sebuah gedung konser bersejarah di Brussels pada Selasa malam, penyanyi-penulis lagu Palestina Bashar Murad membawakan lagu klasik Nina Simone “I Wish I Knew How It Would Feel to Be Free” dengan penuh emosi dalam bahasa Inggris dan Arab. Penonton bertepuk tangan meriah setelah penampilan tersebut, yang menjadi salah satu momen penting dari konser “United for Palestine”.
Acara tersebut merupakan bagian dari gerakan protes yang lebih luas terhadap Eurovision, yang merayakan ulang tahun ke-70 tahun ini dengan slogan “United by Music”. Para kritikus mengatakan slogan tersebut bertentangan dengan genosida Israel yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina.
Lima negara (Spanyol, Irlandia, Belanda, Slovenia, dan Islandia) memboikot kontes tahun ini karena partisipasi Israel. Sementara itu, para penampil dari 35 negara lain terus berkompetisi dalam acara musik tahunan Eropa yang tahun ini diselenggarakan di Wina di tengah jumlah penonton yang sangat rendah.
Konser dan siaran alternatif telah menyebar di beberapa kota Eropa minggu ini. Penyelenggara di Belgia mengatakan acara solidaritas serupa juga berlangsung di Austria, Jerman, Italia, Slovenia, dan Spanyol.
Murad mengatakan gerakan yang berkembang ini bertujuan untuk menekan penyelenggara Eurovision agar kembali ke pesan asli kompetisi tentang persatuan dan inklusi.
“Selalu luar biasa berada di ruangan yang sama dengan orang-orang yang percaya pada hal yang sama dengan Anda dan orang-orang yang percaya bahwa kita tidak bisa membiarkan pertunjukan ini terus berlanjut,” kata Murad.
Murad hampir mewakili Islandia di Eurovision pada tahun 2024. Keluarganya juga memiliki hubungan yang panjang dengan musik dan aktivisme budaya Palestina. Ayahnya membantu mendirikan grup musik Palestina yang berpengaruh, Sabreen. Pada tahun 2007, orang tuanya mengajukan petisi kepada European Broadcasting Union yang berbasis di Jenewa untuk mengizinkan Palestina berpartisipasi dalam Eurovision, namun tidak berhasil.
Israel bergabung dengan Eurovision pada tahun 1973 dan telah memenangkan kontes tersebut empat kali. Investigasi terbaru oleh New York Times mengungkapkan bagaimana Israel menggunakan kontes tersebut sebagai alat kekuatan lunak untuk menutupi kejahatannya dan memajukan narasi mereka.
Organisasi hak asasi manusia terus menekan penyelenggara Eurovision. Agnès Callamard, sekretaris jenderal Amnesty International, mengatakan Eurovision harus mengeluarkan Israel dari kompetisi, sama seperti yang dilakukan terhadap Rusia setelah invasi ke Ukraina pada tahun 2022.
“Lagu dan gemerlap tidak boleh dibiarkan menenggelamkan atau mengalihkan perhatian dari kekejaman Israel atau penderitaan Palestina,” kata Callamard.
Kemarahan publik atas genosida telah memicu demonstrasi besar-besaran di seluruh Eropa dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa politisi Uni Eropa juga telah membahas kemungkinan sanksi terhadap Israel.
“Kita harus menciptakan alternatif karena partisipasi Israel bermasalah,” kata Katrien De Ruysscher, pendiri kelompok aktivis SOS Gaza, yang menyelenggarakan acara di Brussels bersama organisasi hak asasi manusia 11.11.11.
Acara Eurovision tahun lalu di Malmo dan Basel juga menghadapi demonstrasi pro-Palestina besar-besaran. Para pengunjuk rasa menuntut agar Israel dikeluarkan dari kontes dan menuduh pemerintah Israel melanggar aturan pemungutan suara Eurovision dengan memobilisasi dukungan untuk kontestannya.
Sementara itu, stasiun penyiaran publik Spanyol berencana menayangkan program alternatif pada Sabtu malam, alih-alih berfokus sepenuhnya pada liputan Eurovision. Program khusus yang berjudul “La Casa de la Música” ini akan merayakan warisan musik Spanyol dan menampilkan artis veteran bersama dengan para penampil pendatang baru, termasuk para pemenang Benidorm Fest yang biasanya tampil di Eurovision.
Murad mengatakan konser alternatif ini bertujuan untuk menantang arah Eurovision dan memaksa penyelenggara untuk mempertimbangkan kembali nilai-nilai kontes tersebut.
“Banyak orang di dunia merasa bahwa kompetisi ini telah kehilangan maknanya,” katanya.*




