Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Boikot Eurovision, Musisi dan Aktivis Gelar Konser Tandingan ‘United for Palestine’

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 14 Mei 2026 16:14 4:14 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 14 Mei 2026 16:20
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com – Aksi protes terhadap Israel semakin beragam dan kreatif. Terbaru para musisi dan aktivis pendukung Palestina menggelar konser alternatif dari Kontes Lagu Eurovison berjudul “United for Palestine.”

Di dalam sebuah gedung konser bersejarah di Brussels pada Selasa malam, penyanyi-penulis lagu Palestina Bashar Murad membawakan lagu klasik Nina Simone “I Wish I Knew How It Would Feel to Be Free” dengan penuh emosi dalam bahasa Inggris dan Arab. Penonton bertepuk tangan meriah setelah penampilan tersebut, yang menjadi salah satu momen penting dari konser “United for Palestine”.

Acara tersebut merupakan bagian dari gerakan protes yang lebih luas terhadap Eurovision, yang merayakan ulang tahun ke-70 tahun ini dengan slogan “United by Music”. Para kritikus mengatakan slogan tersebut bertentangan dengan genosida Israel yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina.

Lima negara (Spanyol, Irlandia, Belanda, Slovenia, dan Islandia) memboikot kontes tahun ini karena partisipasi Israel. Sementara itu, para penampil dari 35 negara lain terus berkompetisi dalam acara musik tahunan Eropa yang tahun ini diselenggarakan di Wina di tengah jumlah penonton yang sangat rendah.

Konser dan siaran alternatif telah menyebar di beberapa kota Eropa minggu ini. Penyelenggara di Belgia mengatakan acara solidaritas serupa juga berlangsung di Austria, Jerman, Italia, Slovenia, dan Spanyol.

Baca Juga

MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas
Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober
Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman
Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan

Murad mengatakan gerakan yang berkembang ini bertujuan untuk menekan penyelenggara Eurovision agar kembali ke pesan asli kompetisi tentang persatuan dan inklusi.

“Selalu luar biasa berada di ruangan yang sama dengan orang-orang yang percaya pada hal yang sama dengan Anda dan orang-orang yang percaya bahwa kita tidak bisa membiarkan pertunjukan ini terus berlanjut,” kata Murad.

Murad hampir mewakili Islandia di Eurovision pada tahun 2024. Keluarganya juga memiliki hubungan yang panjang dengan musik dan aktivisme budaya Palestina. Ayahnya membantu mendirikan grup musik Palestina yang berpengaruh, Sabreen. Pada tahun 2007, orang tuanya mengajukan petisi kepada European Broadcasting Union yang berbasis di Jenewa untuk mengizinkan Palestina berpartisipasi dalam Eurovision, namun tidak berhasil.

Israel bergabung dengan Eurovision pada tahun 1973 dan telah memenangkan kontes tersebut empat kali. Investigasi terbaru oleh New York Times mengungkapkan bagaimana Israel menggunakan kontes tersebut sebagai alat kekuatan lunak untuk menutupi kejahatannya dan memajukan narasi mereka.

Organisasi hak asasi manusia terus menekan penyelenggara Eurovision. Agnès Callamard, sekretaris jenderal Amnesty International, mengatakan Eurovision harus mengeluarkan Israel dari kompetisi, sama seperti yang dilakukan terhadap Rusia setelah invasi ke Ukraina pada tahun 2022.

“Lagu dan gemerlap tidak boleh dibiarkan menenggelamkan atau mengalihkan perhatian dari kekejaman Israel atau penderitaan Palestina,” kata Callamard.

Kemarahan publik atas genosida telah memicu demonstrasi besar-besaran di seluruh Eropa dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa politisi Uni Eropa juga telah membahas kemungkinan sanksi terhadap Israel.

“Kita harus menciptakan alternatif karena partisipasi Israel bermasalah,” kata Katrien De Ruysscher, pendiri kelompok aktivis SOS Gaza, yang menyelenggarakan acara di Brussels bersama organisasi hak asasi manusia 11.11.11.

Acara Eurovision tahun lalu di Malmo dan Basel juga menghadapi demonstrasi pro-Palestina besar-besaran. Para pengunjuk rasa menuntut agar Israel dikeluarkan dari kontes dan menuduh pemerintah Israel melanggar aturan pemungutan suara Eurovision dengan memobilisasi dukungan untuk kontestannya.

Sementara itu, stasiun penyiaran publik Spanyol berencana menayangkan program alternatif pada Sabtu malam, alih-alih berfokus sepenuhnya pada liputan Eurovision. Program khusus yang berjudul “La Casa de la Música” ini akan merayakan warisan musik Spanyol dan menampilkan artis veteran bersama dengan para penampil pendatang baru, termasuk para pemenang Benidorm Fest yang biasanya tampil di Eurovision.

Murad mengatakan konser alternatif ini bertujuan untuk menantang arah Eurovision dan memaksa penyelenggara untuk mempertimbangkan kembali nilai-nilai kontes tersebut.

“Banyak orang di dunia merasa bahwa kompetisi ini telah kehilangan maknanya,” katanya.*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:EurovisionKonserpalestinasolidaritas palestinaUni Eropa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan
Tulisan selanjutnya BTS dan Madonna Isi Panggung Jeda Final Piala Dunia 2026

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Mossad
Berita

Turki Tangkap 209 Orang di Ankara Jelang KTT NATO

Berita
23 Juni 2026 21:41
Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober
Trump Sebut Dana Iran yang Dibebaskan Akan Dipakai Beli Produk AS
Ledakan di Fasilitas Gas Terbesar Qatar Merenggut 13 Nyawa
Italia Geram Sekjen NATO Ungkap Perannya Bantu Amerika dalam Perang Iran

Terbaru

  • MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas
  • Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober
  • Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
  • Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman
  • Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
  • Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
  • Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan
  • Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya
  • Italia Geram Sekjen NATO Ungkap Perannya Bantu Amerika dalam Perang Iran
  • Seorang Pemimpin ISIS Terbunuh Dalam Serangan Amerika di Suriah

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya

25 Juni 2026 13:06
Berita

Seorang Pemimpin ISIS Terbunuh Dalam Serangan Amerika di Suriah

25 Juni 2026 11:39
Berita

‘Israel’ Gelontorkan Dana untuk Ubah Situs Arkeologi Palestina Jadi Situs Yahudi

24 Juni 2026 17:00
Berita

Prancis dan Jerman Sepakat Kelola Bersama Perusahaan Senjata KNDS

23 Juni 2026 00:02
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?