Hidayatullah.com— Pendidikan dalam Islam bukanlah sekadar proses penumpukan informasi atau penguasaan ilmu teknis semata, melainkan memiliki tujuan puncak pada pembentukan adab. Tanpa adab, kemajuan sains dan keahlian intelektual justru berisiko memicu krisis moral serta kehancuran peradaban manusia.
“Problemnya itu kalau kita bicara masalah ilmu terlalu tinggi, akhirnya kita tidak bisa mengamalkannya. Padahal, sebenarnya tanggung jawab kita itu adalah tanggung jawab membiasakan anak sejak dini,” ujar Rektor UNIDA Gontor, Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Ed., dalam paparan di acara INSISTS CAMP 2026 di Cisarua, Bogor, Sabtu (25/7/2026).
Dalam pemaparannya, penulis buku Misykat: Refleksi Peradaban Islam di Tengah Hegemony Barat tersebut menekankan bahwa rekonstruksi peradaban Islam harus dimulai dari pembentukan manusia beradab (insan adaby), dan institusi terkecil yang paling menentukan keberhasilannya adalah keluarga.
Hakikat Adab, Integrasi Ilmu-Iman-Amal
Merujuk khazanah pemikiran Islam, pendiri sekaligus Direktur Utama INSISTS tersebut menguraikan bahwa adab melampaui sekadar tata krama lahiriah. Imam Al-Ghazali mendefinisikan adab sebagai pendidikan lahir dan batin yang menyatukan empat pilar utama: perkataan, perbuatan, keyakinan, dan niat.
Sementara Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas merumuskannya sebagai pengakuan terhadap posisi yang tepat bagi segala sesuatu dalam tatanan wujud, yang terefleksikan melalui sinergi antara ilmu, iman, dan amal.
Ketua Umum MIUMI tersebut mengkritik fenomena pendidikan modern yang kerap memisahkan dimensi hafalan dari pengamalan nyata. Mengutip tradisi sahabat Nabi di Ashabus-Suffah, ia menjelaskan para sahabat tidak berpindah membaca sepuluh ayat Al-Qur’an sebelum mempelajari ilmu dan pengamalannya secara bersamaan.
Hal tersebut sejalan dengan penegasan Sheikhul-Azhar yang mengingatkan agar penghafal Al-Qur’an tidak berhenti pada hafalan lafaz semata, melainkan mengaitkannya dengan penguasaan berbagai disiplin ilmu.
Sinergi ilmu dan amal ini menurutnya harus diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari, sebagaimana pengalaman pribadinya saat kecil yang dibiasakan menyapu rumah, mengepel lantai, hingga menanam pohon kelapa atas arahan orang tua.
Dalam kehidupan sehari-hari, adab mencakup lima tataran hubungan hamba:
Pertama. Adab kepada Allah: Diwujudkan melalui keikhlasan, rasa syukur, bersabar atas takdir, serta melazimkan istighfar yang membukakan jalan keluar dan rezeki dari arah tak terduga.
Kedua. Adab kepada Diri Sendiri: Menjaga kesehatan fisik dan rohani, termasuk berhenti makan sebelum kenyang serta tidur lebih awal setelah Isya agar tubuh dapat melakukan detoksifikasi biologis dan mempermudah bangun shalat tahajud.
Ketiaga, Adab kepada Guru: Menghormati guru dan menjaga kebersihan hati, sebab ilmu merupakan cahaya spiritual yang tidak masuk ke jiwa yang sombong atau penuh kebencian.
Keempat, Adab kepada Orang Tua: Menjauhi sikap durhaka dan menyadari kesuksesan anak merupakan buah pengorbanan serta doa orang tua. Ia mencontohkan perbedaan anak yang dibiasakan mencium tangan dan meminta izin orang tua saat keluar rumah dengan yang tidak terbiasa.
Kelima, Adab kepada Masyarakat: Menjaga kejujuran, menepati janji, menghormati sesama, serta membudayakan sifat dermawan.
Pengendalian Hati dan Lisan
Pengendalian lisan dan hati merupakan cermin dari cabang keimanan (syu’abul iman). Putra pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor K.H. Imam Zarkasyi tersebut menyoroti maraknya kejahatan verbal, hujatan netizen, hingga aksi perundungan (bullying) di lembaga pendidikan yang berakar dari kegagalan mengendalikan emosi dan tutur kata.
Pakar pemikiran Islam ini memberikan distingsi penting antara amarah nafsu yang tercela (ghadhab) dan cemburu membela kehormatan agama (ghirah). Ghadhab adalah emosi liar yang dipicu urusan sepele atau egoisme duniawi, seperti emosi saat terserempet kendaraan di jalan hingga menganiaya orang lain.
Rasulullah melarang sikap ghadab melalui sabdanya, “Jangan marah, maka bagimu surga”. Sebaliknya, ghirah adalah ketegasan iman yang lahir secara syari ketika kehormatan agama, Al-Qur’an, Nabi, atau keluarga dilecehkan.
Di samping itu, penanaman rasa malu (al-haya’) sejak dini dinilai amat krusial guna membentengi anak dari perbuatan keji dan mentalitas meminta-minta.
Peran Keluarga dalam Melahirkan Generasi Beradab
Pembangunan peradaban yang beradab wajib dimulai dari institusi keluarga melalui penanaman nilai (a priori knowledge) dan pendidikan informal.
Penulis buku Minhaj: Berpikir Islam tersebut mempertemukan temuan ilmiah Barat dengan metodologi pendidikan Islam. Studi komprehensif selama 75 tahun di Harvard University membuktikan bahwa anak-anak yang sejak kecil terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga—seperti merapikan tempat tidur, menyapu, mengepel, dan mencuci piring—tumbuh menjadi pribadi yang lebih sukses, mandiri, beretos kerja tinggi, dan berdaya tahan mental.
Atas dasar temuan tersebut, Direktur Utama INSISTS ini menekankan jika kebiasaan fisik di rumah mampu membentuk karakter kesuksesan duniawi, maka anak yang dibiasakan menjalankan amal shalih, membaca Al-Qur’an, shalat lima waktu sejak usia tujuh tahun, serta berkhidmat kepada orang tua dipastikan tumbuh menjadi pribadi yang taat beragama, berakhlak mulia, dan sukses secara holistik.
Kritik Kerusakan Barat Modern
Pada bagian utama kajiannya, akademisi lulusan ISTAC Malaysia tersebut menegaskan adab merupakan fondasi utama yang membedakan peradaban Islam dari peradaban Barat modern yang sekuler, postmodernis, dan memisahkan agama dari ranah publik.
Berdasarkan pengalaman empiris saat menempuh studi magister di University of Birmingham Inggris serta pengamatannya terhadap dinamika masyarakat Barat, ia membeberkan contoh konkret dekadensi moral akibat absennya adab:
Hukum HAM Tanpa Adab: Penerapan konsep HAM sekuler kerap memutarbalikkan rasa keadilan. Tokoh penguat gerakan Islamic Worldview ini mencontohkan kasus di Indonesia yang terpengaruh norma HAM Barat, di mana seorang narapidana pembunuhan berantai terhadap 11 orang tidak kunjung dieksekusi mati, bahkan di dalam penjara masih diizinkan menikah. Hal ini menunjukkan bagaimana HAM yang terlepas dari adab syariat justru mengabaikan keadilan bagi korban.
Kerusakan Lembaga Keluarga: Bebasnya aturan moral di Barat memicu kehancuran struktur keluarga dan maraknya perselingkuhan, seperti skandal hubungan terlarang suami dengan adik ipar.
Ia mengisahkan pengalaman nyata saat berada di Manchester, Inggris, ketika seorang ibu Kristen memohon agar anaknya diperbolehkan bersekolah di madrasah-masjid milik komunitas Muslim karena trauma mendengar anak-anak sekuler menceritakan kebiasaan buruk orang tuanya: “My mom slept with her boyfriend last night” (Ibuku tidur bareng pacarnya tadi malam).
Keterasingan Orang Tua: Cendekiawan Muslim tersebut menceritakan pengalaman pribadinya selama dua tahun tinggal di Inggris saat menyaksikan tetangga lansia di atas 70 tahun yang hidup sebatang kara.
Saat ditanya keberadaan anaknya, lansia tersebut menjawab tidak tahu, dan saat Natal pun anak tersebut hanya menelepon. Kondisi ini dibandingkan secara tajam dengan ajaran Islam yang memuliakan orang tua dan mendoakan mereka hingga dipertemukan kembali di surga.
Feminisme Radikal: Pakar pemikiran Islam ini membeberkan bahwa gerakan feminisme radikal yang bersumber dari postmodernisme menuntut kesetaraan mutlak antara suami dan istri yang justru merusak institusi keluarga.
Kerusakan struktur ini makin parah ketika terjadi perceraian dengan banyak anak, di mana konsep kesetaraan membuat suami enggan bertanggung jawab menafkahi anak. Bahkan protes feminis merambah hingga menuntut dekonstruksi ibadah, seperti mengadakan shalat Jumat dengan imam perempuan berpakaian mukena. Padahal, posisi shalat perempuan di belakang laki-laki merupakan bentuk proteksi fitrah.
Kebebasan Tanpa Kehormatan: Pemimpin Redaksi Jurnal Islamiah ini membandingkan konsep kebebasan sekuler dengan proteksi Islam melalui argumen seorang wartawan Barat yang ia kutip pernyataannya terkait perbandingan antara kebebasan berpendapat di Eropa (saat kasus kartun Nabi) dengan kebebasan berpakaian (rok mini) serta resiko pemerkosaan.
“Yang menghina Nabi Anda itu kebebasan, sama seperti seorang wanita masuk memakai rok mini. Jangan menyalahkan kami kalau Anda diperkosa.”
Rektor UNIDA Gontor ini lantas menceritakan pengalamannya berdialog dengan warga Amerika yang berkunjung ke Gontor. Saat ditanya alasan kewajiban jilbab yang dianggap mengekang, ia menjelaskan jilbab hadir melindungi wanita dari godaan laki-laki.
Ia kemudian menyampaikan argumen kepadanya hingga mereka menangis dan menyadari kebenaran Islam. “Di Barat Anda merasa bebas tetapi tidak terhormat. Di dalam Islam, Anda dibatasi dengan batasan-batasan syariat supaya terhormat,” tegas pimpinan INSISTS tersebut.
Gagasan tersebut disampaikan dalam agenda tahunan INSISTS Camp 2026 Batch 3 bertema “Bina Ketahanan Keluarga untuk Generasi Berdaya” di Aula Villa Robinson Cisarua Resort, Bogor, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta tersebut berlangsung selama tiga hari dan diikuti 84 peserta dari berbagai daerah. Selain Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A., M.Ed., hadir pula jajaran pakar pemikiran Islam lain sebagai pembicara, antara lain Prof. Dr. Syamsuddin Arif, Assoc. Prof. Dr. Ugi Suharto, Dr. Nirwan Syafrin Manurung, Dr. Henri Shalahuddin, Dr. Wido Supraha, Dr. Akmal Sjafril, serta Arif Afandi Zarkasyi, M.A. *




