Hidayatullah.com – Kebrutalan entitas Zionis ‘Israel’ di Timur Tengah terus bertambah di tengah meluasnya agresi mereka ke luar Jalur Gaza.
Selama tiga tahun hingga kini, serangan Zionis di Lebanon telah menewaskan hampir 800 anak-anak dan menyebabkan 360 ribu orang terusir dari rumah mereka, menurut kelompok hak asasi manusia (HAM) anak dan pejabat setempat pada Senin (07/09/2026).
Dalam 24 jam terakhir saja, dua anak-anak tewas dan empat lainnya terluka dalam serangan udara Zionis yang menghantam pemukiman di kota Kfar Rumman, Nabatieh, Lebanon.
Sementara tiga anak lainnya terluka akibat serangan serupa di kota Arabsalim.
Serangan ‘Israel’ tidak berhenti meski ada kesepakatan antara Beirut dan Tel Aviv yang dimediasi AS pada 26 Juni. Kesepakatan itu mengatur penarikan pasukan ‘Israel’ secara bertahap dari wilayah Lebanon, digantikan dengan pengerahan tentara Lebanon.
Presiden Lebanon, Josep Aoun, pada Ahad mengecam serangan-serangan ‘Israel’ itu. Menurutnya, serangan tersebut merupakan “eskalasi berbahaya yang melampaui pelanggaran berulang terhadap kesepakatan penghentian permusuhan maupun kesepakatan itu sendiri.”
Ia mendesak ‘Israel’ harus bertanggung jawab penuh atas eskalasi ini. Aoun juga meminta AS dan masyarakat internasional untuk menghentikan pelanggaran-pelanggaran Zionis.
Anak alami luka fisik dan psikologis
Kepala Komite Permepuan dan Anak di parlemen Lebanon, Inaya Ezzeddine, mengatakan bahwa “hampir 800 anak tewas selama dua perang Israel pada tahun 2024 dan 2026.”
“Banyak anak mengalami luka parah dan menjalani berbagai operasi, sementara sebagian lainnya kehilangan anggota tubuh atau mata,” ujar Ezzeddine pada Sabtu, lansir Anadolu.
Selain luka fisik, serangan Zionis ‘Israel’ juga menyebabkan luka psikologis dan emosional yang membutuhkan perawatan bertahun-tahun untuk dapat sembuh, imbuh Ezzeddine.
Ezzeddine menyebutkan bahwa sekitar 360.000 anak mengungsi akibat perang ‘Israel’ tersebut, dari total sekitar 1,2 juta orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Banyak anak mengungsi lebih dari satu kali setelah lokasi tempat mereka berlindung turut diserang, ungkapnya.
“Beberapa anak menjadi sasaran serangan bersama keluarga mereka saat berada di jalur pengungsian atau ketika dipaksa meninggalkan rumah,” tambah anggota parlemen tersebut.
Ratusan ribu anak membutuhkan rencana jangka panjang untuk perawatan psikologis serta dukungan emosional dan sosial guna membantu mereka mengatasi rasa kehilangan, ketakutan kronis, dan rasa tidak aman yang terus-menerus, jelasnya.*




