Hidayatullah.com – Buku Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin resmi diluncurkan di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026) malam. Karya yang ditulis Hj. Siti Haniatunnisa bersama H. Muhammad Zainal Arifin tersebut mendokumentasikan pandangan KH Ma’ruf Amin mengenai arah gerak Nahdlatul Ulama (NU) dalam memasuki abad keduanya.
Peluncuran buku dihadiri Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, serta sejumlah tokoh nasional dan ulama.
Dalam sambutannya, Siti Haniatunnisa mengungkapkan bahwa proses penyusunan buku berawal dari dialog panjang bersama KH Ma’ruf Amin. Dari perbincangan itu, ia menangkap kegelisahan sekaligus harapan besar mantan Wakil Presiden RI tersebut terhadap masa depan NU.
“Saat kami berdialog dengan KH Ma’ruf Amin, yang kami rasakan bukan hanya penjelasan mengenai sejarah NU, tetapi juga kegelisahan dan harapan beliau terhadap masa depan organisasi ini,” ujarnya.
Ia menuturkan, salah satu pertanyaan yang diajukan kepada KH Ma’ruf adalah bagaimana NU harus menghadapi abad keduanya. Menurutnya, KH Ma’ruf menjawab dengan mengajak seluruh warga NU merenungkan pertanyaan mendasar, Fa-aina tadzhabūn? (Maka ke manakah kamu akan pergi?).
Bagi KH Ma’ruf, kata Siti Hani, NU tidak boleh kehilangan arah ataupun memutus mata rantai perjuangan para muassis (pendiri). Organisasi harus tetap berpijak pada nilai-nilai dasar yang telah diwariskan para ulama.
“Beliau berharap warga NU tidak hanya mewarisi organisasi, tetapi juga mewarisi cara berpikir para ulama, mewarisi manhaj para ulama, dan mewarisi ruh khidmat para muassis,” katanya.
Buku setebal lebih dari 600 halaman itu disusun dalam lima bab yang mengulas secara sistematis konsep fikrah (cara berpikir), manhaj (metode), dan harakah (gerakan) Nahdhiyyah. Pada bagian akhir, pembaca diajak memahami pentingnya menjalankan organisasi secara ‘alā baṣhīrah, yakni berlandaskan pemahaman yang mendalam, argumentasi yang kuat, dan pijakan keilmuan yang kokoh.
Siti Hani menegaskan, buku tersebut bukan dimaksudkan untuk menghadirkan wajah baru bagi NU. Sebaliknya, karya itu merupakan upaya mendokumentasikan pemikiran KH Ma’ruf Amin agar dapat menjadi referensi bagi generasi penerus dalam menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan tradisi keilmuan dan nilai-nilai perjuangan NU.
Peluncuran buku ini dinilai memiliki momentum penting karena berlangsung menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026.
Selain Gus Yahya dan Menteri Agama, acara tersebut juga dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Prof. Kamaruddin Amin, Wakil Ketua Baznas RI KH Zainut Tauhid Sa’adi, Ketua MUI Bidang Fatwa Prof. KH Asrorun Niam Sholeh, Ketua Kopnus Syariah Abdul Kholid Soleh, Wasekjen MUI Bidang Dakwah KH Arif Fahruddin, serta Wasekjen MUI Bidang Infokomdigi Dr. Asrori S. Karni.




