Hidayatullah.com – Militer penjajah ‘Israel’ mengklaim mengalami “kekurangan” personel dan peralatan akut setelah perang genosida selama tiga tahun dengan perlawanan Palestina, kelompok bersenjata Yaman dan Iran.
“Akibat kekurangan akut jumlah tentara di militer Israel, mereka bersiap untuk melanggar hak-hak dasar para tentara dan meniadakan cuti mereka,” bunyi laporan surat kabar Ibrani Maariv pada Jumat (18/09/2026).
Selain melaporkan kekurangan tersebut, Maariv juga melaporkan pemberhentian seorang pejabat tinggi, yang merupakan perwira intelijen Divisi Gaza pada Oktober 2023, karena bertanggung jawab karena gagal mengantisipasi Operasi Thufan Al-Aqsha.
“Militer Israel tidak memiliki cukup tank dan kendaraan angkut personel lapis baja,” imbuh Maariv. Dilaporkan juga perang telah mengakibatkan kendaraan-kendaraan tersebut aus dan ratusan di antaranya mengalami kerusakan.
“Demi alasan politik, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dapat memangkas anggaran militer Israel dan sibuk dengan berbagai keluhan, sementara pihak oposisi justru sibuk dengan pertikaian internal layaknya anak-anak yang bertindak gegabah,” tulis surat kabar itu.
Sementara pada Selasa pekan lalu, Channel 12 Israel melaporkan militer Zionis batal membeli 12 helikopter Apache dari Boeing akibat kurangnya anggaran.
Channel 12 menyebutkan bahwa militer telah memperingatkan bahwa jika tambahan dana yang diminta tidak segera cair, upaya untuk mengaktifkan kembali tank dan kendaraan angkut personel lapis baja yang rusak selama perang akan terhenti, sementara sejumlah lini produksi amunisi juga akan terdampak.
Zionis ‘Israel’ kembali mengobarkan perang di Timur Tengah setelah operasi perlawanan Thufan Al-Aqsha pada Oktober 2023. Penjajah mengerahkan seluruh persenjataan canggihnya untuk melawan kelompok perlawanan Palestina dan membantai warga sipil sembari memblokade Jalur Gaza.
‘Israel’ juga terlibat konflik bersenjata dengan Lebanon dan Iran, sembari terus melancarkan serangan di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Suriah.
Konflik-konflik tersebut telah menimbulkan dampak besar, baik dari segi korban jiwa maupun biaya finansial, bagi militer ‘Israel’, di tengah ketatnya sensor informasi oleh otoritas ‘Israel’ terkait kerugian yang mereka alami.*




