Hidayatullah.com – Menjawab kebutuhan dai muda yang mampu hadir di tengah dinamika masyarakat perkotaan, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta meluncurkan Madrasah Muballigh Muda Hidayatullah (M3H) di Pondok Pesantren Marhamah Hidayatullah, Jakarta Timur.
Program ini menjadi bagian dari ikhtiar Hidayatullah DKI Jakarta dalam menyiapkan generasi dai yang memiliki kapasitas keilmuan, kemampuan komunikasi, serta kesiapan mental dan akhlak untuk hadir dan berkhidmat di tengah masyarakat.
Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Suhardi Sukiman mengatakan kebutuhan terhadap dai muda yang memiliki kapasitas sekaligus kesiapan berdakwah di tengah masyarakat ibu kota semakin penting.
“Dakwah membutuhkan kader-kader muda yang siap hadir dan berkhidmat di tengah umat. Melalui Madrasah Muballigh Muda ini, kita ingin memberikan bekal agar mereka tidak hanya mampu menyampaikan pesan dakwah, tetapi juga bisa memahami kebutuhan masyarakat,” ujar Suhardi di bilangan Cipinang Cempedak, Markas DPW Hidayatullah Jakarta, Sabtu (19/09/2026).
Menurut alumnus Pascasarjana Universitas PTIQ ini, M3H tidak hanya memberikan pembekalan materi dakwah, tetapi juga mengasah kemampuan peserta dalam menyampaikan pesan-pesan Islam secara komunikatif dan relevan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Hadir sebagai narasumber, Ustadz Abdul Ghofar Hadi. Dalam paparannya, Ia menekankan pentingnya seorang dai terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat.
Ketua DPP Hidayatullah Bidang Perkaderan & Pembinaan Anggota ini menyebut kemampuan membaca sebagai salah satu fondasi penting bagi seorang dai. Menurutnya, luasnya wawasan akan membantu dai memahami persoalan masyarakat dan memberikan pencerahan yang lebih relevan.
“Dai itu harus kuat membaca. Banyaklah membaca buku, supaya wawasan kita semakin luas. Jadi ketika kita hadir di masjid dan di tengah umat, kita tidak hanya menyampaikan ceramah, tetapi juga bisa memberikan solusi dan pencerahan,” jelasnya.
Ust Ghofar sapaan akrabnya, mengatakan persoalan masyarakat semakin beragam. Karena itu, dai membutuhkan wawasan yang memadai agar dakwah tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi mampu menyentuh kebutuhan nyata umat.
Selain wawasan, Ustadz Ghofar menekankan pentingnya kesiapan mental dan keikhlasan dalam menjalankan tugas dakwah. “Jalan dakwah itu tidak ringan. Ada banyak tantangan dan ujian yang harus dihadapi. Para nabi juga mengalami hal yang sama ketika menyampaikan risalah Islam. Karena itu, seorang dai harus menyiapkan mental dan menjaga keikhlasannya,” ungkapnya.
Menurutnya, keteguhan mental dan keikhlasan merupakan bekal penting agar dai tetap istiqamah dalam menjalankan tugas, termasuk ketika menghadapi berbagai tantangan di tengah masyarakat.
Ghofar juga berpesan agar para dai muda menghadirkan dakwah yang menyejukkan serta memperkuat persaudaraan umat. “Jadilah dai yang menyejukkan. Jangan sampai dakwah justru membuat umat terpecah karena persoalan-persoalan yang remeh atau hal-hal yang bukan prinsip dalam Islam,” pesannya.
Ia mengingatkan bahwa dai perlu memiliki kebijaksanaan dalam menentukan materi maupun cara menyampaikan dakwah. Pesan yang disampaikan hendaknya membantu masyarakat memahami ajaran Islam sekaligus menjaga ukhuwah di tengah kehidupan sosial.
Pesan lainnya adalah pentingnya menjaga akhlak dan adab ketika seorang dai berada di tengah umat. “Dai itu bukan hanya didengar, tetapi juga dilihat dan diperhatikan. Karena itu, akhlak dan adab harus dijaga. Perilaku, ucapan, bahkan penampilan kita ikut menentukan bagaimana pesan dakwah itu diterima oleh masyarakat,” kata AGH, yang juga Ketua DPP Hidayatullah Bidang Rekrutmen dan Pembinaan Anggota.
Menurutnya, seorang dai memiliki posisi sebagai teladan bagi masyarakat. Karena itu, keteladanan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas dakwah. “Kita punya role model dalam diri Rasulullah. Maka yang kita tampilkan kepada umat bukan hanya apa yang kita ucapkan, tetapi juga bagaimana kita bersikap dan berperilaku,” tegas Ust Ghofar.
Kegiatan Madrasah Muballigh Muda Hidayatullah (M3H) tersebut diikuti peserta dari lima wilayah di Jakarta, yakni Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara.*




