Hidayatullah.com—Bertempat di Aula nstitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Jl. Kalibata Utara II No.84, Jakarta Selatan #IndonesiaTanpaJIL kembali melaksanakan agenda rutin kuliah Sekolah Pemikiran Islam (SPI).
Acara yang digelar hari Kamis, 27 November 2014, merupakan pertemuan terakhir dari dua belas pertemuan dalam program kuliah SPI. Kuliah yang dimulai sejak pukul 18.30 WIB ini membahas tema “The Golden Age of Islam”. Akmal Sjafril, M.Pd.I, kembali dihadirkan sebagai narasumber.
“Peradaban Islam mewariskan tradisi ilmu. Islam telah mengangkat harkat dan martabat masyarakat jazirah Arab yang tadinya terisolir dan sibuk dengan dirinya sendiri. Islam jugalah yang telah menghapuskan kejahiliahan dan menggantinya dengan kecintaan terhadap ilmu. Peradaban Islam telah melahirkan tradisi ilmu di kalangan masyarakat Arab,” ujar Akmal di awal perkuliahan.
Lebih lanjut, ayah satu orang anak ini juga menjelaskan bahwa setelah Islam datang, Arab menjadi bangsa yang dominan, bahkan dapat menaklukan Persia hingga ke Eropa. Ekspansi wilayah Islam tidak pernah berhenti, seiring dengan penggalian ilmu yang terus berjalan.
“Al-Qur’an dulunya adalah satu-satunya bacaan ilmiah bagi masyarakat arab yang tidak ada habis-habisnya dibahas. Setiap ayat bisa ditelaah dari berbagai segi, dan setiap penelaahannya menambah wawasan bagi pemahaman manusia. Al-Qur’an praktis telah ‘mengakhiri’ era jahiliyyah di Arab,” ungkapnya.
“Dengan berbekal aqidah yang lurus, muslim sejak dulu sudah memisahkan antara astronomi dan astrologi. Ada tokoh seperti Maryam al-Ijliya yang di usia masih sangat belia mampu membuat astrolabe, yaitu alat untuk menghitung posisi bintang. Jabir ibn Hayyan membuat tinta yang terlihat dalam gelap, bahkan pada tahun 953, al-Mu’izz telah menciptakan pena.
Masih banyak ilmuwan Muslim yang penemuan-penemuannya sangat berpengaruh pada kehidupan manusia hingga kini,” ujar pengarang buku”Islam Liberal 101” ini.
“Tidak hanya sampai di situ, Islam juga telah mengubah gaya hidup masyarakat dunia. Peradaban Islam telah melakukan revolusi kuliner, terutama sekali di Barat. Sebelumnya, kaum bangsawan di Barat tidak mengkonsumsi makanan yang sama dengan rakyat jelata. Islam, yang selalu memegang teguh sikap egaliter, tidak memiliki keberatan membagi resep kerajaan kepada rakyatnya. Sejak saat itulah buku-buku resep masakan semakin menjamur,” ujarnya.
Akmal pun menjelaskan bahwa tradisi ilmu Islam yang sesungguhnya berbasis pada tauhid. Oleh karena itu, mereka yang sungguh-sungguh mengamalkan tauhid niscaya mencintai ilmu.
“Dari tauhid itulah kita berpijak dan menjelaskan hakikat hidup manusia yang sesungguhnya. Muslim mencintai ilmu atau ‘ilm karena jiwanya ingin mengenal Allah atau Al-‘Aliim. Peradaban berbasis ilmu inilah yang mampu berjaya dan memberikan pencerahan kepada dunia. Saat Islam mencerahkan dunia, Barat ikut mendapatkan keuntungan. Tidak ada yang terzalimi oleh Islam,” ungkap Akmal.
“Jadi kalau ada ilmu dari Barat atau dari mana pun yang baik-baik, ambil saja, jangan ragu! Dulu yang mengajar dan memberikan pencerahan kepada Barat itu adalah kita, orang Islam. Yang penting, kita mampu menyaring hal-hal yang boleh ditiru dan yang tidak. Tidak semuanya boleh ditelan bulat-bulat, tidak semuanya pula harus ditolak mentah-mentah,” pungkas Akmal di akhir perkuliahan.
“Alhamdulillah, kuliah terakhir ini ditutup dengan materi yang membuat saya sebagai muslim semakin bangga. Peradaban Islam-lah yang lebih dulu mengenalkan sikap hidup elegan, haus akan ilmu, melahirkan banyak pemikir dan penemu di setiap aspek kehidupan kita. Islam pernah memimpin peradaban dunia, namun bila peradaban Islam sekarang mengalami kemunduran, bukan salah Islam-nya, tapi salah kita sebagai muslim yang sudah tergerus arus peradaban Barat yang memprihatinkan. Pilihan kita sekarang adalah berusaha kembali memimpin peradaban dengan jalan Islam yang lurus,” demikian komentar Anila Gusfani, peserta SPI yang berasal dari ITJ Chapter Jakarta.*/kiriman Refvhyta G. Respatih