Hidayatullah.com–Ilmu pengetahuan modern tidak memberikan kedamaian dan kebahagiaan, tetapi justru membawa kekacauan dan ketidakadilan dalam kehidupan umat manusia.
Demikian salah satu yang disampaikan Dr Syamsuddin Arif menyampaikan materi dalam seminar bertajuk “Islamic Thought and Movements in the Contemporary Indonesia” yang dihelat di Ratu Convention Centre (RCC) Kota Jambi Jumat, 20 November 2015.
Dalam acara yang diselenggarakan Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Thaha Saifuddin Jambi ini, Syamsuddin menyampaikan tema: “Islamisasi Ilmu di Perguruan Tinggi; Konsep dan Agenda” satu materi yang sangat penting dan masih sangat relevan dengan problem Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) di Indonesia saat ini.
Meski tema ini jarang terdengar sebelumnya dan terkesan cukup berat bagi sebagian peserta seminar, Syamsuddin yang juga merupakan salah satu tenaga pendidik di Centre for Advanced Studies on Islām, Sciens, and Civilization (CASIS) UTM Kuala Lumpur itu menyampaikan materi dengan sangat jelas dan sistematis sehingga mudah difahami oleh peserta seminar. Materi mampu disajikannya secara renyah dan bernas.
Dr. Syamsuddin Arif menguraikan lima alasan kenapa islamisasi ilmu itu perlu dan penting dilakukan.
Pertama, ilmu yang di pelajari dan diajarkan hari ini di seluruh dunia- termasuk di negara-negara Islam- adalah ilmu yang dihasilkan dari peradaban Barat, yaitu ilmu yang telah menyimpangdari tujuan hakikinya.
Sebab ilmu pengetahuan modern tidak memberikan kedamaian dan kebahagiaan, tetapi justru membawa kekacauan dan ketidakadilan dalam kehidupan umat manusia.
Kedua, ilmu pengetahuan modern justru membuahkan keragu-raguan dan kekeliruan, skeptisisme dan confusion.
Ketiga, ilmu pengetahuan modern kini telah menjadikan dugaan dan perkiraan sebagai ilmu dan kebenaran.
Keempat, ilmu pengetahuan itu sebenarnya tidak bebas nilai alias tidak netral, karena hakikatnya mencerminkan suatu pandangan hidup, ideologi, atau akidah penggiatnya.
Kelima, ilmu yang disajikan oleh peradaban Barat sekarang ini telah mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil, dilebur secara halus sehingga sulit untuk mengenali lagi mana yang benar dan mana yang palsu.
Pentingnya islamisasi ilmu pengetahuan yang disampaikan Syamsuddin Arif di hadapan 250 peserta seminar yang terdiri dari mahasiswa program magister (S2) dan doktor (S3) pascasarjana IAIN STS Jambi itu juga menyinggung tentang posisi umat Islam yang saat ini sedang dilema.
Mengutip pendapat Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas ia menjelaskan posisi umat Islam yang serba salah. Jika mau ikut Barat hancur, tidak ikut Barat mundur babak-belur.
Dilema yang dirasakan hari ini disebabkan oleh tiga hal. Pertama, karena kekeliruan dan kesalahfahaman mengenai ilmu, yang akibatnya melahirkan gejala kurang ajar alias. Kedua, lenyapnya sikap menghargai dan tahu menempatkan diri (Lost of Adab) di masyarakat. Dan berakibat aspek ketiga, munculnya pemimpin-pemimpin palsu, pemimpin yang tidak memiliki visi dan misi islami, tidak berakhlak mulia, dan tidak mempunyai daya intelektual dan rohaniah yang diperlukan.
Tidak lupa pula, ilmuan muda yang juga sebagai Direktur INSISTS itu juga menjelaskan bahwa islamisasi ilmu merupakan proses dua arah: (1) pembebasan diri dan sekaligus (2) pengembalian diri kepada kejadian asalnya (fitrah).
Dengan menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam dan para sahabat sebagai model teladan, maka langkah pertama islamisasi adalah mengislamkan akal dan pemikiran melalui islamisasi bahasa.
Dua jenis ilmu yang dibagi oleh al-Attas (ilmu dari didapat langsung dari Allah melalui wahyu dan ilmu yang dihasilan lewat pengalaman, perenungan dan penelitian).
Jenis yang pertama dari ilmu ini mesti menjadi asas kepada jenis ilmu yang kedua.
Kemudian langkah islamisasi lainnya adalah dengan memisahkan unsur-unsur asing -dalam hal ini adalah Barat sekular- termasuklah konsep-konsep penting dalam ilmu kemanusiaan.
Setelah melakukan penyaringan itu, ilmu-ilmu yang telah dibersihkan itu diolah kembali dengan unsur-unsur dan konsep-konsep penting Islam.
Selanjutnya dilakukan perumusan dan penyatuan atau integrasi unsur-unsur tersebut supaya terhasil ilmu islami yang dapat dipakai dalam sistem pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Selain Dr. Syamsuddin Arif, pihak pascasarjana IAIN STS Jambi juga menghadirkan narasumber lain di seminar rutin tahunan pascasarjana kampus biru itu.
Narasumber lain yang dihadirkan adalah Dr. Muhammad Ali (yang kebetulan juga putra Indonesia) dari University of California, Amerika Serikat.
Sedangkan narasumber yang mewakili perguruan tinggi dalam negeri adalah Dr. Jajang Syahroni dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Dalam kesempatan itu juga, Prof. Dr. H. Mukhtar, M.Pd selaku Direktur Pascasarjana IAIN STS Jambi berharap seminar yang merupakan terobosan penting beliau ini akan menjadi salah satu ikhtiar bersama untuk memberikan pencerahan, pemahaman, dan membangun wawasan keagamaan akademis yang inklusif bagi mahasiwa dan dosen pascasarjana IAIN STS Jambi.*/kiriman Saidina Usman