Hidayatullah.com– Ulama kondang Ustadz Abdul Somad menjelaskan panjang lebar mengenai peradaban dalam kuliah umumnya di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Ahad (24/11/2019).
Menurut UAS, ada 4 unsur yang mampu memajukan peradaban Islam. Di antaranya An-Nidzom Assiyasiy, Al-mawarist Al-Iqtishodiyyah, Al-qiyam Al-Akhlaqiy, dan Ukhwah.
Pertama, yaitu An-Nidzom Assiyasiy (sistem politik). Dalam Islam, politik mampu melahirkan ketenangan dan perdamaian, salah satunya seperti yang telah dikenalkan oleh Al-mawardi dalam kitab Al-Akhkam Assulthoniyyah yang di antaranya berisikan bagaimana Islam dengan pemerintahan dan pemimpinnya dalam mengatur politik serta negara. Sehingga suatu kebohongan yang besar jika Islam disebut tidak pernah mengenal politik.
UAS juga sempat menyinggung bagaimana Pancasila menurutnya merupakan salah satu bentuk kerendahan hati ulama Indonesia semasa kemerdekaan Indonesia hingga saat ini, sebagai bentuk pernyataan sama, “kalimatun sawaun” seperti yang tertuang dalam setiap sila-silanya dan juga bentuk kecintaan Islam terhadap keutuhan NKRI.
Kedua, yaitu Al-Mawarist Al Iqtishodiyyah (ekonomi yang mapan). Ekonomi dalam peradaban Islam sudah lama dijadikan sebagai salah satu bahan kajian, dan bahkan tidak ada satupun persoalan ekonomi yang terlewatkan dalam studi dan penelitian Islam. Sesuai yang UAS tegaskan, permasalahan negara dalam membangun perekonomian yang maju adalah terdapat pada pengelolaannya yag tidak tepat.
Ketiga, yaitu Al-Qiyam Al-Akhlaqiy. Menurut UAS, peradaban yang baik harus dibangun melalui qiyam akhlak, namun saat ini masyarakat khususnya umat Islam sedang mengalami krisis akhlak. Pendidikan moral dan akhlak tidak mampu disampaikan secara penuh dan baik dalam perilaku masyarakat khususnya anak muda. Sehingga UAS sedikit menyinggung jika pesantren adalah benteng terakhir dalam pembentukan akhlak.
Baca: UAS Ceramah di Gontor, Dapat Wejangan dari KH Hasan Abdullah Sahal
Terakhir, yaitu Ukhwah atau Wihdah (persatuan). Peradaban Islam tidak mungkin bertahan lama jika ukhwah di antara umat Islam mengalami kegoyahan atau perpecahan. UAS mencontohkan ada 3 pemikiran yang tidak mungkin bersatu, di antaranya Aliran Rasionalis (Mu’tazillah), Aliran tekstualis (Nashiyyun) yang dipopulerkan oleh Rasyid Ridho, dan aliran tengah/intuisi (‘irfaniyyun) yang dipopulerkan oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Namun satu titik yang mampu mempersatukan di antara ketiganya yaitu Mukhlisiina lahuddiin.
Kuliah Umum bersama UAS kali ini diakhiri dengan penyerahan cendera mata oleh Dr Hamid Fahmi Zarkasyi (Wakil Rektor 1 UNIDA Gontor) dan dilanjutkan dengan doa yang dipandu langsung oleh KH Hasan Abdullah Sahal.* (Hibatul Wafi)