Hidayatullah.com–Hari Sabtu 16 April 2016 bertepatan tangal 7 Rajab 1347 H diadakan Silaturrahim Nasional (Silatnas) aktifis ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) kultural diadakan di pesantren al-Bahjah, Sumber-Cirebon, Jabar.
Pada Silatnas kali ini, acara dihadiri KH. Lutfi Bashori dari Malang, KH. Idrus Romli dari Jember, KH. Yahya Zainul Arifin atau Buya Yahya sekaligus shahibul bait, serta KH. Djakfar Shodiq Ketua AUMA (Aliansi Ulama Madura) dari Madura.
Acara Silatnas ini dihadiri oleh aktifis aswaja kultural dari berbagai daerah. Ada yang datang dari Malang, Mojokerto, Pasuruan, Blitar. Bahkan ada yang dari Jawa Tengah (Purworejo) juga dari Jabar sendiri (Cirebon dan Garut) serta Jakarta.
Pada acara pembukaan, keempat tokoh ASWAJA (Buya Yahya, KH. Lutfi Bashori, KH. Idrus Romli dan KH. Djakfar Shodiq), memberi sambutan masing-masing.
Dalam kesempatan sambutannya, masing-masing para ulama aswaja kultural ini memberi nasihat kepada peserta aktifis aswaja.
Buya Yahya dalam sambutannya menasehati agar pertemuan ini dimanfaatkan untuk menyusun strategi dalam berdakwah. Sebab menyusun setrategi dalam dakwah seperti saat ini adalah sangatah penting. Menyusun strategi dalam dakwah saat ini, sama halnya dengan menyusun strategi perang pada zaman Rasulullah SAW. Hari ini kita tidaklah perang dengan artian fisik, akan tetapi perang dalam pemikiran.
Pertemuan di sosial media kurang efektif, tutur Buya Yahya. Sebab sosmed tidak menghasilkan perjuangan riil. Bukan berarti sosmed tidak bagus, namun sosmed hanyalah sebuah wasilah penyambung dalam perjuangan. Maka, merealisasikan pertemuan guna untuk langkah dakwah yang kongkrit adalah wajib. Yaitu, pertemuan yang menghasilkan strategi dan mencari potensi-potensi setiap pada pribadi untuk memenangkan dakwah..
Selanjutnya, pesan orang pertama di Ma’had al-Bahjah ini ialah, agar para aktifis meninggalkan egosentris dalam berdakwah. Sifat egosentris “keakuan”adalah sifat iblis. Dan ini bisa merusak dakwah. Adapun sifat “keakuan” yaitu semisal bagaiman ma’hadku, sekolahku organisasiku dll.
Yang terakhir pesan Buya Yahya. Dalam berdakwa, bekerja harus dengan skala prioritas. Maka dibutuhkan usulan-usulan dari para aktifis, untuk perjuangan ini. Dan harus ada realisasi dari pertemuan kali ini, jangan hanya sebatas wacana semata.
Sedangkan KH. Lutfi Bashori, menjelaskan bahwa NU yang ada adalah warisan dari nenek moyang kita. Namun persoalannya NU sekarang sedang sakit, banyak warga NU yang kurang mengerti ajaran para pendirinya, khususnya dalam bidang kelurusan akidahnya, maka kita berusaha mengobati NU. Sebagai obat, maka keberadaan ASWAJA kultural tentu terasa pahit dan dibenci bagi yang sakit.
Putra KH Bashori Alwi Singosari ini, menuturkan bahwasannya “Barang siapa menguasai media, maka dia bisa menaklukkan dunia”.
Bagaimana buah opini sering kali memenangkan pertarungan. Banyak contohnya bisa kita lihat secara kasat mata. Baik dalam politik, maupun lainnya.
Perang pemikiran dalah perang opini, maka senjatanya adalah media. Menghidupkan potensi tulis menulis adalah solusi penting. Sebab dunia jurnalis adalah sebagai senjata utama dalam perang pemikiran.
Kemudian KH Idrus Romli, sambutan beliau diisi dengan tausiah kepada para aktifis, agar dalam perjuangan harus sungguh-sungguh, jangan setengah-setengah. Perlunya membulatkan tekat, memperjuangkan asawaja bukan pilihan hidup, akan tetapi lebih pada sebuah kewajiban.
Alumni Sidogiri ini memberikan ruh spirit dakwah, dengan metode yang dipakai imam Abul Hasan al-Asyari. Menurut penuturannya, Imam As’yarai sukses dalam dakwah menyebarkan faham Alfirqatunnajiyyah, dengan menggunakan tiga pendekatan.
Pertama, Pendekatan tulis menulis, yaitu dengan cara aktifitas tulis menulis kitab.
Kedua, Pendekatan kaderisasi. Ini dilakukan untuk melahirkan kader-kader yang tangguh untuk perjuangan dakwah.
Ketiga, pendekatan munadhzarah (debat), hal ini dilakukan untuk menghadapi musuh-musuh, agar terungkap di pihan mana kebenaran yang haq.
Tebukti, melalui tiga pendekatan tersebut, 90 % umat Islam mengikuti akidah Asyariyah.
Terakhir, KH. Jakfar Shodiq, beliau menerangkan bahwa di dalam tubuh GP. Ansor saat ini sudah sakit. Sangat terasa dalam Ansor yang ada saat ini telah kehilangan ghirrah (kepedulian), seperti upaya membentengi Islam dari aliran sesat, bahkan dari kristenisasi.
Yang ada justru para pengurus pusat GP. Ansor lebih peduli mencurahkan tenaganya untuk menjaga gereja dan melindungi aliran sesat semacam Syiah dan Liberalisme. Ini adalah kenyataan yang sangat miris.
Oleh karena itu, sebagai waga NU yang sadar perduli terhadap keberadaan NU dan GP. Ansor yang sedangan sakit. Meski kehadirah dalam perkumpulan aktifis ASWAJA ini masih relatif sedikit, namun jangan meremehkan sesuatu yang kecil. Meski kecil dalam kwantitas, namun besar dalam kwalitas, insya Allah akan mendulang kemenangan.
Acara ini masih pembukaan, dan akan diteruskan hingga besok pagi.*/M. Saad, ASWAJA Garis Lurus dan Alumni PP Aqdaamul Ulama