Hidayatullah.com– Fakta menunjukkan, pondok pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan Islam yang bertahan melawan penjajahan dan menjadi basis perlawanan. Pesantren tidak hanya memperkaya pengetahuan, tapi juga mendidik karakter santri, sehingga ilmu tersebut menyatu pada dirinya.
“Mereka mendidik dengan keikhlasan, dan santrinya juga menerimanya dengan keikhlasan, sehingga mendapat keberkahan. Orang yang keluar dari pesantren seharusnya dipastikan akan menjadi orang baik, ” demikian ungkap Dr Hamid Fahmy Zarkasy, Direktur Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo dalam Seminar Nasional bertena “Peran Pesantren dalam Menghadapi Keberagaman Pemikiran Islam Kontemporer” hari Ahad (20/03/2016 di Hotel Pose In, Surakarta, Jawa Tengah.
Dalam acara yang diselenggarakan dalam rangka Milad Ma`had `Aly dan Semarak 30th Pondok Pesantren Ta`mirul Islam Surakarta ini, Hamid juga mengatakan, pesantren sejak dahulu telah menjadi benteng umat Islam dalam melawan penjajahan oleh kolonial, baik secara materiil maupun intelektual.
Ada para santri yang memang mondok dan tinggal di pesantren, menjalani pembinaan keilmuan dan keterampilan, adapula masyarakat yang datang untuk ngaji dan meminta pendapat dari Kiai. Sehingga dari interaksi ini, terjadi pengembangan individu yang bersinergi dengan pengembangan masyarakat di lingkungan pesantren.
Hamid Fahmy menjelaskan bahwa pesantren memiliki peran yang sangat besar bagi kemajuan keilmuan dan kehidupan di Indonesia. Pesantren yang dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam, telah mewariskan tradisi intelektual Islam dan membentuk manusia-manusia yang berkepribadian dan berkarakter baik. Banyak kyai-kyai yang menghasilkan karya-karya ilmiah, dan santri-santrinya menjadi tokoh-tokoh nasional di Indonesia.
“Para Kai melahirkan karya-karya ilmiah yang sampai saat ini masih bisa dinikmati, dan tokoh-tokoh Nasional Indonesia pun banyak yang merupakan alumni pesantren. Maka pesantren memiliki peran yang besar dalam memberikan pengaruh keilmuan, politik dan sosial dalam masyarakat di Indonesia” jelas Hamid di hadapan sekitar 100 undangan dan peserta, yang terdiri dari tokoh perwakilan lembaga pendidikan dan ormas Islam, serta akademisi di Surakarta.
Ditengah gelombang arus pemikiran Barat yang mulai menyusup dalam lembaga pendidikan umat Islam, maka pesantren harus meningkatkan diri dengan mendirikan Ma`had aly (pesantren setingkat perguruan tinggi), yang lebih strategis untuk menyiapkan kader yang mampu menjawab tantangan pemikiran yang mempengaruhi sikap hidup umat Islam, selain juga karena diketahui perguruan tinggi Islam saat ini banyak yang kurang steril dari pemikiran sekuler-liberal.
“Pesantren perlu untuk mendirikan ma`had aly atau perguruan tinggi, untuk membantu para santri. Melalui pendidikan Islam tingkat tinggi yang memberikan pendidikan yang lebih kompleks dan keilmuan yang lebih tinggi, akan sangat strategis untuk menyiapkan kader yang mampu menjawab tantangan pemikiran. Bagaimana mensistematiskan kitab-kitab tersebut di perguruan tinggi , dan bagaimana pula menghadapi keragaman pemikiran-pemikiran, yang jawabannya ada di dalam kitab-kitab yang dikaji di pesantren tersebut,” tutur Hamid, yang juga merupakan Direktur INSISTS Jakarta.
Hamid juga menambahkan, ketika ingin menjawab tantangan dan melakukan kritik terhadap Barat, maka kita juga harus tahu tentang mereka. Maka selain belajar Islam, kita juga harus belajar mengenai Barat.
“Orientalis saat ini tidak hanya hidup di Barat, tapi sudah hidup di pikiran-pikiran dosen-dosen Perguruan Tinggi. Kita harus tahu Islam dan tahu Barat,” tambahnya.
Sementara itu, pembicara lain, KH. Dian Nafi` juga mengingatkan untuk memantau para alumni-alumni dari universitas, baik di dalam dan luar negeri yang akan mengajar di pondok pesantren atau lembaga pendidikan Islam. Termasuk buku-buku atau bahan ajar yang masuk ke lembaga pendidikan Islam pun perlu untuk diteliti oleh para Kiai sehingga lembaga Islam tidak “kecolongan” memberikan materi yang memuat hal-hal yang salah dan negatif.
“Orang-orang alumni universitas dalam ataupun luar negeri, ketika pulang harus menghadap dan mengendapkan pemikirannya kepada kiai-kiai senior, sebelum ia mengajar. Ada juga kiai-kiai yang secara khusus perlu untuk meneliti tentang buku-buku ajar yang akan digunakan,” pungkas Dian Nafi`.*/kiriman Galih