Hidayatullah.com– Dalam menghadapi berbagai kondisi yang berbeda-beda, seorang Muslim harus berusaha menyikapinya dengan benar.
Hal itu disampaikan oleh peneliti INSIST Dr Syamsudin Arif ketika mengisi tausiyah di Masjid Aqshol Madinah, Surabaya, Jawa Timur, Kamis, 4 Ramadhan 1437 (09/06/2016).
Mengutip keterangan Imam Ghazali dalam kitab Al-Arba’in fi Ushuluddin, dosen International Islamic University (IIU) Malaysia ini menyebut, pada diri setiap manusia terdapat 4 kondisi yang senantiasa berubah-ubah.
Kondisi pertama, taat. Yaitu saat dimana seseorang mudah melakukan ketaatan kepada Allah tanpa kesulitan berarti. Dalam kondisi ini, buang jauh-jauh perasaan bahwa ketaatan itu disebabkan usaha pribadi semata.
“Ketika kita mendapati kemudahan dalam membaca al-Qur’an, mudah dalam melaksanakan shalat, jangan pikir itu adalah hasil dari usaha kita. Itu terjadi atas petunjuk Allah.
Jadi jangan bertawakal kepada amal kita. Kita menyandarkan semua ini kepada Allah. Sehingga kita tidak merasa ujub dan sombong atas amal-amal kita,” ujar alumni Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe Universitat Frankfurt, Jerman ini.
Kondisi kedua, maksiat. Syamsudin Arif menjelaskan, ini adalah kondisi durhaka kepada Allah. Dalam kondisi ini, segera memohon ampun kepada Allah dan optimis akan diberi rahmat Allah.
Adapun kondisi ketiga, nikmat. Yaitu ketika berbagai kenikmatan menghampiri, seperti sehat dan harta. Maka sikap seorang Muslim menghadapi kondisi ini adalah bersyukur.
“Dalam keadaan enak, dalam keadaan senang, maka harusnya bersyukur,” ungkapnya.
Sementara kondisi keempat adalah susah. Susah karena minimnya harta, ditimpa penyakit, ataupun lingkungan yang tidak mendukung. Maka sikap yang harus dilakukan adalah bersabar. Ini pilihan utama agar seseorang tidak mudah kufur kepada Allah.
“Bersabar itu memiliki makna bertahan dan tetap istiqamah. Jadi ketika ditimpa kesusahan harusnya bertahan. Jangan sampai kefakiran berubah menjadi kekufuran,” ujarnya menekankan.*/ Luqman Hakim, pegiat komunitas PENA Surabaya