Hidayatullah.com–Dalam keputusannya di Diwan Emiri Qatar 14 Desember 2016, Amir Qatar Syekh Tamim bin Hamad Al Thani – sebagaimana mengumumkan pembatalan Perayaan Nasional Qatar tahun ini yang biasa secara rutin akan diadakan pada tanggal 18 Desember.
Namun kantor pemerintah dan swasta tetap diliburkan pada tanggal 18 Desember 2016 karena merupakan hari libur nasional.
Pembatalan ini dalam rangka solidaritas atas pembantaian penduduk sipil oleh kekuatan militer rezim Bashar al Assad yang sedang melancarkan serangan militer penuh terhadap bagian timur Kota Aleppo (Halab) yang dipegang oleh pasukan oposisi Suriah.
Selain itu Qatar juga langsung menyerukan pertemuan darurat kepada Konsul Liga Arab untuk membahas “situasi tragis” di kota Suriah yang bersejarah, Kota Aleppo.
Disamping itu, kawasan hiburan dan olahraga di Katara dan Aspire yang menjadi pusat keramaian serta menjadi lokasi berbagai restoran bermacam menu juga akan mendonasikan keuntungan yang didapatkan dari tanggal 15 hingga 17 Desember, sebagaimana diumumkan oleh manajernya Dr. Khalid bin Ibrahim Al-Sulaithi, demikian kutip thepeninsulaqatar.com.
Dunia Mengutuk Kekejaman Rezim Bashar dan Sekutunya di Aleppo
Sebagaimana diketahui, 18 Desember 2016 sejatinya adalah Hari Nasional negara Qatar, sebuah negeri yang kaya di teluk Arab.
Tanggal ini adalah hari dimana pendiri negara Qatar modern Syaikh Jassim bin Mohammed Al Thani yang naik takhta pada tahun 1878 dan berhasil menyatukan berbagai suku di Qatar untuk menghadapi musuh dari luar terutama Inggris.
Setiap tahunnya sudah menjadi tradisi di Qatar untuk mengadakan rangkaian Perayaan Hari Nasional Qatar yang diisi dengan berbagai aktivitas, terutama: Parade Militer dan Personil Keamanan Qatar di sepanjang Pantai Corniche di tepi teluk Arab, Atraksi Pesawat Tempur Qatar, Atraksi terjun bebas Tim Parasut, kembang api, dan berbagai atraksi lainnya.
Penduduk Qatar biasanya berada di barisan audiens untuk menyaksikan berbagai atraksi ini.
Negara Qatar dikenal dengan kepedulian yang cukup tinggi terhadap dunia Islam. Kebijakan Syekh Tamim ini mengikuti jejak ayahnya Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani yang menjadi pemimpin Arab pertama yang pada 23 Oktober 2012 membuka blokade dan mengunjungi Jalur Gaza yang menjadi penjara terbesar di dunia bagi penduduk Palestina. Akankah Indonesia seperti Qatar?*/kiriman Ady C. Effendy, penulis buku To Be Successful Muslim Youth