Hidayatullah.com–School of Islamic Education and Leadership (SHIELD) adalah bagian dari program Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) yang bekerjasama dengan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta. Program ini hadir sebagai wadah untuk menambah ilmu dan wawasan dalam menyelamatkan generasi penerus dari berbagai serangan pemikiran.
“Kegiatan ini bertujuan untuk melahirkan generasi Islam yang memiliki intelektualitas yang tinggi, menghidupkan tradisi ilmu dan budaya diskusi keislaman di lingkungan kantor Telkomsel dengan peserta khusus untuk karyawan Telkomsel dan Telkom Group,” ujar Kepala SPI Pusat, Akmal Sjafril,M.Pd.I. pada pertemuan pendahuluan kegiatan SHIELD MTT 2018, Senin malam, 5 Maret 2018 di Telkomsel Smart Office (TSO) Building, Jakarta.
Menurut Akmal, kegiatan seperti SHIELD MTT 2018 ini sangat diperlukan di tengah umat, karena tantangan umat Islam Indonesia khususnya sesungguhnyaberakar pada persoalanintelektual. “Karena kehilangan tradisi keilmuannya, umat secara tidak sadar terus disibukkan dengan hal-hal yang ‘receh’, sehingga melupakan masalah-masalah yang lebih mendasar,” ungkap Akmal lagi.
Dalam pertemuan kedua, Selasa malam (06/03/2018) di lokasi yang sama, Akmal mulai memberikan penjelasan dan contoh riil terkait masalah perang pemikiran (ghazwul fikri), seperti bagaimana melihat propaganda di media masa, pendidikan dan sosial budaya.
“Ghazwul fikri adalah fenomena umum yang telah terjadi sejak lama, dan banyak pihak yang berkepentingan untuk merusak pemikiran umat Islam. Ghazwul fikr nya bisa dimenangkan dengan ilmu, karena itu jangan malas untuk belajar dan menghidupkan tradisi keilmuan yang benar, agar umat Islam tidak kalah,” pungkas Akmal saat menyampaikan kesimpulan dan pesan bagi seleuruh peserta SHIELD MTT 2018 malam itu.
Salah seorang peserta SHIELD MTT 2018, Adinda Rizkia, yang bekerja di Telkom mengungkapkan kesannya atas kegiatan ini.
“Materi perdana yang disampaikan sangat bagus, langsung ngena ke kehidupan sehari-hari. Kita harus menjadi pembaca yang cerdas, nggak langsung percaya dengan hoax, lebih banyak mencari fakta dan tidak gampang menyebarkan hoax, terutama tentang Islam,” ungkap pegawai Telkom ini.*/Widuri Lisnawati