Hidayatullah.com—Sejak awal berdirinya Indonesia, umat Islam berkontribusi paling besar dalam membebaskan tanah air dari penjajahan. Kesadaran dalam membebaskan Tanah Air juga tumbuk di ormas Islam sejak awal abad 19.
“Pada tahun 1903 di Jakarta, di Batavia, sudah berdiri suatu ormas Islam yang orientasinya adalah bagaimana membangkitkan kesadaran umat untuk membebaskan tanah air kita dari penjajahan Belanda. Semangat tersebut disampaikan pada Kongres Umat Islam,” demikian penggalan pembuka materi panel Pemerintahan dengan tema “Peran Pemuda Islam dalam Menyukseskan Visi Misi Rumah Kebangsaan” yang disampaikan oleh Wakil MPR RI, Dr. Hidayat Nur Wahid, pada hari pertama Sarasehan PPMI Arab Saudi Kamis, 1 April 2021.
Sarasehan PPMI Arab Saudi merupakan sebuah acara Silaturahim Akbar antara pelajar dan mahasiswa Indonesia di Arab Saudi dengan para alumninya. Selain itu juga diadakan rangkaian webinar dengan tema besar “Kontribusi Alumni Arab Saudi Membangun Negeri”.
Narasumber yang juga anggota komisi VIII DPR RI dari F-PKS tersebut mendengarkan pernyataan bahwa sudah ada ormas yang menyelenggarakan Konferensi Islam sebelum tahun 1908 dari Sri Sultan Hamengkubuwono X pada waktu beliau membuka Kongres Umat Islam yang ke-VII di Yogyakarta. Nama organisasinya adalah Jamiatul Khair, didirikan di Betawi, Jakarta tahun 1901.
Ulama asal Arab dan para Habaib berperan besar dalam mendirikan organisasi ini. Di antara tokoh yang menjadi anggotanya adalah KH Ahmad Dahlan yang kemudian menjadi pendiri Muhammadiyah, KH Wahab Hasbullah yang nanti bersama KH Hasyim Asyari mendirikan NU, Haji Umar Said Cokroaminoto yang nanti mendirikan Syarikat Islam.
Alumni S3 Universitas Islam Madinah tersebut menyebutkan dalam materinya yang disampaikan secara virtual bahwa Jamiatul Khair selain visinya untuk membebaskan tanah air dari penjajahan kafir Belanda, juga menyuarakan tentang pendidikan, maka mereka mendirikan sekolah. Mereka pun peduli pada masalah kemanuasiaan karenanya mereka membantu juga fakir miskin dan juga anak-anak yatim supaya mereka bisa maju.
Termasuk juga mereka mementingkan dakwah dengan menyebarkan juru dakwahnya. Dan yang luar biasa pada masa itu 1901-1903 mereka sudah memikirkan tentang Makkah dan Madinah.
“Mereka mengumpulkan dana untuk membantu penyelesaian pembangunan proyek kereta api dari Madinah ke Makkah, program Turki Usmani pada waktu itu. Membantu agar program ini bisa terlaksana. Sekarang semuanya beasiswa. Mereka juga mengumpulkan dana untuk membantu Umat Islam yang terkena musibah yang luar biasa di Tripoli,” ujarnya.
Dalam panel pemerintahan yang dimoderatori oleh Andi Subhan Husain, alumnus sekolah Hukum dan Ilmu Politik King Saud University ini dihadiri sekitar 100 mahasiswa dan alumni Perguruan Tinggi di Arab Saudi asal Indonesia. HNW, demikian akrab disapa, menegaskan bahwa embrio bangkitnya kebangsaan Indonesia sudah dikerjakan melalui keormasan, melalui organisasi yang mementingkan pendidikan, sosial, dakwah dan konsolidasi yang saling menguatkan.
“Jadi, ini bisa kita jadikan salah satu rujukan yang riil dan kongkrit. Maka sudah selayaknya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengoreksi hilangnya frasa agama dalam draf visi Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035 karena telah mengingkari fakta sejarah Indonesia,” ujarnya.
Anggota PPI Saudi Arabia tahun 1982-1985 ini, secara spesifik menyebutkan bagaimana peran pemuda Islam dalam deklarasi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, peran pemuda Islam dalam penyusunan pembukaan UUD 1945. Mereka adalah tokoh yang memahami agama sekaligus mencintai bangsa.
“Tokoh-tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan dari beragam latar belakang, yang menandakan bahwa Indonesia merdeka dengan mujahadah jama’iyyah. Melibatkan ormas yang beragam di Indonesia; ada Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, PERSIS, Al-Irsyad, Jamiatul Khair kita sebutkan diawal, ada al Khairiyyah di Banten,” katanya. “Ada juga yang melibatkan partai-partai Islam; ada Partai Islam Indonesia, Partai Penyadar, Masyumi. Mereka adalah para tokoh yang masih relatif muda pada waktu itu, ada alumni pesantren dalam negeri seperti Ki Bagus Hadikusumo Tokoh Muhammadiyah, alumni pesantren di Jogja. Ada otodidak seperti Haji Agus Salim lalu lanjut belajar ke Makkah sebagimana KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan,” ungkapnya.*/Andi Subhan, mahasiswa King Saud University