Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cover Story

Kotoran ”Si Bule” Pun Diperebutkan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Oktober 2009 23:59 11:59 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Oktober 2009 23:59
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Satu Suro di Surakarta (Solo, Jawa Tengah) ada tontonan ”menarik”. Beberapa kerbau bule keturunan kerbau Kiai Slamet diarak keliling kota Solo, Jawa Tengah.Awalnya, rute arak-arakan itu hanya mengelilingi tembok keraton. Kini, rutenya diperpanjang, melewati jalan protokol kota Surakarta. Karuan saja, masyarakat pun banyak yang menonton, baik masyarakat Surakarta sendiri, maupun masyarakat daerah sekitarnya, seperti Purwodadi, Boyolali, Klaten, dan Sragen, yang jaraknya bisa lebih dari 60 km.Mengapa mereka rela datang jauh-jauh untuk menonton arak-arakan ini? Rupanya mereka bukan sekadar menonton, tapi juga berharap kebagian ”berkah” dari sang kerbau bule itu. Apa itu? Ya, kotoran ”si Bule”Sutami, contohnya, datang dari Grobogan, Purwodadi, yang jaraknya sekitar 100 kilometer dari Solo, hanya untuk memburu air kencing kerbau. Benar saja, saat sang kerbau kencing, wanita itu menadahkan kedua tangannya. Lalu, cairan kuning beraroma pesing itu langsung dibasuhkan ke wajahnya. “Biar awet muda dan cantik,” kata wanita berusia 47 tahun itu.Lain lagi dengan Wartono, 50 tahun. Petani asal Sumberlawang, Kabupaten Sragen ini langsung meloncat mendekati sang kerbau –seolah takut orang lain mendahului—manakala sang kerbau itu buang kotoran. Plukk! Gundukan beraroma memualkan perut itu diraup dengan pecinya.”Ini akan saya taburkan ke sawah agar subur. Berkah Kraton ini semoga membuat hasil panen saya makin baik,” katanya dengan wajah berbinar-binar.Sementara Anik (35), pedagang sayur di Desa Gedangan, Grogol, diam saja ketika kerbau itu menyantap sayur-mayur yang dijajakannya selepas perayaan itu. ”Dia (kerbau itu) menyantap daun mbayung, bayem, dan daun singkong. Habis semua. Kata orang, (itu) bisa ngrejekeni (mendatangkan rezeki). Ya, saya biarkan saja,” ceritanya.Bukan Budaya KratonMenurut Puger, Kepala Sasono Pustoko Kraton Kasunanan, Solo, semua kebiasaan itu –memperebutkan kotoran kerbau– bukanlah ajaran Kraton Solo. “(Kebiasaan seperti itu) tidak ada dalam buku di sini. Instruksi dari kraton tidak ada, apalagi itu digunakan untuk hal-hal yang tidak benar.”Jika kotoran itu digunakan untuk pupuk tanaman, kata Puger lagi, masih masuk akal. Kotoran binatang ternak memang bagus dijadikan pupuk.”Tapi kalau untuk yang lain-lain, saya sebagai Pangeran di sini tidak bertanggung jawab. Itu karena emosi rakyat saja,” kata putra Pakubuwono XII ini lagi.Menurut Puger, tradisi memperebutkan kotoran kerbau sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak. Budaya itu timbul karena rakyat pada saat itu amat cinta kepada rajanya. Mereka berebut ingin menyentuh Sang Raja. Akan tetapi, karena tidak bisa, akhirnya hewan piaraannya yang disentuh, termasuk kotoran-kotorannya. Kebiasaan ini kemudian bergeser. Kerbau itu malah yang dihormati secara berlebih-lebihan.Cuci PusakaSelain arak-arakan kerbau, di Karesidenan Surakarta, khususnya di wilayah Wonogiri, masih ada satu tontonan bernuansa syirik. Yaitu, acara jamasan (pencucian) benda-benda pusaka milik Kasunanan di waduk Gajah Mungkur. Acara ini juga dilangsungkan pada tanggal 1 Suro.Anehnya, air sisa cucian itu kemudian diperebutkan banyak orang. Air ini dipercaya oleh mereka mengandung banyak khasiat, termasuk menyembuhkan sakit.Yang lebih aneh lagi, kegiatan ini didukung penuh oleh Pemerintan daerah Wonogiri. Alasannya, apalagi kalau bukan untuk pemasukan kas daerah. Adanya kegiatan ini, PAD (Pendapatan Asli Daerah) meningkat.Ini diakui oleh Budi (33), bukan nama sebenarnya, salah seorang staf Departemen Pariwisata Wonogiri, kepada Hidayatullah. “Jumlah penjualan tiket masuk ke obyek wisata meningkat menjadi 10 hingga 20 persen,” tutur laki-laki berkacamata ini. [Thoriq/SAHID/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Turki dan Munculnya Wibawa Otoman
Tulisan selanjutnya Ada Dukun di Balik Media

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Suriah Tangkap 9 Bekas Pilot Tempur Era Rezim Bashar al-Assad

Berita
12 September 2026 10:12
Amerika Minta Libanon Formulasikan Rencana Perlucutan Senjata Hizbullah
Erupsi Anak Krakatau, MUI Ajak Masyarakat Ikhtiar Patuhi Petunjuk Keselamatan
Suriah Rangkul Faksi Bersenjata untuk Pastikan Monopoli Senjata
Balas Sanksi terhadap Permukiman Ilegalnya, ‘Israel’ Ancam Tutup Konsulat Inggris

Terbaru

  • Serangan Drone dari Iraq Merusak Pipa Minyak Arab Saudi, Melukai Sejumlah Orang
  • Turki akan Mengebor Minyak di Laut Hitam
  • Mahkamah Agung Tunisia Tolak Kasasi Puluhan Lawan Politik Presiden Kais Saied
  • QatarEnergy Berupaya Garap LNG Amerika Serikat Sampai 2031
  • Suriah Tangkap 9 Bekas Pilot Tempur Era Rezim Bashar al-Assad
  • Amerika Minta Libanon Formulasikan Rencana Perlucutan Senjata Hizbullah
  • Pengisi Utama Pro-Israel, Artis Portugal Berbondong-Bondong Tinggalkan Festival Lisbon
  • Promosi Adidas Gandeng IDF, MUI: Waspada Propaganda Zionis, Perkuat Boikot!
  • Penasihat Trump Khawatir Perang Iran Berlangsung Bertahun-tahun
  • Warga Thailand Demo Kedutaan ‘Israel’, Protes Kelakuan Wisatawan Zionis

Mungkin Anda Juga Suka

Suka Duka Perjuangan Da’I di Daerah Pelosok Kupang NTT

24 Mei 2013 09:38

Bertahan di Tengah Kesunyian demi Dakwah

21 Mei 2013 17:15

Penjaga Akidah Muslimah Dari Larantuka (2)

16 Mei 2013 10:55

Penjaga Akidah Muslimah Dari Larantuka (1)

13 Mei 2013 12:32
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?