Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cover Story

Menyemai Akidah di Gunung Kidul

Ahmad
Terakhir diupdate:
Ahmad
Dipublikasikan 27 Desember 2012 10:54
Bagikan
Dengan motor, Saiful berkeliling menyemai dakwah di Gunung Kidul
Bagikan

DUSUN itu terletak pas di atas bukit. Mencapainya, harus melewati jalan menanjak. Motorpun harus melaju dengan gigi satu. Suaranya akan terkentut-kentut. Di kanan kiri jalan batu-batu cadas yang di sela-selanya terselip pohon jati yang kurus dan agak gundul. Tepat di atas jalan itu, terdapat masjid Al Muttaqin. Bentuknya cukup indah. Masjid itu bantuan dari seorang dermawan dari Timur Tengah.

Terdengar suara lantunan sholawat Nabi dari corong masjid. Suaranya lamat-lamat terdengar menembus bukit yang cukup gersang itu. Puluhan ibu-ibu berkumpul di teras masjid untuk mendengarkan ceramah dari Saiful Prihatin, dai spesialis Gunung Kidul. Mereka mengenakan kerudung dengan al Quran di tangan. Mereka pun langsung membentuk lingkaran ketika Saiful datang dan langsung mendengarkan ceramah lelaki asli kelahiran Gunung Kidul Yogyakarta.

“Ibu-ibu yang dirahmati Allah, opo tujuan urip nang dunyo iku?” tanya Saiful memancing jamaah agar berfikir.

Jawaban pun beragam. Ada yang bilang untuk makan, hidup yang hidup, dan ada juga yang menjawab hidup itu untuk beribadah kepada Allah.

“Urip iku kanggo nyembah Gusti Allah (hidup hanya untuk beribadah pada Allah, red),” ujar salah seorang jamaah.

Baca Juga

(Video) Tante Dolly Telah Pergi
(Video) Menguji Toleransi di Bali
Usaha Mengkaji Ulang “Paradigma Baru” LDII
Dr. Ending: Penyerangan Satu Bukti Kesesatan Akidah LDII
Kenapa Mereka Marah?

Pertanyaan ringan itu sengaja dilontarkan Saiful. Ia selalu menggunakan bahasa Jawa halus. Sebab, mayoritas jamaah yang tergolong ibu-ibu sepuh tidak paham bahasa Indonesia.

Menurutnya, pertanyaan sederhana itu cukup efektif. Tak sedikit jamaah yang tersadar dengan pertanyaan tersebut. Sebab, katanya, masih banyak orang terutama di pelosok desa yang belum paham tujuan hidup.

“Mereka memaknai hidup masih sebatas dapur, kasur, dan sumur,” terangnya.

Jika telah mendengar penjelasan Saiful, jamaah hanya diam dan manggut-manggut. Setelah memberikan ceramah, biasanya dai yang tergolong masih muda dan energik ini akan mengajarkan membaca al Quran. Ia ingin ibu-ibu di dusunya itu bisa membaca al Quran.    

Daerah ini terletak di Dusun Guo Kembang, Desa Mbotodayaan, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul DIY. Gunung Kidul terkenal gersang, terlebih di musim kemarau. Selain panas juga sulit air. Tidak semua jenis tanaman cocok dan bisa ditanam di sini.

Mayoritas penduduk di daerah ini mengandalkan padi, ketela, kentang dan jagung. Namun, karena tingkat kesuburannya kurang, hasilnya tidak begitu memuaskan.

“Boleh dibilang ekonomi masyarakat di sini cukup memperihatinkan. Bahkan, warga di sini masih ada yang makan gaplek, singkong yang dikeringkan,” ujar Parman, Takmir Masjid Al Mutaqin kepada hidayatullah.com di kediamannya beberapa waktu lalu.

Sulitnya ekonomi dan air membuat masyarakat kerap diiming-imingi oleh misionaris untuk masuk Kristen dengan dalih sosial dan ekonomi. Hal itulah yang menjadi perhatian Saiful untuk membentengi masyarakat dari gempuran kristenisasi dengan menyemai aqidah masyarakat di dusunya.

“Cita-citaku ingin meng-al Qura’an-kan masyarakat Gunung Kidul,” ujarnya.

Karena itu, langkah dakwah suami Sunarti yang juga penduduk asli Dusun Mujing dan salah satu putri tokoh setempat ini selain mendirikan majelis taklim ibu-ibu dan bapak-bapak juga mendirikan Taman Pendidikan al Quran (TPA) di beberapa tempat. Paling tidak, satu dusun dua TPA. Dan kini, atas izin Allah, ia telah berhasil mendirikan beberapa TPA di sejumlah dusun.

“Alhamdulillah, respon masyarakat cukup bagus. Saya berniat dari Desa Mbotodayaan yang memiliki 12 dusun ini semuanya memiliki TPA,” harapnya.

Diakui Saiful, tidak mudah merintis TPA. Terlebih di dusun yang agamanya masih minim. Perlu memahamkan kepada masyarakat, terutama para sesupuhnya agar mengizinkan pendirian TPA. Sebelum mendirikan TPA, ia pun selalu mendekati sesepuh daerah setempat. Baru setelah mendapat lampu hijau ia mengajak anak-anak untuk diajari ngaji.

Awalnya, ia sendiri yang mengajari mereka al Quran. Dengan sepeda motor, ia berkeliling dari satu dusun ke dusun yang lain. Namun, jika ia telah berhasil mendidik salah satu muridnya yang bisa mengaji, ia akan mendelegasikannya untuk menggantikannya. Saiful hanya sesekali datang dan mengontrol.

Meski medan dakwah yang begitu terjal, namun ia tidak patah semangat. Katanya, tidak sedikit dai dari luar yang angkat kaki karena tidak betah dengan kondisi alamnya. Mungkin, karena ia asli warga setempat, jadi sudah beradaptasi.

“Alhamdulillah, untuk kondisi medan tidak ada masalah,” ujar Saiful yang juga salah satu pengurus Hidayatullah bagian Gunung Kidul.

Ketua Pos Dai Hidayatullah bagian DIY, ustadz Ma’arif mengakui hal itu. Tidak banyak dai yang diutus ke Gunung Kidul mampu bertahan lama. Kebanyakan masalah kontur alamnya. Karena itu, ia memanfaatkan dai warga setempat untuk berdakwah.

“Jika warga setempat akan lebih mudah beradaptasi dan diterima masyarakat sekitar,” tuturnya. 

Jalan panjang dakwah

Sebelum basah dalam dakwah di Gunung Kidul, Saiful sempat mengadu nasib ke ibu kota. Seperti kebanyakan orang, ia ingin meperbaiki nasib ekonomi. Selepas lulus dari pesantren, ia bekerja di salah satu perusahaan percetakaan di Jakarta. Namun, karena kondisi Jakarta yang menurutnya tidak sehat, ia pun memutuskan untuk kembali.

Sebelum ke Jakarta, lelaki berkulit sawo matang ini sempat mendirikan TPA di Gunung Kidul. Berhasil. Muridnya banyak dan sebagian telah lancar membaca al Quran. Namun, mungkin karena tergiur mimpi-mimpi ibu kota, ia pun tetap meninggalkannya.

“Saya ketika memutuskan itu sempat nangis. Keputusan yang sangat berat. Namun bagaimana lagi, saya harus mengambilnya,” ujarnya.

Naluri sebagai seorang dai tetap terpatri di hatinya. Bayangan akan murid-muridnya mengaji kerap berkelebat di pelupuknya. Karena tidak mendapatkan apa yang ia harapkan di Jakarta, akhirnya ia kembali dan meneruskan TPA-nya. Di Kota Gudek, ia kembali bekerja sebagai Cleaning Service di Stasiun Tugu Yogyakarta. Ia pun ngekost.  Lagi-lagi, di sela-sela kesibukannya itu, ia mendirikan TPA bagi anak-anak sekitar kost-nya.

“Saya ajak mereka ngaji tanpa dipungut biaya sesenpun,” terangnya.

Tak lama kemudian, Saiful bertemu ustadz Salim Sukamto, salah satu pengurus Pesantren Hidayatullah Solo. Ia pun diajak berdakwah di Gunung Kidul secara total. Saiful pun setuju dan merasa cocok dengan konsep dakwah Hidayatullah. Ia pun diamanahi untuk memegang bendera dakwah di Gunung Kidul hingga kini.*

Rubrik ini atas kerjasama hidayatullah.com dengan Persaudaraan Dai Nusantara (Pos Dai), bantu dakwah para dai melalui Rekening Bank: Bank BSM: 733-30-3330-7 atau BNI 9254-5369-72 a/n Yayasan Hidayatullah. Informasi berbagai program dakwah dapat di klik di www.posdai.com

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akidahda'igunung kidulold migrateumat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Uni Lanx – Universal Unit of Account – Timbangan yang Adil
Tulisan selanjutnya Hidayatullah Makassar Akan Gelar Silaturahim Akbar Ponpes se-Sulsel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Suka Duka Perjuangan Da’I di Daerah Pelosok Kupang NTT

24 Mei 2013 09:38

Bertahan di Tengah Kesunyian demi Dakwah

21 Mei 2013 17:15

Penjaga Akidah Muslimah Dari Larantuka (2)

16 Mei 2013 10:55

Penjaga Akidah Muslimah Dari Larantuka (1)

13 Mei 2013 12:32
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?