Hidayatullah.com– Kementerian Agama terus berupaya meningkatkan kualitas layanan bagi jamaah haji Indonesia. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Nizar Ali, mengaku ada sejumlah terobosan yang dilakukan pihaknya untuk terus memperbaiki layanan haji.
Terobosan itu dijelaskan Nizar Ali di hadapan 780 peserta pelatihan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede. Pertama, rekrutmen petugas berbasis computer assisted test (CAT). Selain untuk transparansi, terobosan ini diharapkan dapat memilih petugas haji yang profesional dan siap melayani jamaah haji.
Terosan kedua, menambah toilet portable di Mina. Selama ini, antrean panjang di toilet Mina menjadi salah satu yang dikeluhkan oleh jamaah.
“Kita bisa bayangkan jika jumlah toilet tidak ditambah, sementara jumlah jamaah kita (sejak tahun lalu) bertambah 51 ribu orang (paska kembali normalnya kuota haji),” ujar Nizar di Jakarta kemarin, lansir Kemenag, Senin (28/05/2018).
Baca: Lebih 9000 Skuter Disediakan untuk Layani Thawaf Jamaah Lansia di Makkah
Terobosan ketiga terkat tas dan koper jamaah. Tahun ini, jamaah mendapatkan tas kabin berupa koper sehingga diharapkan akan memudahkan mobilitas mereka. Tahun-tahun sebelumnya, tas kabin diberikan dalam bentuk tas tenteng.
“Semula tas kabin bentuknya tas tenteng yang pasti merepotkan jamaah, tahun ini kita ganti tas kabin berbentuk tas koper dorong,” terang Nizar yang juga guru besar Ilmu Hadits UIN Sunan Kalijaga ini.
Keempat, terobosan yang dilakukan adalah pelimpahan porsi. Mulai tahun ini, calon jamaah yang meninggal setelah adanya penetapan keberangkatan yang dikeluarkan Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah pada 12 Maret 2018, boleh diganti anggota keluarganya.
Terobosan kelima, lanjut Nizar, pemeriksaan biometrik dan sidik jari di 13 embarkasi Tanah Air.
Selama ini, pemeriksaan biometrik dan sidik jari dilakukan saat jamaah tiba di Bandara Arab Saudi, baik Jeddah maupun Madinah. Akibatnya, antrean di bandara menjadi sangat panjang dan lama, sementara kondisi jamaah lelah usai melakukan penerbangan dari Indonesia.
“Ini sangat memangkas waktu pemeriksaan yang biasanya baru selesai 4 sampai 5 jam, kini hanya perlu 2 jam,” ungkap Nizar.
“Bahkan, khusus tahun ini, untuk jamaah yang berangkat dari embarkasi Jakarta dan Surabaya, begitu mendarat di bandara Arab Saudi bisa langsung masuk bus,” sambungnya.
Mulai tahun ini, layanan katering bagi jamaah haji Indonesia selama di Makkah juga akan ditambah. Kalau tahun lalu hanya 15 kali makan, tahun ini bertambah menjadi 40 kali makan.
Nizar berharap sejumlah terobosan yang dilakukan Kemenag ini akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas layanan kepada jamaah. Dengan demikian, kepuasan jamaah terhadap layanan haji juga akan meningkat.
Hasil survei indeks kepuasan pelayanan haji dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2014, indeks kepuasan mencapai 81,52. Angka ini naik menjadi 82,67 di 2015, 83,83 di 2016, dan pada 2017 mencapai 84,85. Tahun ini ditargetkan naik 0,15 sehingga mencapai 85 atau masuk kategori sangat memuaskan.*
Baca: Presiden Minta Pengelolaan Dana Haji Transparan, Akuntabel, dan Ikuti Prinsip Syariah