Hidayatullah–Film kontroversial “Farenheit 9/11” yang mulai diputar kemarin ternyata bikin panas para pendukung Presiden Bush. Saat mulai diputar di bioskop-bioskop di Negeri Paman Sam, Jumat malam (Sabtu pagi WIB), banyak penonton yang mengantrenya.
Di Washington, tiket film tersebut sudah ludes sehari sebelumnya. Di hari pertama pemutaran film, banyak yang memaksa duduk di lantai bioskop karena jumlah kursi kurang.
Di Georgetown, yang menjadi jantung ibu kota AS itu, film tersebut diputar di gedung bioskop yang menyediakan 14 layar. Tiga di antaranya memutar film itu.
Secara bersamaan, film tersebut diputar di 868 bioskop. Itu menjadi rekor tersendiri untuk film dokumenter.
Di San Fransisco, banyak penonton yang tersentuh hatinya menyaksikan film tersebut. “Film ini membuat saya emosional. Saya menjadi tahu kemunafikan pemerintah (Bush),” kata Rita Alexander Garder yang menonton bersama tunangannya, Alexander.
Menurut Garder, film tersebut mungkin tidak akan mempengaruhi pendukung Partai Republik. “Namun, film itu akan memberi inspirasi bagi mereka yang belum menentukan pilihan,” katanya.
Garder bisa jadi benar. Penonton lain, Todd Hallauer, menilai, pemutaran film tersebut tepat waktu. “Ini benar-benar luar biasa. Pas menjelang pemilihan,” katanya.
Kemungkinan tersebut dibantah pejabat Partai Republik negara bagian, Utah Joe Cannon. “Film tersebut tidak akan mempengaruhi saya. Saya yakin, itu juga tidak mempengaruhi banyak orang,” tegasnya.
Menurut Cannon, pesan dalam film itu hanya akan berpengaruh pada pekerja kelas bawah yang kehilangan pekerjaan mereka selama pemerintahan Bush. “Mereka itulah penonton film buatan Moore tadi,” ledeknya.
Daya tarik film dengan durasi jam itu adalah pesan “Anti-Bush.” Sebagian besar penonton, sejak semula, memang anti-Bush. “Saya ingin melihat Bush keluar dari Gedung Putih,” ungkap Suster Alexandra Moss yang menonton bersama ibunya.
Namun, tidak sedikit pendukung Bush yang mendatangi gedung bioskop untuk melihat film tersebut. Mereka, kebanyakan, datang untuk memenuhi rasa penasaran. Sebab, film tersebut menjadi perbincangan dan memenangkan penghargaan pada festival film Cannes di Prancis.
“Farenheit 9/11” hanya salah satu indikasi besarnya gerakan anti-Bush yang tengah berkembang di masyarakat AS saat ini. Bukan tanpa tujuan kalau film tersebut diputar di saat gencar-gencarnya kampanye pemilihan presiden.
Tentu saja, kubu Partai Republik yang mencalonkan Bush paling sewot. Mereka mendesak para pengelola bioskop untuk tidak memutar film tersebut -setidaknya hingga selesai masa kampanye-. Para pendukung Bush itu menilai, “Farenheit 9/11” menusuk pemerintah Bush dari belakang.
Upaya menghambat pemutaran film tersebut sudah terjadi sejak awal. Distributor film Miramax, misalnya, dilarang mengedarkan film itu. Namun, “Farenheit 9/11” tidak tertahankan setelah Lions Gate dan IFC bersedia mengambil alih peran Miarax itu.
Kontroversial
“Fahrenheit 9/11” merupakan film dokumenter yanmg bercerita tentang peristiwa ambruknya menara kembar WTC pada 11 September.
Film ini merupakan garapan sutradara Michael Moore yang menang dalam Festival Film Cannes Ke-57 kemarin. Film ini bercerita seputar pemerintahan Presiden George W Bush dan hubungannya dengan serangan ke World Trade Center (WTC), New York, 9 September 2001 lalu. Dalam cerita itu, Moore melakukan banyak kritikan pedas terhadap Presiden W Bush dan rakyat AS menyangkut peristiwa itu.
Film ini bercerita tentang Bush yang memanfaatkan 11 September untuk menjalankan agenda politik tersembunyi, seperti menyerang Afghanistan dan menjajah Iraq. Fakta lain yang justru paling menarik adalah adanya hubungan bisnis antara keluarga Bush serta orang-orang terdekatnya (seperti Wakil Presiden Dick Cheney) dengan keluarga kerajaan Arab Saudi. Yang menarik, hubungan bisnis ini juga melibatkan anggota keluarga Usamah bin Ladin. Tokoh yang selalu dikecam Bush dan diburunya hingga kini meski tak jelas rimbanya. (afp/ap/jp/cha)