Ahad, 4 Desember 2005
Hidayatulllah.com–Siasat curang terang-terangan Mubarak benar-benar memukul para kandidat Al Ikhwan al-Muslimun atau yang kerap disingkat IM. Tak satupun dari 49 orang kandidat nya meraih kursi dalam satu babak.
Namun, IM masih berharap pada 28 kandidatnya yang akan mengikuti babak run off dalam lima hari mendatang, karena tak ada dukungan melebihi 50 persen. Selain itu harapan juga disandarkan pada 10 kandidat di TPS yang belum selesai dihitung.
"NDP (partai Mubarak) menggunakan segala cara untuk menghalangi IM mendapat 100 kursi di parlemen," kata juru bicara IM Issam al-Aryan kemarin. "Curang adalah satu-satunya cara mereka untuk menghalangi ke TPS sejak kami memenangi sejumlah tempat."
Rezim Mubarak memang kaget pada perolehan IM di putaran pertama, yakni 34 kursi. Padahal, dalam pemilu lima tahun sebelumnya, IM hanya memperoleh 15 kursi.
Intimidasi dan premanisme ditingkatkan pada babak kedua. Namun, IM menambah kursi hingga 76. Dalam putaran kedua, 13 kandidat langsung lolos sekali coblosan, tanpa run off.
Dalam pemilu putaran ketiga, dua hari lalu, polisi huru-hara dengan sangat mencolok mencegat para calon pemilih oposan menuju TPS. Banyak pemilih yang ketakutan, namun banyak juga yang nekat. Bahkan, seorang warga tewas akibat ditembak, 60 lainnya luka.
Yang parah, polisi menangkap tak kurang dari 500 pendukung IM. Sejak coblosan dibuka 9 November lalu, sekitar 1.300 pendukung setia IM telah ditangkap.
Bila pemilu berjalan seperti putaran pertama, IM diperkirakan bisa meraih lebih 100 kursi. Meski hanya 76 kursi, IM sudah berhak mencalonkan seorang kandidat presiden, karena minimal 25 kursi bisa punya capres.
Sebenarnya, partai Mubarak, Partai Nasional Demokratik (NDP) tidak goyang. Namun, NDP tampaknya butuh untuk mengukuhkan dominasi dengan merebut 90 sisa kursi dari total 454 kursi parlemen. Mayoritas dua pertiga parlemen berhak mengubah konstitusi dan mengesahkan UU Darurat.
Setelah bungkam, AS mengaku prihatin melihat kekerasan di pemilu putaran terakhir kemarin. "Kami prihatin mendengar kekerasan yang terjadi di tahap terakhir proses pemilu Mesir," kata Deplu Sean McCormack, dengan kalimat berhati-hati. "Namun, seluruh proses pemilu adalah langkah penting bagi Mesir menuju reformasi demokratis."
Ditekan AS agar ada reformasi demokrasi, Mubarak mengizinkan para kandidat independen ikut pemilu, termasuk dari IM yang merupakan gerakan Islam terbesar yang dilarang sejak 1954.
Sayangnya, AS merasa hawatir kebangkitan IM yang kritis terhadap politik AS di Timur Tengah, lebih banyak diam di pemilu putaran pertama dan kedua.
Kasus ini menunjukkan perilaku ganda Barat, di mana satu pihak mengaku ingin menegakkan demokrasi, namun jika Islam yang menang Barat mengaku terancam. (afp/jp/cha)