Hidayatullah.com–Para Menteri Luar Negeri Arab berkumpul di Markas Liga Arab di ibukota Mesir, Kairo, dan membahas perkembangan regional paling akhir yang berkaiatan dengan dunia Arab dan menyerukan diakhirinya ketegangan antar-Palestina saat ini.
Di bawah kepemimpinan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Saud Al-Faisal, sidang rutin Dewan Liga Arab pada tingkat menteri luar negeri dimulai Senin (8/9) malam dan dilanjutkan Selasa (9/9) kemarin.
Masalah Palestina, terutama perselisihan di kalangan berbagai faksi yang bertikai, dan krisis antara Sudan dan Pengadilan Pidana Internasional (ICC) menempati agenda utama pertemuan itu, yang dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Liga Arab Amr Moussa.
Selama pertemuan tersebut, Pangeran Saud Al-Faisal menyeru negara-negara Arab untuk mengambil sikap menentukan terhadap setiap pihak yang menambah dalam percekcokan antar-Palestina dan menumpahkan darah orang Palestina.
Kini adalah saatnya bagi negara-negara Arab untuk bersikap solid dan tegas terhadap siapa yang menumpahkan darah rakyat Palestina dan mempertegas pembalian Palestina, kata Faisal.
Rakyat Palestina telah mengambil tanggungjawab penuh. Mereka telah menerima kerusakan bahkan yang disebabkan perjuangan antar mereka sendiri, katanya.
Pertempuran internal di kalangan faksi Palestina sama berbahayanya dengan permusuhan Israel terhadap rakyat Palestina, kata Pangeran Saud.
Diplomat tinggi Arab Saudi itu menyampaikan penghargaannya bagi upaya penengahan yang saat ini dilancarkan Mesir guna melanjutkan dialog perujukan nasional antar-Palestina.
Ia menyatakan Mesir bekerja keras untuk menghilangkan pertikaian di kalangan rakyat Palestina, dan menyerukan pembentukan mekanisme guna menindak-lanjuti dialog antar-Palestina.
Pada penghujung Agustus, para penengah Mesir memulai pembicaraan bilateral dengan delegasi berbagai faksi Palestina guna merancang sikap bersatu untuk menanggulangi krisis saat ini, terutama perseteruan antara Hamas dan Fatah.
Mesir direncanakan mengadakan pembicaraan bilateral langsung satu demi satu dengan 14 faksi Palestina, termasuk Fatah dan Hamas, guna mempersiapkan dialgo menyeluruh.
Khalil Al-Hayya, pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza, Senin, mengatakan Mesir akan mengundang para pemimpin Hamas pada akhir September untuk mengadakan pembicaraan bilateral.
Hamas menguasai Jalur Gaza pada pertengahan Juni 2007, setelah mengusir pasukan keamanan gerakan Fatah, pimpinan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang belakangan mendirikan pemerintah dukungan Barat di Tepi Barat Sungai Yordan. Fatah dan Hamas tak pernah mengadakan dialog sejak Hamas mengambil-alih Jalur Gaza.
Berbagai faksi Palestina, di bawah pengawasan Mesir, direncanakan memulai dialog nasional menyeluruh pada awal Oktober.
Senin pagi, Abbas juga tiba di Kairo untuk ikut dalam pertemuan tersebut dan memberi penjelasan kepada para menteri luar negeri Arab mengenai perkembangan paling akhir di wilayah Palestina, terutama upaya tentang perujukan nasional.
Sementara itu, Moussa memperingatkan mengenai dampak negatif tentang percekcokan antar-Palestina, dan menyeru sebagian negara Arab, termasuk Mesir, untuk membantu menyelesaikan sengketa antar-Palestina tersebut.
Masalah lain di Timur Tengah dan dunia Arab, termasuk situasi di Lebanon, Sudan, Irak, juga dibahas dalam pertemuan itu.
Mengenai krisis antara Sudan dan ICC, Moussa mengatakan itu dapat diselesaikan melalui kerjasama dengan semua pihak terkait, termasuk Pemerintah Sudan, Uni Afrika dan PBB. [xinhua/dpa/plt/hidayatullah.com]