Hidayatullah.com–The Telegraph melaporkan (1/4), informasi personal mengenai kehidupan pribadi hampir 1.000 mahasiswa Muslim Inggris diberikan kepada agen intelijen AS dengan alasan ketakutan atas kasus bom Detroit.
Pengungkapan itu tentu membuat marah kelompok dan mahasiswa Muslim yang tidak terlibat aksi kejahatan tapi menjadi target polisi, dan sekarang takut nama mereka masuk dalam daftar teroris internasional. Sampai saat ini, lebih dari 50 rumah mahasiswa Muslim telah didatangi oleh polisi, namun belum ada yang ditangkap.
Kasus ini menimbulkan keprihatinan atas cara polisi yang menggunakan data orang tak bersalah, dan memanggil mereka untuk menjalani interogasi. Hal itu merupakan perlakuan berlebihan pihak intelijen terhadap mahasiswa-mahasiswa Muslim di Inggris.
Pekan ini, para anggota parlemen mengkritik kebijakan-kebijakan kunci pemerintah dalam menangani terorisme, yang dianggap bisa mengasingkan komunitas Muslim.
Tahun lalu, The Independent melaporkan dugaan pelecehan atas pemuda-pemuda Muslim oleh agen intelijen, M15, yang berusaha merekrut mereka menjadi mata-mata. Dalam kasus terakhir, data rinci mengenai University College London (UCL) diserahkan ke polisi oleh organisasi mahasiswa, setelah para detektif mendatangi kampus awal Januari 2010, ketika mereka melakukan penyelidikan lanjutan atas percobaan pengeboman Detroit oleh Umar Farouk Abdulmutallab. Abdulmutallab kuliah di jurusan tehnik di UCL tahun 2005-2008, dan Presiden UCL Islamic Society 2006-2007.
Pada awalnya polisi mendekati UCL Islamic society, tapi mereka menolak memberikan informasi. Mojeed Adams-Mogaji, presidennya mengatakan, “Saya khawatir apa yang akan mereka lakukan terhadap data itu. Dalam sebuah pertemuan di Kepolisian Metropolitan, mereka mengatakan pada kami bahwa mereka akan menyimpannya selama 7 tahun, dan membagi data itu dengan agen intelijen lainnya, jika diminta. Tentu saja saya sangat khawatir dengan apa rencana yang akan mereka lakukan atas informasi ini.”
Gareth Pierce, seorang pengacara HAM terkemuka, mendampingi Islamic Society dalam urusan ini. Malam sebelumnya, ia menyebut tindakan polisi tersebut “sama sekali tidak tepat.”
“Anda bayangkan, jika dia [Abdulmutallab] seorang anggota perkumpulkan yang tidak memiliki kata Islam di dalamnya, apakah akan ada selera semacam itu, untuk merampas informasi tersebut. Hal itu menambah rasa takut, bahwa komunitas Muslim adalah komunitas yang dicurigai. Konsep keseluruhan dari perlindungan data, adalah untuk memastikan kerahasiaan. Dan sekarang sedang dilanggar tanpa alasan hukum, dengan memaksa pihak universitas memenuhinya.”
Eric Metcalfe, dari jaringan keadilan HAM mahasiswa mengatakan, tindakan polisi itu adalah salah satu contoh perlakuan polisi yang berlebihan dalam mengatasi radikalisme, dan bukan menginvestigasi dugaan kejahatan. “Tidak ada alasan polisi tidak bisa ke pengadilan dan meminta hakim mengeluarkan surat perintah yang harus dipatuhi oleh pihak universitas,” katanya. “Ini merupakan cara mengumpulkan data intelijen yang berlebihan, karena tidak menghormati privasi dan hak para mahasiswa.”
Zubair Idris, 21, mahasiswa kedokteran tahun kedua di UCL, mengatakan, “Saya merasa gusar dan marah. Menyerahkan 900 data rinci mahasiswa, hanya karena mereka anggota UL Islamic Society adalah konyol. Alasan mengapa saya ikut perkumpulan itu adalah karena alasan sosio-kultural. Saya tidak pernah bertemu orang itu [Abdulmutallab]. Saya belum di sini ketika dia masih kuliah.”
Sayyida Mehrali, 19, mahasiswa ilmu syaraf, menambahkan, “Saya rasa hal itu keterlaluan, informasi tentang saya diserahkan ke Kepolisian Metropolitan–padahal saya masuk UCL setelah Umar Farouk sudah tidak ada. Tidak mungkin saya bertemu orang itu, dan sangat mengejutkan mengetahui mereka menyimpan data lengkap saya dalam sebuah database.”
Polisi mendekati UCL Islamic Society pada 4 Januari 2010 agar memberikan daftar nama anggotanya periode 2005-2008. Berdasarkan saran hukum, mereka menolak memberikan data tersebut. Polisi kemudian mendekati persatuan mahasiswa untuk meminta data pribadi. Mereka kemudian memberikan nama dan alamat email anggota UCL Islamic Society, Royal Free dan UCL Medical Islamic Society antara September 205 dan Juni 2009. Kemudian polisi meminta informasi nomor telepon dan alamat rumah dari universitas. Informasi itu diberikan oleh UCL Registry.
Peran serikat mahasiswa dalam memberikan nformasi rahasia menimbulkan keprihatinan tersendiri. Adams-Mogaji mengatakan, “Kami mengetahui serikat mahasiswa memberikan data lengkap UCL Medical Islamic Society, padahal tidak diminta. Serikat mahasiswa seharusnya melindungi komunitas yang berada di bawahnya, dan tidak terburu-buru menyerahkannya tanpa ada keperluan. Kami jelas tidak merasa aman dengan serikat, dan kepercayaan kami terhadap mereka sudah pasti berkurang.”
Qasim Rafiq, mantan presiden UCL Islamic Sociey dan jurubicara Federation of Student Islamic Societies (FOSIS), mengatakan, “Memberikan data pribadi yang tidak perlu kepada polisi menunjukkan kurangnya perhatian atas data pribadi para anggota. Bagi saya, tindakan serikat terhadap anggotanya semacam itu, merupakan pelanggaran atas prinsip-prinsip serikat. Kami meminta agar serikat mahasiswa mengirim email kepada mahasiswa yang datanya diberikan kepada polisi dan yang tidak. Karena mahasiswa yang dihubungi polisi tidak tahu bahwa informasi detil tentang mereka sudah diberikan kepada polisi.”
Dalam sebuah pernyataan, Kepolisian Metropolitan mengatakan, “Sebagai bagian dari penyelidikan, polisi berbicara dengan sejumlah orang yang mungkin bisa memberikan informasi mengenai latar belakang Umar Farouk Abdulmutallab. Termasuk yang memilki hubungan dengan UCL, serikat mahasiswa, Islamic Society dan FOSIS.”
“Penyelidikan yang dilakukan di UCL–tempat Abdulmutallab kuliah antara tahun 2005 dan 2008–hanya satu bagian dari penyelidikan. Kami memastikan bahwa semua informasi yang dikumpulkan diperlakukan dengan hati-hati.”
Seorang jurubicara dari kantor pers UCL menolak untuk memerikan komentar mengenai kasus ini. Seorang jurubicara dari serikat mahasiswa mengatakan, “Polisi meminta serikat mahasiswa untuk memberikan data lengkap anggota UCL Islamic Society, Royal Free dan UCL Medical Islamic Society antara tahun 2005 dan 2008. Serikat mahasiswa hanya memberikan nama dan alamat anggota saja.”
Kasus serupa UCL, juga pernah dialami Universitas Dundee. Dari tahun 2005 hingga 2007, Mahasiswa Muslim di Universitas Dundee dilecehkan oleh Unit Polisi Khusus Tayside, yang menjadikan mereka target “kelompok etnis agama”, untuk menjaring informasi aktivitas yang “dianggap sebagai kegiatan ekstrimis”.
Dewan Penasihat Mahasiswa mengijinkan polisi mendatangi Freshner Fair untuk menanyai mahasiswa. Namun kemudian polisi meminta untuk bicara dengan mahasiswa secara tertutup, yang tentu saja menimbulkan protes. Polisi juga mendekati mahasiswa, menghadiri pertemuan dan acara-acara di universitas, serta mendatangi rumah mereka. Berulangkali polisi melecehkan anggota Dundee Islamic Society, malah selama terjadi perang Israel-Libanon 2006, mereka mendatangi flat mahasiswa-mahasiswa Muslim pada tengah malam. [di/tlg/hidayatullah.com]