Hidayatullah.com—Pemerintah Australia bersitegang dengan Israel. Pemerintahan Perdana Menteri (PM) Kevin Rudd mengusir seorang diplomat Israel terkait pemalsuan paspor.
Berdasarkan penyelidikan badan intelijen Australia atas penggunaan paspor-paspor palsu Australia di Dubai, disimpulkan bahwa paspor palsu itu merupakan pekerjaan badan intelijen pemerintah. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith pada parlemen Australia, Senin (24/5).
“Tak ada pemerintahan yang bisa mentolerir penyalahgunaan paspor-paspornya, khususnya oleh pemerintah asing,” cetus Smith, seperti diberitakan harian Australia, Sydney Morning Herald, Senin (24/5).
“Ini mencerminkan penghinaan nyata atas keamanan sistem paspor kita,” imbuhnya.
Skandal pemakaian paspor palsu ini muncul secara internasional, setelah pembunuhan seorang komandan Hamas, Mahmoud al-Mabhouh pada Januari lalu. Tokoh Hamas itu ditemukan tewas di kamar hotelnya di Dubai pada 20 Januari lalu.
Kepolisian Dubai telah mengidentifikasi 27 orang yang terlibat dalam pembunuhan itu. Sebanyak 12 orang di antaranya bepergian ke Dubai dengan menggunakan paspor palsu Inggris. Empat orang tersangka menggunakan paspor Australia atas nama empat orang berkewarganegaraan ganda Australia-Israel palsu.
Dikatakan Smith, bagusnya kualitas paspor palsu itu mengarah pada keterlibatan pejabat intelijen negara.
“Pemerintah telah meminta seorang anggota Kedutaan Israel di Canberra agar ditarik dari Australia,” kata Smith tanpa menyebut jati diri diplomat Israel tersebut.
“Saya telah meminta penarikan dilakukan dalam sepekan,” imbuh Smith.
Pada Maret lalu, pemerintah Inggris juga mengusir Kepala Mossad, intelijen Israel, di London atas penggunaan paspor palsu Inggris dalam pembunuhan al-Mabhouh di Dubai tersebut. Pemerintah Prancis, Irlandia dan Jerman juga menyelidiki penggunaan salinan paspor-paspor mereka dalam pembunuhan komandan Hamas tersebut. [tb/hidayatullah.com]
Keterangan Foto: Stephen Smith