Hidayatullah.com–Motif Jerman yang sebenarnya ikut perang di luar negeri (Afghanistan) diungkap oleh Presiden Horst Koehler dalam wawancaranya dengan sebuah stasiun radio. Merasa salah ucap karena telah mengungkap “rahasia”, Koehler akhirnya mundur.
Penyesalan, pastinya itu yang dirasakan oleh Horst Koehler setelah mengatakan motif sebenarnya dari pengiriman pasukan militer Jerman ke luar negeri adalah demi ekonomi negara.
Setelah mengunjungi pasukan Jerman di Afghanistan dalam waktu singkat dan mendadak pada Jumat 18 Mei lalu, Koehler diwawancarai oleh sebuah stasiun radio. Dalam wawancara itu secara terbuka ia mengatakan bahwa negara Jerman merupakan negara yang tergantung dengan ekspor. Oleh karenanya, pengiriman pasukan ke luar negeri dianggap “perlu … demi untuk membela kepentingan kita, misalnya seperti rute perdagangan bebas.”
Mendengar keterangan presidennya, muncul perdebatan sengit di dalam negeri mengenai pengiriman pasukan Jerman ke luar negeri, terlebih mengenai pasukan mereka yang berada di Afghanistan. Sebagaimana diketahui Jerman sendiri memiliki catatan sejarah militer yang kelam sejak dulu.
Merasa ada “rahasia” yang terungkap, kantor kepresidenan kemudian buru-buru menyatakan bahwa yang dimaksud Koehler adalah pengiriman pasukan patroli anti bajaklaut di perairan Somalia.
“Saya menyesal komentar saya atas sebuah pertanyaan penting dan sulit bagi negara kita akan mengarah pada kesalahpahaman,” demikian kata Koehler kepada para wartawan di Istana Presiden Bellevue.
Koehler juga mengeluhkan kritik yang mengatakan bahwa ia mendukung “misi yang tidak dilindungi konstitusi.”
“Kritik-kritik ini tidak berdasar,” ujar Koehler dalam pernyataan yang disampaikannya bersama dengan sang isteri, Eva Luise. “Kritik itu juga menunjukkan kurangnya rasa hormat atas kantor kepresidenan,” lanjutnya seperti dikutip AP yang dilansir Khaleej Times (31/5/2010).
“Merupakan kehormatan bagi saya untuk melayani Jerman sebagai presiden,” kata Koehler dalam pernyataan pengunduran dirinya sebagaimana dikutip Deutsche Welle. Pertanyaannya, mengapa ia merasa harus mundur hanya karena apa yang telah diucapkannya dalam wawancara tersebut, sehingga menjadikan dirinya sebagai presiden Jerman pertama yang mengundurkan diri dari jabatan.
Negara-negara Barat yang tergabung dalam NATO menyokong penuh serangan Amerika Serikat atas Afghanistan dengan alasan perang melawan teroris. Namun bagi kalangan yang memiliki pandangan jauh mengenai perang di banyak wilayah konflik di dunia yang melibatkan pasukan Barat, sudah dimaklumi bahwa sebenarnya tujuan mereka adalah mengamankan kepentingan ekonomi negaranya. Negara yang diduduki pasukan Barat semuanya kaya akan minyak dan memiliki posisi penting dalam lalulintas perdagangan.[di/klj/dw/hidayatullah.com]