Hidayatullah.com–Seorang pejabat di Kementerian Pendidikan Otorita Palestina membantah bahwa mereka menyetujui sebuah buku pelajaran yang mengajarkan tentang kisah Zionis dan Palestina.
Sebagaimana dilansir Maan, anggota Komite Kurikulum Kementerian Pendidikan Thwarwat Zaid hari Senin (11/10) menyangkal laporan harian Israel Haaretz yang menyebutkan bahwa Komite Kurikulum telah menyetujui buku itu. Dia mengatakan, mereka tidak mengetahui tentang buku tersebut dan juga belum membacanya.
“Learning the Historical Narrative of the Other” merupakan proyek buku yang digagas oleh sebuah kelompok asal Swedia serta para profesor dari Israel dan Palestina, dengan tujuan mempromosikan koeksistensi. Buku tersebut dilarang oleh Kementerian Pendidikan Israel pada bulan September, demikian tulis Haaretz. Disebutkan pula bahwa buku itu akan diajarkan di dua sekolah di Yericho.
Profesor Sami Edwan dari Universitas Betlehem yang menjadi salah seorang penulisnya mengatakan, buku tersebut berisi kompilasi cerita yang berasal dari orang-orang Palestina maupun Israel pada tahun 1900 hingga 2000.
Dia mengatakan, tujuan buku ajar itu adalah untuk menunjukkan perbedaan narasi yang ada dan lebih merupakan sebuah usaha untuk mendokumentasikan daripada meributkannya.
Buku itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Arab, dan Hebrew.
Seorang pejabat Israel yang dikutip Haaretz mengatakan, “Ramallah menyetujui buku tersebut setelah pejabat OP membacanya, sementara di Israel buku tersebut dilarang meskipun para pejabat di Yerusalem tidak memeriksa isinya. Dari sudut pandang Palestina, ini merupakan sebuah terobosan karena mereka siap untuk mengajarkan (sejarah) dengan narasi (versi) Israel. Di sisi lain, di Israel mereka tetap bertahan dalam posisi lama.”
Seorang kepala sekolah di Sderot dipanggil oleh Kementerian Pendidikan Israel karena telah mengajarkan buku itu kepada para siswa. Demikian tulis Haaretz. Para pejabat yang dikutip pernyataannya menggambarkan situasi itu sebagai “sangat memalukan,” dan mengatakan bahwa buku itu dilarang, bahkan sebelum kementerian benar-benar membacanya.
Dalam wawancara baru-baru ini dengan The Washington Post, Dubes Israel untuk AS Michael Oren mengatakan, “Kami memiliki banyak masalah dengan apa yang dilakukan oleh orang Palestina. Mereka mengajarkan anak-anak mereka dalam buku pelajarannya agar tidak mengakui hak kami untuk ada.” [di/maan/hrz/hidayatullah.com]