Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Fundamentalis, Radikalis, dan “the Real Terrorism”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Oktober 2010 15:09 3:09 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Oktober 2010 15:09
Bagikan
Bagikan

Berawal dari serangan “Black September” yang kerap disebut 9/11, yang meruntuhkan menara kembar di Wall Street Centre, kampanye dan “proyek terorisme” terus berkembang menuju negara-negara Muslim.

Setelah peristiwa menyeramkan itu, mendadak-sontak, Amerika menuding organisasi al-Qaidah sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap serangkaian peristiwa terorisme di banyak negara.

Opini mulai bergulir, tak lama berselang Amerika melancarkan invasinya terhadap Afghanistan dengan alasan pejuang Taliban yang memimpin pemerintahan negara tersebut telah memberikan ruang hidup bagi terbentuknya perkecambahan spora al-Qaidah.

Organisasi ini, konon, dituding oleh pemerintahan Bush sebagai ekstrimis, Islam radikal yang harus dimusnahkan. Tak berselang lama, Amerika menyerang ‘Negeri 1001 Malam’ dengan alasan klise, telah menyimpan senjata berbahaya yang hingga kini tak pernah ditemukan. Meski demikian, Amerika tetap dengan congkak menyebut Iraq berkembangnya sarang “teroris”. Yang jelas, tak ada hari tanpa menyebut al-Qaidah.

Sembilan tahun berselang, upaya yang katanya disebut heroik oleh Amerika beserta sekutunya telah mencapai kepada upaya internalisasi pemberantasan sel-sel al-Qaidah di negeri-negeri Muslim, yang pada akhirnya menunjuk hidung banyak aktivis dakwah sebagai gembong radikalisme.

Baca Juga

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

Hasil dari “proyek terorisme” Amerika ini, sampai juga ke Indonesia. Dampaknya bukanlah sedikit. Drama penangkapan di mana-mana, dan pembunuhan orang-orang yang belum tentu bersalah.

Sampai sejauh ini, hal-hal yang telah disangkakan sebagai tindakan terorisme tidak banyak terbukti. Meski demikian, penangkapan dan pembunuhan terhadap anak bangsa yang tak bersalah terus terjadi. Densus dengan gagah menembak mati di mana-mana. Herannya, media seolah membenarkan saja pembunuhan secara sistematis ini. Seolah nyawa di Indonesia tak ada harganya.

Bahkan tak sedikit pula kasus salah tangkap orang-orang yang diduga pelaku tindak pidana terorisme. Namun tidak pernah pula mereka mendapatkan haknya agar namanya direhabilitasi.

Wajah baru, gaya tetap lama!

Menyaksikan kejadian ini, mengingkatkan kembali gaya-gaya lama kolonialisme ketika menjajah Indonesia.

Pada waktu itu penjajah Belanda memposisikan sebuah pulau di Utara Batavia yang bernama Pulau Onrust sebagai tempat pelabelan bagi orang-orang yang dianggap membahayakan kelangsungan imperialisme Belanda di Indonesia.

Ketika itu umat Islam yang akan melaksanakan ibadah Haji diidentifikasi di tempat tersebut dan setelah mereka pulang akan diberi gelar “Haji”. Ya, gelar Haji yang sekarang banyak dibanggakan orang adalah sebuah upaya pelabelan yang negatif bagi umat Islam. Dengan memberikan gelar Haji, pemerintah kolonial mengira akan dengan mudah mencomot para ulama, ustadz, tokoh-tokoh Islam, dan menunjuk hidung mereka sebagai tersangka jika di suatu tempat terjadi upaya yang disebut pemberontakan terhadap para menir Belanda.

Bukan itu saja, sejarah juga mencatat bagaimana pemerintah kolonial menyusupkan dalam komunitas Muslim seorang bernama Dr. Snock Hurgronje. Dia berhasil memperdaya umat Islam dan mencitrakan diri sebagai sosok ulama imitasi bernama Abdul Ghofar dengan kesan seorang Islam moderat. Insting culas kolonialnya telah berhasil mengemas metode “Devide Et Impera” dengan gaya baru untuk merusak pemahaman Al-Wala Wal bara’ masyarakat muslim dan melumpuhkan dakwah Islam.

Kini, seperti kata pepatah bahwa sejarah akan terulang di masa akan datang telah menjadi kenyataan. Neo–Kolonialisme dengan dalang dan skenario yang dimodifikasi telah mencengkram rakyat Indonesia.

Jika dahulu Imperialisme Belanda mencengkram melalui Vereenigde oost indische Compagnie (VOC), saat ini imperialisme negara-negara adidaya dengan kontraktor pengeruk sumber daya alam Indonesia telah menerapkan skenario yang sama dan dengan sedikit revisi. Juga ada tambahan (suplemen) bernama “kampanye terorisme dan radikalisme”.

Gerakan Islam yang anti-penjajahan dinilai akan senantiasa menjadi batu sandungan bagi Neo-kolonialisme. Oleh sebab itu, penerapan gaya lama zaman Belanda dengan metode baru berjudul “terorisme” beserta tagline “radikalisme, ekstrimisme, Islam fundamentalis atau Wahabisme” menjadi skema yang rasional sebagai upaya polarisasi ummat Islam ke dalam kamar-kamar partisi.

Upaya pembentukan opini pun tak henti-hentinya menyajikan judul terorisme sebagai headline media massa. Wajar kiranya hal ini menjadi solusi propaganda, karena media senantiasa berpegang pada “Bad News is Good News”.

Bagi yang dianggap menjunjung demokrasi berstandar ganda yang sesuai dengan definisi Amerika dan sekutunya, maka mereka akan mendapatkan label “Moderat”, “Humanis” atau “Progresif”. Namun bagi mereka yang menolak kerjasama dengan Amerika dan sekutunya, mereka harus rela mendapatkan stempel “radikal”, “fundamentalis”, atau “tekstualis”

Stempel-stempel seperti ini nampaknya akan terus disajikan kepada masyarakat Muslim.

Hasil gerakan penjungkirbalikan opini ini, berbuah sukses dengan ‘sifat alergi antarumat Islam’ terhadap sesama saudaranya yang seiman. Satu ormas dengan ormas lain saling curiga dan saling tuding. Mereka berebut istilah “moderat”, seolah istilah itu bisa menenangkan batinnya dan terbebas dari tuduhan.

Sebagai penutup, kepada kaum Muslim, segeralah sadar akan tipu daya ini. Gerakan tipu daya yang “meneror” umat Islam ini, kadang dirasakan manis sementara. Padahal, ia adalah gerakan “teror” atas skenario global. Dan merekalah sesungguhnnya “the real terrorism”. Wallahu ‘Alam

*)Penulis adalah mahasiswa FMIPA, Jur. Farmasi UHAMKA. Email: [email protected]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Otoritas Palestina Bantah Loloskan Buku “Versi Israel”
Tulisan selanjutnya Barat Tolak Ungkap Tersangka Kunci Pembunuhan Al-Mabhouh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hapus Bukti Genosida, 100 Truk ‘Israel’ Angkut Puing-Puing Keluar Gaza Setiap Harinya

Berita
6 Agustus 2026 19:00
Dua Tentara Penjajah ‘Israel’ Tewas Akibat Bom di Lebanon Selatan
Pasukan Keamanan Nigeria Selamatkan 308 Korban Penculikan dari Taman Nasional Danau Kainji
Iran Eksekusi Dua Pria Terpidana Mata-mata Israel
Inggris Selidiki Badan Amal yang Diduga Danai Permukiman Ilegal ‘Israel’ di Palestina

Terbaru

  • Inilah Lima Poin Utama Pakta Pertahanan Mekkah antara Turki-Arab Saudi dan Pakistan
  • Liga Arab Sambut Pakta Pertahanan Makkah untuk Dunia Islam
  • Turki, Arab Saudi, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan Makkah: “Serang Satu, Hadapi Bertiga” 
  • Peringatan Arbain, Pro-Rezim Iran Bentrok dengan Pendukung Sadiq al-Shirazi
  • Pasukan Keamanan Nigeria Selamatkan 308 Korban Penculikan dari Taman Nasional Danau Kainji
  • Seminar Hidayatullah Bahas Isu LGSP dari Perspektif Psikologi, Keluarga dan Hukum
  • Militer Uganda Beri Penghormatan Abang Benyamin Netanyahu dengan Patung Memorial di Entebbe
  • MUI Tegaskan Pria Berbusana Wanita dalam Karnaval Kemerdekaan Hukumnya Haram
  • Jutaan Senjata Api di Tangan Warga Sipil, Thailand akan Perketat Izin Kepemilikan Usai Penembakan di Sekolah
  • Pelajar Pelaku Penembakan di Sekolah Bergengsi Thailand Pendiam dan Kerap Main Game Kekerasan

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?