Hidayatullah.com –PEN Center USA, sebuah organisasi di Amerika Serikat yang memiliki misi kebebasan bicara dan kebebasan pers tanpa sensor memberikan dua penghargaan karya tulis (literary award) kepada pendiri dan pemilik kerajaan pornografi Playboy, Hugh Hefner. Dia mempersembahkannya untuk Erwin Arnada dari Playboy cabang Indonesia.
Bertempat di Beverly Hills Hotel, Rabu 17 Nopember para hadirin memberikan tepuk tangan meriah sambil berdiri kepada Hefner saat dia naik ke panggung untuk menerima penghargaan tersebut.
Dalam kesempatan yang diberikan untuk bicara di panggung, Hefner tidak bercerita tentang karirnya, melainkan tentang Erwin Arnada, pimpinan Playboy Indonesia yang kini mendekam dalam penjara atas kasus pornografi.
“Saya menerima penghargaan ini atas dirinya dan seluruh pria yang memiliki niat baik, yang percaya bahwa demokrasi dibangun atas dasar kebebasan berbicara dan kebebasan pers,” kata Hefner sebagaimana dikutip BBC (19/11).
Hefner dianggap layak diberi penghargaan karena selama 50 tahun mendukung para penulis yang tidak mendapat penghargaan dan melawan kebijakan sensor atas media. Hefner mendapatkan penghargaan “Award of Honor” dan “First Amendement Award”.
Wartawan BBC yang mengunjungi Hefner di kediamannya di Playboy Mansion, menyampaikan kepada pria berusia 84 tahun itu bahwa dia berasumsi tidak ada yang membeli Playboy untuk membaca tulisan atau artikel di dalamnya, melainkan untuk melihat gambar perempuan telanjang. Sementara penghargaan yang diberikan adalah literary award, penghargaan untuk karya tulis.
Namun Hefner menyanggahnya, “Oh tentu,” katanya ngotot, “jika hanya (membeli) untuk (melihat) gambarnya, maka majalah yang paling sukses adalah … pornografi hard core. Ini (dinilai) keseluruhan.”
Sementara Wakil Presiden PEN kepada BBC mengatakan, Hefner telah “menampilkan Saul Bellow, dia mempublikasikan Gabriel Garcia Marquez, dia mempublikasikan John Updike, dia mempublikasikan sederet penulis luar biasa, penulis sastra serius yang bisa Anda dapatkan (bahkan) dari toko kelontong.”
Sebagaimana diketahui majalah Playboy tidak melulu dijual di toko buku sebagaimana buku-buku sastra pada umumnya. Playboy mudah didapat di mana saja, baik lewat penjual koran pinggir jalan maupun di toko-toko kelontong biasa.
Sementara itu Radio Netherlands (23/11) mewawancarai Lutfiana dari divisi perempuan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), untuk mendengarkan pendapatnya tentang penghargaan dari PEN yang oleh Hefner dipersembahkan antara lain untuk Erwin Arnada.
Menurut Lutfiana, Playboy memang mendobrak tabu, sebagaimana kaum posmo menginginkan kebebasan dalam hidup. Namun jika dilihat isinya, majalah itu hanya mempertontonkan tubuh perempuan saja.
“Saya sih menganggap majalah Playboy, terutama majalah Playboy di Indonesia ya, itu bukan termasuk majalah yang memperjuangkan persoalan-persoalan perempuan.”
“Jadi, banyak majalah di Indonesia yang beredar dengan moto yang sama atau dengan isi yang sama, yaitu lebih banyak mempertontonkan tubuh perempuan, mempertontonkan wajah-wajah cantik atau wajah-wajah yang ganteng gitu. Dan semata-mata itu bukan persoalan yang dihadapi para perempuan Indonesia.”
Saat menerima penghargaan Hefner menyampaikan bahwa Erwin Arnada termasuk orang yang memperjuangkan kebebasan pers. Dimintai komentar tentang hal itu Lutfiana menyatakan tidak setuju. Menurutnya Erwin ditangkap bukan karena kebebasan pers, melainkan karena Front Pembela Islam melaporkannya ke polisi.
Lutfiana menganggap majalah seperti Indonesia seperti Femina dan Jurnal Perempuan, atau majalah MS Magazine yang menampilkan banyak persoalan wanita dan feminisme lebih patut diberi penghargaan, dibanding majalah Playboy.
Tentang pemenjaraan Erwin Arnada, Lutfiana menyatakan tidak setuju.[di/bbc/rnw/ hidayatullah.com]