Hidayatullah.com–Amerika Serikat menuding Korea Utara memasok misil dan roket untuk tentara bayaran Wagner Group di Ukraina.
Gedung Putih mengatakan pengiriman senjata itu melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan akan mengumumkan sanksi lebih lanjut terhadap perusahaan keamanan asal Rusia itu.
“Wagner sedang mencari pemasok senjata di seluruh dunia untuk mendukung operasi militernya di Ukraina,” kata juru bicara keamanan nasional Gedung Putih John Kirby kepada wartawan.
“Kami dapat memastikan bahwa Korea Utara telah menyelesaikan pengiriman senjata awal ke Wagner, yang membayar untuk perlengkapan itu,” katanya.
Gedung Putih mengatakan perusahaan jasa keamanan asal Rusia itu menerima pengiriman roket infanteri dan rudal dari Korea Utara.
Kirby mengatakan Wagner menghabiskan lebih dari $100 juta setiap bulan di Ukraina. Kelompok tersebut sekarang menyaingi kekuatan militer Rusia, imbuhnya.
Menteri Luar Negeri Inggris James Cleverly mengatakan Inggris setuju dengan penilaian Washington.
“Fakta bahwa Presiden (Vladimir) Putin meminta bantuan Korea Utara adalah tanda keputusasaan dan terisolasinya Rusia,” kata Cleverly dalam sebuah pernyataan.
Baik Korea Utara maupun Wagner Group membantah laporan tersebut.
Pemilik Wagner Yevgeny Prigozhin membantah pernyataan tersebut, menyebutnya sebagai “gosip dan spekulasi”, sementara kementerian luar negeri Korea Utara menyebut laporan tersebut “tidak berdasar”.
Posisinya “tetap tidak berubah” dan transaksi senjata antara Korea Utara dan Rusia “tidak pernah terjadi”, kata seorang juru bicara Korea Utara.
Wagner Group diyakini pertama kali turun ke medan perang selama aneksasi Krimea oleh Rusia pada tahun 2014.
Pemiliknya, Prigozhin, adalah seorang oligarki yang dikenal sebagai “kokinya Putin” – dijuluki demikian karena ia sebelumnya adalah pemilik restoran dan katering yang menyediakan makanan untuk para pejabat dan staf di Kremlin.
Pada Maret 2022, Wagner diperkirakan telah mengirimkan pasukan awal lebih dari 1.000 orang. Namun, para pejabat Inggris mengatakan bahwa jumlahnya kini telah membengkak menjadi lebih dari 20.000 – sekitar 10% dari total pasukan Rusia di darat, lansir BBC (23/12/2022).
Lonjakan jumlah personel itu terkait dengan perekrutan narapidana di penjara Rusia. Pejabat Inggris mengatakan diperkirakan jumlah narapidana di penjara Rusia turun lebih dari 23.000 dalam dua bulan menjelang November 2022 – periode saat perekrutan dilakukan.
Banyak narapidana diyakini bergabung dengan Wagner – meski tidak ada angka pastinya. Diduga mereka diimingi bayaran dan keringanan hukuman setelah menjalani enam bulan penugasan di garis depan.
Wagner Group belakangan ini juga aktif di Suriah dan negara-negara Afrika, dan telah berulang kali dituduh melakukan kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia.*