Hidayatullah.com–Tidak seperti di Mesir atau Tunisia, meski banyak negara Barat berharap Qadhafi bisa runtuh, faktanya hingga kini ia masih kuat dan bertahan.
Dengan pendapatan perkapita 14.000 dollar per tahun, Qadhafi bisa menambah berbagai bonus pada rakyatnya yang bermimpi ingin revolusi. Sebagaimana ia dilakukan baru saja, pada hari Jum’at lalu, ia ‘menjinakkan’ hati rakyatnya dengan membagi-bagi uang. Di antaranya, Qadhafi menaikan gaji pegawai negeri dan pemberian subsidi pangan.
Dalam keputusan yang dilansir stasiun televisi nasional, setiap keluarga di Libya akan menerima tambahan uang sebesar 500 dinar (sekitar Rp3,5 juta). Sedangkan pegawai negeri akan mendapat kenaikan gaji hingga 150 persen.
Di saat yang sama, negara hijau itu juga membagi-bagikan tarif komunikasi yang murah meriah. Bahkan penyedia layanan komunikasi telepon selular, Libyana dan Madar membagikan pulsa gratis dengan jumlah yang relatif besar kepada seluruh pelanggannya. Pulsa siap pakai tersebut secara otomatis masuk ke ponsel masing-masing pelanggan.
Tidak hanya itu, penyedia layanan internet via Wimax, LTT ly, juga membagikan pulsa internet gratis untuk penggunaan selama sebulan ke depan. Dengan kebijakan seperti ini, kemungkinan revolusi sebagaimana diberitakan media, mungkin jauh dari mimpi.
Di bawah beberapa “rahasia” yang bisa jadi kemungkinan mengapa Qadhafi masih tetap kuat.
Pertama; Di Libya keseimbangan kekuasaan tidak berada di tangan militer konvensional. Namun, hal itu dipegang oleh jaringan rumit yang terdiri dari brigade-brigade paramiliter, “komite revolusi” yang terdiri dari pengikut setia dan dipercaya, para pemimpin kesukuan dan tentara bayaran yang didatangkan dari luar negeri.
Militer Libya sendiri hanya merupakan satu simbol, pasukan yang terdiri dari 40.000 tentara yang tidak dipersenjatai lengkap dan tidak terlatih dengan baik.
Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang Qadhafi untuk menghapus resiko kudeta militer, yang membuatnya menjadi pemimpin Libya pada tahun 1969.
Jadi pembelotan sejumlah elemen militer ke kubu pengunjuk rasa di Benghazi tidak akan mengganggu pikiran Kolonel Qadhafi. Tidak hanya karena mereka tidak diperlukan olehnya, badan-badan keamanannya tidak ragu-ragu mempergunakan serangan udara ke barak-barak militer yang terletak di wilayah timur Libya.
Jadi, siapa yang mendukung rejim Qadhafi sehingga dia bisa bertahan, sementara dua pemimpin negara tetangga jatuh akibat aksi protes rakyat?
Keamanan dalam negeri
Seperti banyak negara di Timur Tengah, Libya memiliki aparat keamanan dalam negeri yang dipersenjatai lengkap. Barat menilai, ini adalah langkah Qadhafi melemahkan militer resmi Libya.
Samakan situasinya dengan Stasi di Jerman Timur atau Securitate di Romania sebelum tahun 1989, di mana tidak satu orangpun bisa mengkritik rejim yang berkuasa di depan umum karena khawatir dilaporkan ke polisi rahasia yang sangat ditakuti.
Beberapa putra Kolonel Qadhafi bekerja untuk keamanan dalam negeri tetapi sekarang tokoh utama dalam badan keamanan, baik domestik dan luar negeri, berada di tangan ipar Qadhafi Abdullah Senussi.
Dengan reputasi bak seorang preman, Abdullah Senussi diduga kuat sebagai tokoh dibalik aksi kekerasan dalam menghadapi para pengunjuk rasa seperti yang terjadi di Benghazi dan wilayah timur negara itu.
Selama dia terus mengatakan kepada Qadhafi untuk terus bersikap keras, kecil kemungkinan dia akan mundur.
Kedua, Menyangkut paramiliter. Libya memiliki sejumlah “brigade khusus” yang berada di bawah Komite Revolusi bentukan Qadhafi, bukan militer.
Salah satunya diduga dipimpin oleh salah satu putra Qadhafi, Hannibal, yang baru-baru ini terlibat perkara dengan polisi Swiss di Jenewa setelah dia dituduh menyiksa pegawai hotel di kota itu.
Paramiliter, yang terkadang dikenal sebagai “Milisi Rakyat”, sejauh ini masih setia pada Kolonel Qadhafi dan lingkaran dalamnnya yang dalam bahasa Arab terkenal dengan nama Ahl- al-Khaimah atau “Orang di dalam Tenda”.
Jika paramiliter membelot ke kubu lawan secara masal, kemungkinan Kolonel Qadhafi bertahan akan terganggu.
Ketiga, Soal tentara bayaran. Laporan-laporan media terus menerus melaporkan bahwa rejim Kolonel Qadhafi semakin sering mempergunakan tentara bayaran dari Afrika yang kebanyakan berasal dari negara-negara Sahel seperti Chad dan Niger, untuk melakukan kekerasan terhadap pengunjuk rasa sipil yang tak bersenjata.
Kolonel Qadhafi sudah lama menjalin hubungan dekat dengan negara-negara Afrika setelah menolak Dunia Arab, dan diperkirakan terdepan 500.000 warga asing asal Afrika di negara itu dari enam juta populasi Libya.
Jumlah mereka yang menjadi tentara bayaran diperkirakan tidak banyak namun kesetiaan mereka pada rejim ini dilaporkan sangat tinggi dan dilaporkan beberapa hari ini ada penerbangan tambahan untuk membawa tentara bayaran lebih banyak lagi. */bersambung