Hidayatullah.com–Tokoh demokrasi Birma Aung San Suu Kyi menyatakan terkesan dengan gelombang protes rakyat yang melanda negara-negara Arab dan menyebutnya sebagai inspirasi bagi rakyat Birma.
Hal itu disampaikan Suu Kyi dalam wawancara yang akan ditayangkan radio BBC pada hari Selasa (28/6).
Dalam wawancara itu, Suu Ki membandingkan perjuangan rakyat Timur Tengah melawan rezim otoriter dengan perjuangan rakyatnya untuk menggulingkan penguasa. Birma atau yang dikenal juga dengan Myanmar, dikuasai oleh pemerintah diktator sejak tahun 1962. Tahun 1988 dan 2007 rakyat Birma bergerak menuntut reformasi politik, namun tentara pemerintah menembaki mereka. Upaya itu pun gagal.
“Mengapa gejolak di Arab menjadi inspirasi bagi orang Birma? Karena kami hidup sebagaimana mereka,” kata wanita peraih hadiah Nobel tersebut.
“Kami di Birma, iri dengan revolusi Mesir yang begitu cepat dan mudah,” tegasnya.
Penguasa Birma membebaskan Suu Kyi pada Nopember 2010 dari tahanan rumah yang telah dijalaninya selama 7 tahun. Para pengamat menilai pembebasan itu adalah upaya pemerintah untuk meredam tekanan internasional.
Suu Kyi mengatakan, meskipun sama-sama dipicu kejadian kecil, aksi demonstrasi menentang pemerintah di Birma sangat berbeda dengan di Tunisia. Perbedaannya, angkatan bersenjata Tunisia tidak menembaki rakyatnya sendiri, sementara di Birma, warga sipil dihujani tembakan. Di Tunisia fasilitas komunikasi juga relatif lebih maju.
“Itu tidak hanya membuat mereka bisa lebih mengorganisir dan mengkoordinasikan gerakan mereka. Tapi juga bisa menarik perhatian dunia untuk tetap memusatkan perhatiannya kepada mereka,” jelas Suu Kyi.*