Hidayatullah.com–Biasanya kita mendengar orang pergi mengungsi mencari penghidupan ke Amerika Serikat, bukan sebaliknya. Tapi kini, karena negara adidaya itu sedang krisis parah, warganya pun berbondong-bondong ke Kanada mencari pekerjaan.
Menurut keterangan pejabat Kanada, jumlah orang Amerika yang mengajukan visa kerja sementara naik dua kali lipat antara tahun 2008 dan 2010.
Para pengacara imigrasi di Toronto dan kota perbatasan Windsor — yang berseberangan dengan Detroit — mengatakan, mereka mendapatkan jumlah klien yang meningkat. Orang-orang itu adalah para pencari kerja. Bahkan ada yang berusaha mendapatkan izin tinggal permanen.
Angka imigran Amerika di Kanada tergolong kecil dibandingkan angka imigran global. Meskipun demikian, dengan jumlah imigran 30.000, Amerika menempati urutan kedua pekerja migran terbanyak di Kanada, setelah Filipina.
Di tengah krisis ekonomi dan keuangan yang melanda dunia, Kanada tergolong negara yang tidak terlalu parah terkena dampaknya.
“Saya mencari lingkungan masyarakat yang sepi, tenang dan beradab untuk memulai fase kehidupan saya selanjutnya,” kata Michael, seorang profesional kerah putih asal Michigan yang kini sedang tidak punya pekerjaan.
Banyak di antara para calon migran AS itu yang enggan menyebutkan nama lengkapnya saat ditanyai wartawan. Mereka khawatir, kalau-kalau mendapat respon yang kurang baik saat melamar pekerjaan nantinya.
Meskipun mengaku punya jiwa patriotik dan konservatif, Michael mengatakan bahwa dirinya kehilangan kepercayaan terhadap kepeminpinan di Amerika Serikat.
“Saya mencari sebuah negara yang peran utama pemerintahnya adalah melindungi warganya,” kata Michael.
“Saya melihat, sepertinya ketiga partai besar [di Kanada] telah membuktikan bahwa mereka lebih bertanggungjawab dibandingkan kepemimpinan kita,” kata Michael.
Kanada, dengan tingkat pengangguran 7 persen pada bulan Juli, tentu lebih menarik minat para pekerja AS yang harus menghadapi tingkat pengangguran 9,1 persen di negaranya.
Selain menarik minat para imigran pencari kerja, Kanada ternyata juga menarik perhatian para calon mahasiswa.
Meskipun biaya kuliah di perguruan tinggi ternama bagi orang asing lebih mahal 3-4 kali dibanding yang dibayarkan warga Kanada, namun biaya sekolah di sana masih lebih murah dibandingkan di Amerika Serikat.
Bagi John Cameron, awalnya memang agak berat harus kuliah di Universitas Toronto, pilihan ayahnya. Sebab ia mengincar kampus Loyola, Universitas Maryland, Columbia dan Fordham. Tapi apa mau dikata, ibunya yang punya jabatan senior di sebuah bank di Maine, pada tahun 2009 bertepatan saat ia harus masuk universitas, malah kehilangan pekerjaannya.
Setelah beberapa waktu, Cameron ternyata sangat menyukai kuliah di Kanada.
“Saya sungguh sangat menyukainya,” kata Cameron. “(Sekolah) itu mengalahkan salah satu sekolah terbaik di Amerika Utara.”
Seorang wanita Amerika yang tidak mau mengungkapkan identitasnya mengatakan bahwa dirinya sangat terkejut dengan kecepatan dan efisiensi pelayanan jaminan kesehatan di Ontario. Padahal di Amerika Serikat, seluruh negeri masih terus meributkan kebijakan jaminan kesehatan pemerintah.
Orang Kanada yang merasa Amerika Serikat telah menjadi rumah keduanya selama puluhan tahun, bahkan memilih untuk kembali pulang ke kampung halaman.
Al Brickman belum lama ini keluar dari pekerjaannya selama 30 tahun di sebuah perusahaan konstruksi milik Kanada di Atlanta, Georgia.
“Saya berusaha untuk bertahan selama kira-kira dua tahun,” katanya. Tapi tagihannya yang dulu bisa dikumpulkan dari pelanggan sekitar USD 100.000, selama beberapa bulan turun drastis sebanyak 95%.
Di Kanada, Al Brickman sudah punya pekerjaan baru sebagai general manager. Istrinya yang orang Amerika dan bayi mereka yang baru berusia 11 bulan, akan segera diboyong.
Lucunya, sejak ia kembali ke Kanada, teman-temannya yang berada di Amerika terus menghubungi Brickman. Mereka minta dicarikan pekerjaan.
Sementara itu Shawn Shepard, seorang penyelia software legal yang menjadi salah satu dari ratusan korban PHK di sebuah firma hukum di Manhattan pada tahun 2008, sedang berharap-harap agar calon majikannya di Kanada akan segera memanggilnya untuk bekerja.
Sepertinya Amerika Serikat, negara yang menyebut dirinya adidaya, kini sudah tidak mampu memberikan “American Dream” bahkan kepada warga negaranya sendiri.*