Hidayatullah.com–Parlemen Kosovo menolak proposal yang diajukan sebuah partai Muslim tentang dimasukkannya materi agama ke dalam kurikulum sekolah-sekolah di seluruh negeri. Rancangan undang-undang yang dibuat oleh Partai Keadilan itu ditolak secara bulat, pekan lalu. Demikian lansir Deutsche Welle, Kamis (08/9).
Penolakan itu menunjukkan ketegangan yang meningkat antara kelompok relijius, moderat dan sekuler di negara mayoritas Muslim bekas provinsi di Serbia (pecahan Yugoslavia) itu.
Pada musim panas bulan Juli kemarin, ketegangan itu dapat dilihat di jalan-jalan. Kelompok Muslim relijius menggelar shalat bersama di jalan, seraya melakukan unjuk rasa menuntut pembangunan sebuah masjid baru di ibukota Kosovo, Pristina.
Di Pristina memang ada 22 masjid, tapi sebagai agama mayoritas di mana 90 persen penduduk Kosovo adalah Muslim, jumlah itu dirasa kurang. Muslim tidak memiliki masjid yang cukup untuk menampung jamaah shalat Jum’at dan shalat hari raya. Sementara penduduk Kristen yang jumlahnya hanya 3 persen dari total populasi Kosovo atau kurang dari 2 juta jiwa, memiliki gereja besar dan megah di ibukota.
“Kami layak mendapatkan tempat ibadah dan menjalani kewajiban yang diberikan Tuhan kepada kami,” kata Fatos Rexhepi Juli lalu (26/7/2011). Rexhepi adalah pemimpin Bashkohu, salah satu kelompok yang menuntut pembangunan masjid baru di ibukota Kosovo.
“Sebagian besar populasi Kosovo adalah Muslim, dan tidak ada tempat yang cukup untuk kami,” kata Armend Bajrami, seorang mahasiswa universitas Pristina dan pendukung Bashkohu.
Namun tuntutan di atas dinilai berlebihan oleh sekelompok Muslim lain. Salah satu yang mengecam adalah Xhabar Halti, profesor teologi di Universitas Pristina.
Pristina tidak membutuhkan masjid baru, kata Halti. Tindakan Bashkohu yang melakukan shalat di jalanan juga dinilainya berlebihan.
Menurut Halti, Bashkohu tidak mewakili suara Muslim Kosovo, dan tidak boleh dibiarkan Muslim Kosovo dipimpin oleh orang-orang yang sepaham dengan mereka.
“Mereka tidak resmi mewakili Islam di sini, itu satu hal yang paling pokok,” kata ketua lembaga komunitas Muslim Kosovo itu.
Halti menuding Bashkohu dan kelompok-kelompok yang sepaham dengannya teracuni pemahaman Islam ala Arab Saudi. Pemahaman yang menurut Halti dibawa oleh lembaga-lembaga amal asal Arab Saudi, saat mereka memberikan bantuan kepada Kosovo saat terjadi perang di akhir 1990-an.
Islam masuk ke Kosovo sekitar 600 tahun lalu, saat wilayah itu menjadi bagian dari Kekhalifahan Utsmani. Ketika komunis menguasai Balkan, sama seperti di wilayah tetangga mereka, komunitas Muslim tercabut dari nilai agamanya nyaris hingga akarnya. Sebagian penduduk Balkan, yang mengintrospeksi diri saat terjadi perang di pecahan Yugoslavia tahun 1990-an, ada yang mengakui bahwa keislaman mereka selama berpuluh tahun hanya di bibir, karena sehari-hari tidak pernah mengamalkan perintah agama Islam. Di kemudian hari, pemahaman Islam yang berkembang di wilayah itu cenderung liberal.*