Hidayatullah.com–Dalam pidato pertamanya setelah Muammar Qadhafi digulingkan, pemimpin pemberontak Libya Musafa Abdul Jalil menyampaikan berbagai rencana untuk menciptakan negara demokratik modern berdasarkan “Islam moderat” kepada ribuan pendukung yang mengibarkan bendera di tempat yang sekarang dinamakan Lapangan Syuhada.
Dalam pidato pertama sejak pindah ke ibu kota dari daerah kekuasaan NTC di Benghazi, Jalil mengatakan kepada 10.000 pendukungnya untuk menghindari serangan balasan dan menambahkan para pemimpin baru Libya untuk tidak menerima idiologi ekstremis.
“Kita negara Islam, Islam moderat, dan kami akan mempertahankannya. Anda bersama kami dan mendukung kami – Anda senjata kami untuk menghadapi siapapun yang berusaha menghancurkan revolusi,”katanya dalam pidato yang disiarkan langsung lewat tv, seperti dikutip BBC (13/9).
Jalil mengatakan wanita akan berperan aktif di Libya baru dan dia mengucapkan terima kasih kepada sejumlah negara -termasuk Prancis dan Inggris- karena telah mendukung Dewan Transisi Nasional.
Jalil dan rekan-rekannya masih menghadapi masalah besar, karena Qadhafi masih buron dan banyak pendukung setianya melarikan diri ke negara-negara tetangga seperti Aljazair dan Niger.
Sebelumnya Qadhafi bersumpah lewat pesan tv untuk bertempur “sampai menang”. Keberadaan pemimpin berumur 69 tahun yang buron tersebut masih belum diketahui.
“Yang bisa kami lakukan adalah berjuang sampai menang dan mengalahkan (mereka yang melakukan) kudeta,” kata Qadhafi lewat sebuah pernyataan yang disampaikan pembaca berita pada stasiun tv pendukungnya.*