Hidayatullah.com—Amerika Serikat (AS) sering mengaku kampiun demokrasi dan membawa misi perdamaian dunia. Tapi, kesan ini sering bertolak belakang di lapangan.
Fakta terbaru ketika lebih dari 100 negara resmi mengakui Palestina sebagai negara berdaulat berdasarkan perbatasan tahun 1967. Justru Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa Washington akan berjuang mati-matian untuk menggagalkan langkah Otoritas Palestina.
Ancaman AS dan Israel datang di saat beberapa negara anggota Dewan Keamanan PBB, yang juga punya hak veto, telah menyuarakan dukungan mereka atas usulan Palestina.
Sebagaimana diketahui, dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-66 pada tanggal 20 September mendatang, akan memberikan suara kepada negara Palestina.
Namun Washington dalam pernyataannya hari Rabu (14/09/2011), mengumumkan mereka dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dan Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas sebagai bagian dari upaya mereka.
Misi oleh utusan Amerika untuk Timur Tengah, David Hale, dan penasihat senior Gedung Putih, Dennis Ross, tampaknya menjadi bagian “rekayasa” untuk mencegah rakyat Palestina dari memburu untuk meningkatkan status mereka di PBB bulan ini.
“Satu-satunya cara mendapatkan solusi langgeng adalah melalui negosiasi langsung antara para pihak dan jalan yang terletak antara Yerusalem dan Ramallah, bukan di New York,” papar Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton kepada wartawan, Selasa lalu di Washington.
Sebelumnya, AS juga terang-terangan akan menghambat upaya Palestina merdeka dan mengancam akan menveto segala upaya yang dilakukan untuk pengakuan negara Palestina di PBB.
“Seharusnya bukan lagi kejutan bagi siapa pun di ruangan ini bahwa AS menentang gerakan Palestina untuk mendirikan negara. Upaya itu hanya bisa dicapai lewat negosiasi,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Victoria Nuland, Kamis (8/09/2011) pekan lalu, dalam sebuah keterangan pers yang dikutip Voice of Amerika (VoA).
“Jadi ya, jika gerakan itu mengarah pada pemungutan suara di Dewan Keamanan PBB, AS pasti akan memveto,” imbuhnya.
Senada dengan Amerika, Perdana Menteri Zionis-Israel Benjamin Netanyahu mengatakan rencana Palestina untuk mendapatkan pengakuan sebagai negara merdeka di PBB akan sia-sia.
Pernyataan Netanyahu ini menanggapi pidato Presiden Palestina Mahmud Abbas di Tepi Barat hari Jumat lalu, di mana ia berbicara mengenai upaya untuk mendapat pengakuan penuh sebagai negara merdeka di PBB minggu depan, dalam pidato yang disiarkan hari Jumat (16/09/2011) di Ramallah, Tepi Barat.
Amerika juga memperingatkan, jika Palestina mengajukan usul kemerdekaan itu ke Dewan Keamanan PBB, negeri Paman Sam ini akan menggunakan hak vetonya. *