Hidayatullah.com–Pasukan keamanan dikerahkan untuk mengamankan prosesi pemakaman mantan Presiden Afghanistan, Burhanuddin Rabbani, yang dihadiri ribuan warga Kabul. Burhanuddin Rabbani tewas dalam serangan bom bunuh diri di kediamannya di Kabul, Selasa (20/09) lalu.
Zona diplomatik Kabul dijaga ketat untuk menghindari kemungkinan serangan kelompok militan yang akan mengacaukan jalannya pemakaman. Semua jenis kendaraan bermotor dilarang melintas zona diplomatik. Selain itu, semua pelayat yang hadir menjalani pemeriksaan ketat. Bahkan demi alasan keamanan daftar tamu penting terutama pejabat asing yang datang melayat sangat dirahasiakan.
“Saya tak bisa mengatakan apakah ada pejabat internasional yang hadir demi keamanan mereka,” kata anggota Dewan Tinggi Perdamaian, Mohammad Ismail Qamsiyar seperti dikutip AFP.
Ribuan pelayat berdatangan ke ibukota Kabul untuk menghadiri upacara pemakaman kenegaraan untuk Rabbani di Istana Presiden Afghanistan.
Anggota militer lengkap dengan topi dan sarung tangan putih menjadi pembawa peti jenazah Rabbani yang dibalut bendera nasional Afghanistan. Peti jenazah diletakkan di sebuah mimbar di luar istana kepresidenan.
Puncak dari sebuah bukit di dekat ibukota Kabul menjadi tempat peristirahatan terakhir mantan presiden Afghanistan yang dibunuh pelaku bom bunuh diri itu.
Presiden Hamid Karzai hadir di antara para pelayat di istana negara untuk memberikan penghormatan terakhir.
Anggota militer lengkap dengan topi dan sarung tangan putih menjadi pembawa peti jenazah Rabbani yang dibalut bendera nasional Afghanistan. Peti jenazah kemudian diletakkan di sebuah mimbar di luar istana kepresidenan.
Selanjutnya para pejabat negara secara bergantian datang ke mimbar dan membungkukkan badan tanda penghormatan.
Dilahirkan pada tahun 1940 di Faisabad, Afghanistan utara, Burhanuddin Rabbani adalah salah seorang mujahidin Afghanistan, yang ikut memerangi pasukan Soviet yang menjajah negar a itu di tahun 1980-an.
Tahun 1992 hingga 1996 dan tahun 2001, Burhanuddin Rabbani menjabat sebagai presiden Afghanistan.
Ia menjadi anggota senior Aliansi Utara Anti-Taliban dari tahun 1996 hingga 2001.
Presiden Hamid Karzai kemudian mengangkat pria, yang menjadi profesor hukum dan teologi Islam di Universitas Kabul dalam usia 23 tahun itu, menjadi pimpinan Dewan Tinggi Perdamian dengan tugas melakukan negosiasi dengan kelompok Taliban.
Pada hari Selasa (20/9) malam, seorang pria yang mengaku sebagai utusan dari Taliban menemuinya dan meledakkan bom yang disembunyikan di dalam turbannya. Bekas pejuang dan presiden Afghanistan itu pun meninggal seketika.*