Hidayatullah.com—Navi Pillay, kepala badan HAM PBB UNHCR meminta dilakukannya penyelidikan atas konflik agama di Arakan, Myanmar (Burma) antara etnis Rohingya (Muslim) dengan etnis Rakhine (Buddhis).
Pillay mengatakan, aparat keamanan yang dikirim untuk menghentikan kekerasan di provinsi bagian utara Myanmar tersebut justru dilaporkan melakukan penyerangan dengan target Muslim Rohingya. Demikian ditulis BBC (28/7/2012).
“Kami menerima banyak laporan dari sumber independen terkait dugaan tindakan diskriminatif dan sewenang-wenang yang dilakukan pasukan keamanan, dan bahkan hasutan yang mereka sampaikan dalam keterlibatan di kerusuhan,” kata Pillay.
“Laporan mengindikasikan bahwa respon dari otoritas untuk mengatasi kekerasan komunal mungkin telah berubah dengan target tindakan keras terhadap Muslim, terutama anggota komunitas Rohingya,’” ujarnya.
Pillay menyambut keputusan pemerintah Myanmar yang mengijinkan utusan PBB untuk masuk ke Arakan pekan depan, tetapi mengatakan “tidak ada pengganti untuk penyelidikan indpenden yang lengkap.”
UNHCR menyatakan sekitar 80.000 pengungsi ditempatkan di sekitar kota Sittwe dan Maungdaw. Kebanyakan pengungsi tinggal di tenda penampungan dan lebih banyak tenda kini dikirim melalui udara untuk membantu mereka.
Juru bicara UNHCR Andrej Mahecic mengatakan banyak orang yang takut untuk kembali ke rumah mereka. “Sejumlah pengungsi mengatakan kepada UNHCR bahwa mereka ingin pulang untuk kembali bekerja, tetapi mereka takut atas keselamatan diri mereka,” katanya.*