Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Seorang Diplomat yang Membelot dari Rezim Assad Cerita Pembantaian yang Ia Saksikan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 April 2016 06:27 6:27 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 April 2016 06:22
Bagikan
Presiden Amerika Serikat ke-37 Richard Nixon bersama Hafez al Assad
Bagikan

Hidayatullah.com—Seorang diplomat Suriah Lama Ahmad Iskandar dibesarkan di sebuah rumah di mana sebuah foto besar dari diktator Suriah Hafez Assad, ayah Bashar Al Assad menempati posisi mencolok di ruang tamu.

Itu tidak aneh bagi rumah keluarga Lama karena dia adalah putri dari menteri informasi paling terkenal dari rezim Assad, Ahamd Iskandar Ahmad.

Namun, pembelotan Lama menjadi tidak mungkin mengingat bahwa dulu dia adalah seorang penasihat yang baru diangkat di kedutaan rezim Assad di Islamabad di Pakistan. Lama, yang turun dari sekte yang berkuasa; Alawi, putri dari Menteri Informasi yang menciptakan mitos diktator Suriah, Hafez Assad, dalam imajinasi rakyat Suriah.

Lama ingin membuat semua sejarah itu sebagai bagian dari pesan darinya ketika dia membelot pada Juni 2013 setelah beberapa bulan persiapan dengan Tentara Pembebasan Suriah.

Lama Ahamd memandang kasusnya sebagai contoh bagi banyak pendukung rezim yang salah arah atau tertipu.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Saya belum mendengar tentang apa yang terjadi di Tal al-Zaatar, sebuah kamp pengungsi Palestina di mana pasukan Assad melakukan pembantaian terhadap warga Palestina pada bulan Agustus 1976, sampai tahun 2000. Itu adalah kejutan pertama saya,” ujarnya dikutip Orient Net dari Al-Quds Al-Araby Selasa (12/04/2016).

Lama kemudian menjelaskan suasana di mana ia dibesarkan.

“Ayah saya adalah menteri informasi Assad selama sepuluh tahun – antara tahun 1973 dan 1983 – foto Hafez Assad di atas kepala kami di rumah. Sulit dipercaya bahwa teladan Anda dalam kehidupan sebenarnya seorang penjahat. ”

“Pertanyaan pertama saya muncul ketika saya adalah seorang mahasiswa di Universitas Damaskus di mana saya belajar di Fakultas Perdagangan. Profesor kami kemudian adalah Prof. Aref Dalila, ekonom Suriah yang terkenal, yang membantu kami menemukan fakta-fakta baru. Prof. Dalila mengatakan pada saya: “Anda membela penjahat.” Dia menceritakan kepada saya tentang Tal al Zaatar untuk pertama kalinya, “kata Lama.

Setelah kejadian itu, Lama pergi ke arsip ayahnya, pria yang selalu ia percaya, Saya menemukan bahwa ia menulis, mereka melakukan kesalahan yang mengerikan di Tal al-Zaatar. Kemudian ketika Lama bekerja di kementerian luar negeri, ia menyadari gambaran nyata dari rezim Assad. Dia menemukan bahwa korupsi adalah suatu proses yang sistematis dan sadar bahwa dia memiliki dua pilihan saja: baik bekerja dengan jaringan mafia dari rezim atau pindah.

Lama meneruskan kisahnya yang dimulai dengan Arab Spring. Dia berkata pada dirinya sendiri, ketika dia dulu berada di Kingdom of Silence, bahwa ia akan bertekad untuk bergabung dengan pemberontakan apa saja di Suriah jika terjadi di sini.

Lari dari pekerjaannya selalu merupakan sebuah pilihan namun hal tersebut menakutkan karena siapa saja yang mungkin melakukan hal itu akan dikenakan tuntutan.

“Mata pemantauan rezim itu terbuka lebar,” tambah Lama.

“Saya dulu tinggal di lingkungan Yusuf al-Azma. Saya harus menyetir mobil sehari-hari dekat persimpangan Darayya dan Muadamiyah. Saya tidak membesar-besarkan jika saya mengatakan bahwa selalu ada mayat baru yang tergeletak di jalan setiap hari. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya melaju pergi, ” kata Lama sementara air mata menetes dari matanya.

Lama, dirinya, menjadi saksi dua pembantaian yang terjadi di dekatnya rumahnya. Yang pertama terjadi di Jdaidet al-Fadl dan yang kedua di Jdaidet Artouz pada bulan Agustus 2012.

“Ya, saya menyaksikan mereka. Darah masih ada di atas tanah, “kata Lama.

Lama kemudian melanjutkan.

“Ada sebuah peluncur rudal di sebelah rumah kami; kami takut. Kami tinggal di rumah selama empat hari dan pintu ditutup. Kami mendengar segala sesuatu dan suara orang-orang. Kemudian mereka menumpuk mayat-mayat dan membakar mereka. Baunya di mana-mana,” ujarnya.*/Karina Chaffinch

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bashar al assaddiktatordiplomatHafez AssadKorupsiLama Ahmad Iskandarsuriah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Muslim Malaysia Dukung Kuliah Agama Dr Zakir Naik Diteruskan Meski Liberal Kecewa
Tulisan selanjutnya Tim Dokter Muhammadiyah Ungkapkan Rahasia Penyebab Jasad Siyono Masih Utuh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Berita
13 Juli 2026 18:00
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?