Hidayatullah.com—Hari ini, para pengunjuk rasa pendukung presiden Mesir yang digulingkan Mohammad Mursy mulai memakamkan sebagian korban yang gugur akibat dibunuh dalam serangan yang dilakukan pasukan militer Mesir di tengah kecaman meluas di dunia Arab dan internasional atas pembantaian tersebut.
Sebelumnya rumah sakit lapangan di Rabi’ah al Adawiyah dan laporan-laporan berbagai media memastikan banyak korban gugur dari para pendukung presiden terpilih Muhammad Mursy, sebagian besarnya terkena tembak di kepala, dada dan jantung secara langsung. Dari lebih dari 5000 pengunjuk rasa mengalami luka-luka, 200 di antaranya terkena tembak.
Mengutip Pusat Informasi Palestina (PIC), direktur rumah sakit lapangan menjelaskan lebih dari 50 korban yang terluka dalam konsisi kritis dan telah dibawa ke rumah sakit-rumah sakit terdekat.
Mengutip Reuters, serangan diawali oleh tembakan gas air mata saat massa menjalankan salat Subuh. Tembakan gas air mata itu dibalas dengan lemparan batu oleh massa anak muda berani mati pendukung Mursy yang menyebut dirinya ’’Pemuda Siap Mati Syahid’’.
’’Mereka tidak menembak untuk melukai, tapi membunuh,’’ ujar Juru Bicara Al Ikhwan al Muslimun Gehad el Haddad kemarin.
Pola serangan menjelang fajar tersebut mirip serangan serupa terhadap pendukung Mursy di kompleks Garda Republik di Kairo, tiga pekan lalu. Saat itu, militer juga menembaki massa yang sedang salat Subuh dan menewaskan 61 orang.
Selain di Kairo, bentrokan hebat dilaporkan terjadi di Iskandariyah, kota terbesar kedua setelah Kairo. Media massa setempat melaporkan, sekitar 200 pendukung Mursy masih terperangkap di Masjid Agung Qaid Ibrahim di pusat Kota Iskandariyah karena dikepung aparat kemanan sejak Jumat malam (26/07/2013).
Yang menarik, tragedi menjelang fajar tersebut tidak disiarkan satu pun televisi pemerintah. Di layar TV hanya tampak berkali-kali tayangan ulang demo pendukung tentara.
Laporan Reuters di tempat kejadian melihat, minimal ada 36 mayat yang tergeletak. Sementara itu, stasiun televisi Aljazeera melaporkan bahwa 120 orang tewas dan 4.500 lainnya luka-luka.
AljJazeera juga melaporkan, dokter di rumah sakit menyatakan 16 orang tewas. Petugas kesehatan juga mengungkapkan, melihat begitu banyaknya korban, jumlah tersebut sangat mungkin bertambah. Kebanyakan korban mengalami luka tembak dan sesak karena gas air mata. Jika jumlah korban berhasil dikonfirmasi dan mencapai angka tersebut, bisa dipastikan itu adalah insiden paling mematikan setelah jatuhnya Mursy.
Sementara itu, Presiden Sementara Mesir Adli Mansour justru tak mengingatkan keberingasan pihak militer, namun hanya meminta pendukung mantan Presiden Muhammad Mursy segera mengakhiri unjuk rasa dan kembali ke rumah masing-masing.
’’Pulanglah dan saya secara pribadi berjanji tidak ada seorang pun yang akan menuntut Anda secara hukum,’’ tegas Mansur saat diwawancarai salah satu stasiun televisi lokal sebagaimana dilansir kantor berita Xinhua.
Opsi kompromi
Sejumlah intelektual Mesir mengusulkan inisiatif untuk keluar dari krisis yang terjadi di Mesir saat ini. Yang menegaskan penolakannya atas apa yang disebut dengan kudeta militer dan mengembalikan pemerintah sah yang dipimpin Presiden Mohammad Mursy, untuk memberi mandat konsensual kewenangan kepada perdana sampai dilaksanakan Pemilu baru.
Aljazeera juga memuat teks inisiatif yang berisi sejumlah poin yang dibacakan oleh mantan calon presiden Muhammad Salim Awa. Disebutkan dalam inisitif tersebut, berdasarkan pasal 141 dan 142 konstitusi 2012, presiden memberi mandat kepada perdana menteri konsesi kewenangan penuh, kemudian menyerukan pemerintah sementara untuk memilih dewan selama 60 hari. Setelah itu, menurut inisiatif, dewan membentuk pemerintah tetap, kemudian mengadakan Pemilu presiden dini sesuai dengan konstitusi. Setelah itu dimulai langkah-langkah perubahan konstitusi.
Awa menyatakan presiden yang dimaksud dalam inisiatif adalah “presiden yang sah yaitu Mohammad Mursy dan bukan presiden hasil kudeta, dan yang dimaksud dengan perdana menteri adalah perdana menteri konsensual dan bukan perdana menteri hasil kudeta militer yaitu Hazim Bablawi.
Salim Awa mengatakan bahwa Pemilu dan referendum merupakan satu-satunya sarana untuk mengekspresikan kehendak rakyat. Dia menyatakan bahwa pidato Menhan Abdul Fattah as Sisi yang menyerukan rakyat Mesir untuk memberi mandat kepada untuk memerangi apa yang disebutnya “teroris” adalah seruan untuk mengadu domba rakyat.
Sementara Sekjen PBB Ban Ki-moon menyerukan agar semua pihak menahan diri. Dia menyatakan mendukung hak setiap warga Mesir untuk melangsungkan demonstrasi damai. Dia menambahkan, militer Mesir seharusnya mengakhiri penangkapan sepihak dan bentuk-bentuk pelanggaran lain yang dilaporkan.
Dikutip Reuters, Ban Ki-moon mengimbau agar Mursy dan para anggota al Ikhwan al Muslimin lain yang ditahan dibebaskan atau kasus hukumnya dikaji ulang.*