Hidayatullah.com—Profesor lingustik Inggris di University College London Bas Aarts mengatakan, ujian baru yang diberlakukan untuk murid sekolah usia 14 tahun oleh Menteri Pendidikan Michael Gove menuntut pengetahuan lebih tentang tata bahasa (grammar) Inggris dari para guru pengajarnya.
“Banyak guru yang tidak nyaman dengan grammar dan tidak tahu bagaimana menggunakannya secara formal,” kata Aarts kepada The Times, dikutip The Telegraph (4/10/2013). “Kita selalu tahu bahwa mengajarkan grammar sulit bagi para guru, sebab mereka sendiri seringkali tidak memiliki pengetahuan tentang tata bahasa Inggris.”
Menurut Aarts, kesenjangan keterampilan tersebut bukan salah guru itu sendiri, melainkan karena kesalahan formalisasi pengajaran tata bahasa di masa lalu.
“Ada saat di mana pada tahun 1960an pemerintah mengatakan bahwa anak-anak sekolah tidak perlu belajar tata bahasa sebab hal itu menghalangi kreatifitas mereka. Sekarang, hal itu berubah cepat,” kata Aarts.
Kurikulum baru di Inggris memasukkan tes mekanisme tata bahasa yang dirancang untuk meningkatkan standar literasi di sekolah-sekolah dasar dan murid Key Stage 3 (kelas 7-9 usia 11-14 tahun). Lewat program ‘Englicious’, di mana Aarts juga terlibat, pemerintah ingin memberikan akses yang luas ke dalam database bahasa Inggris terbesar sebagai sumber bahan ajar tata bahasa terutama untuk anak murid Key Stage 3.
Joe Welsh, direktur sementara dari Asosiasi Nasional Pengajaran Bahasa Inggris yang bersama Aarts menggarap proyek ‘Englicious’, berpendapat tidak mungkin melakukan generalisasi terhadap seluruh guru yang berasal dari generasi yang berbeda-beda itu.
Welsh mengakui bahwa guru kadang merasa “terintimidasi” dengan kurikulum baru yang menekankan pada penguasaan struktur tata bahasa. Namun hal itu menurutnya bisa diatasi dengan Plain English Campaign, yang sangat esensial untuk menjelaskan tata bahasa Inggris yang benar tanpa harus menguasai seluruh terminologi yang ada.*