Hidayatullah.com—Dalam sebuah pembicaraan yang jarang dilakukan, mantan presiden Mesir Husni Mubarak hari Ahad (26/4/2015) mengatakan bahwa ada “keputusan-keputusan menentukan” yang harus diambil oleh presiden saat ini, Abdul Fattah Al-Sisi, dan rakyat Mesir harus berdiri di belakangnya.
Hal itu dikatakan oleh Mubarak dalam wawancara singkat lewat sambungan telepon dengan Ahmed Moussa dari stasiun televisi swasta Sada El-Balad, dalam rangka memperingati 33 tahun pembebasan Sinai, lansir Ahram Online.
Mubarak, yang meletakkan jabatan presiden pada 11 Februari 2011 menyusul 18 hari demonstrasi besar oleh rakyat, menegaskan kembali bahwa militer, yang dipimpin Al-Sisi sebagai presiden, pasti sangat “memahami kesucian (arti penting) dari wilayah nasional”.
Bekas penguasa militer berusia 86 tahun itu mengenang kembali ketika pasukan Mesir mengusir tentara Zionis keluar dari wilayah Sinai, dengan mengatakan bahwa Israel “memiliki rencana licik” untuk mengulur-ulur waktu dan berusaha bertahan di Sinai, tetapi dia kala itu menolak upaya Zionis tersebut.
“Masa depan negara hanya bisa dicapai dengan pengorbanan,” kata Mubarak, seraya menambahkan bahwa generasi pada masanya yang membebaskan wilayah Sinai dari cengkraman Zionis.
Menyusul pelengseran dirinya, Mubarak ditahan sambil menunggu proses persidangan terkait berbagai kasus. Dia menghabiskan sebagian besar masa tahanan di Rumah Sakit Militer Maadi di Kairo, hingga sekarang.
Saat ini Mubarak masih menjalani sidang ulang untuk kasus penggelapan uang negara yang aslinya dialokasikan untuk mendirikan pusat-pusat komunikasi di istana-istana kepresidenan. Menurut jaksa penuntut, uang itu justru dipakai Mubarak untuk kediaman pribadinya.
Pada bulan Nopember 2014, dakwaan atas Mubarak terkait kematian sejumlah demonstran tahun 2011 digugurkan. Dia juga dibebaskan dari beberapa tuduhan korupsi lainnya.*