Hidayatullah.com—Paus Fransiskus mengutip data yang menyebutkan bahwa sekitar 2% rohaniwan Gereja Katolik adalah pedofil.
Paus mengatakan pelecehan seksual terhadap anak-anak seperti penyakit “lepra” yang menjangkiti Gereja Katolik, lapor koran Italia La Repubblica dikutip BBC (13/7/2014).
Paus bersumpah akan menghadapinya sesuai dengan tingkat keparahannya.
Dalam wawancara tersebut, Paus Fransiskus dikutip mengatakan bahwa estimasi 2% datang dari para penasihatnya. Angka itu menunjukkan sekitar 8.000 pendeta dari jumlah global sekitar 414.000.
“Dari 2% yang pedofil adalah para pendeta, uskup dan kardinal. Yang lainnya, jumlahnya lebih banyak, tetapi tidak diomongkan. Mereka dihukum tanpa diberi alasan,” kata Paus Fransiskus.
“Saya melihat masalah ini tidak bisa ditoleransi,” imbuhnya.
La Repubblica memberi judul laporan wawancaranya itu “Paus mengatakan: Seperti Yesus, Saya akan menggunakan tongkat atas para pendeta pedofil,” atau menghukum para rohaniwan pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak.
Tahun lalu Paus Fransiskus memperkuat undang-undang Vatikan soal pedofilia. Awal bulan ini dia untuk pertama kalinya bertemu dengan para korban kebejatan pendeta-pendeta Katolik dan memohonkan maaf dari para korban pencabulan untuk para rohaniwan Katolik pelaku pedofilia.
Ketika ditanya soal selibasi para pendeta dalam wawancara yang sama, Paus Fransiskus mengatakan bahwa aturan tersebut mulai diberlakukan 900 tahun setelah kematian Yesus dan mengatakan bahwa Gereja Katolik Timur memperbolehkan pendeta-pendetanya untuk menikah.
“Masalah terkait itu tentu ada tetapi tidak dalam skala besar. Akan butuh waktu, tetapi solusinya ada dan saya akan menemukannya,” imbuh Paus Fransiskus.
Hasil wawancara redaktur La Repubblica Eugenio Scalfari dengan Paus Fransiskus itu dimuat dalam edisi Ahad (13/7/2014) di tiga halaman pertama. Wawancara dilakukan pada hari Kamis sebelumnya.
Namun, jurubicara Vatikan Federico Lombardi mengatakan kutipan koran Italia itu tidak sesuai dengan kata-kata yang sebenarnya diucapkan Paus Fransiskus. Menurut Lombardi wawancara dilakukan tanpa menggunakan perekam digital dan Paus Fransiskus tidak pernah memeriksa akurasi wawancaranya.*