Hidayatullah.com—Koalisi Militer Negara Islam Kontra Terorisme (IMCTC) mengumumkan perang total terhadap terorisme. IMCTC atau dikenal juga dengan nama Aliansi Militer Islam (IMA) yang dipimpin Arab Saudi ini menyatakan perang ditujukan terhadap teroris, bukan pada negara atau sekte tertentu.
Pembentuk aliansi, Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman, berjanji untuk melenyapkan terorisme dari muka bumi dengan menggunakan sumber daya yang tersedia.
Pengumuman perang terhadap terorisme itu disampaikan Pangeran Mahkota Saudi yang juga menteri pertahanan Saudi Pangeran Muhammad dalam pidato sambutan pembukaan konferensi IMCTC di Riyadh Ahad (26/11/2017) mengajak anggota merenung untuk memikirkan serangan teror.
“Serangan hari Jumat di Mesir adalah kejadian yang sangat menyakitkan dan harus membuat kita merenung dengan cara internasional dan kuat peran terorisme dan ekstremisme ini,” kata Pangeran Muhammad kepada para delegasi.
”Hari ini kita mulai mengejar terorisme, dan kita melihat kekalahannya di banyak sisi di dunia, terutama di negara-negara Muslim,” katanya dikutip Reuters, Senin (27/11/2017).
Baca: Arab Saudi Bentuk Aliansi Militer Islam Gabungan 34 Negara Minus Iran
Deklarasi perang melawan terorisme ini berselang beberapa hari setelah serangan bom menggucang Masjid Al-Rawdah di Sinai Utara, Mesir, usai salat Jumat pekan lalu. Serangan bom dan penembakan brutal tersebut menewaskan lebih dari 300 orang.
Anggota Aliansi Militer Islam secara resmi terdiri dari 41 negara, tidak termasuk negara-negara dengan pemerintah yang didominasi Syiah, seperti Iran, Iraq atau Suriah. Namun, lantaran Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain sedang berseteru dengan Qatar, delegasi Doha tidak hadir di KTT tersebut pada hari Ahad.
”Ancaman terbesar dari terorisme dan ekstremisme tidak hanya membunuh orang-orang yang tidak bersalah dan menyebarkan kebencian, tapi juga menodai reputasi agama kita (sebagai agama damai) dan mendistorsi kepercayaan kita,” kata Pangeran Mahkota Saudi. ”Kami tidak akan membiarkan ini terjadi.”
Pada bulan Mei lalu, selama KTT Arab-Islam-AS, negara-negara koalisi Islam yang dipimpin oleh Saudi sepakat untuk mencadangkan 34.000 tentara guna operasi anti-terorisme di Iraq dan Suriah. Namun, pertempuran kunci melawan teroris di negara-negara tersebut sekarang berakhir, karena militer Iraq dan Suriah terus menumpas sisa-sisa terorisme di wilayah mereka.
Pembentukan IMA adalah reaksi terhadap ancaman terorisme yang mempengaruhi negara-negara Islam dan non-Muslim dan memperburuk citra agama.
Baca: Tinggalkan Iran, Oman Bergabung Koalisi Islam di Bawah Komando Saudi
Pemerintahan Malaysia yang diwakili Menteri Pertahanan Malaysia, Hishammuddin Hussein menghadiri acara ini akan mengangkat isu-isu dan upaya untuk mengatasi ancaman terorisme di kawasan ASEAN. Sedang Indonesia sejak awal tak ikut ambil bagian.
Qatar, yang awalnya merupakan bagian dari aliansi tersebut, tidak diundang ke pertemuan. Qatar masih diisolasi oleh kelompok yang dipimpin oleh Arab Saudi karena mendukung terorisme, tuduhan yang dengan tegas dibantah oleh Doha.
Sementara itu Abdulelah al-Saleh, seorang letnan jenderal Saudi dan sekretaris koalisi, mengatakan bahwa Qatar dikecualikan untuk membantu membangun sebuah konsensus untuk meluncurkan operasi. Dia juga mengatakan bahwa kelompok tersebut tidak bertujuan menciptakan blok Sunni untuk melawan Iran.*