Hidayatullah.com–Muktamar oposisi Suriah di Riyadh ditutup dengan pernyataan bersama, dimana para peserta sepakat bahwa untuk ke depan bentuk negara Suriah sebagai negara sipil demokratis. Mereka juga menegaskan bahwa untuk proses transisi mereka menolak peran presiden Bashar Al Assad, demikian lansir Al Jazeera (10/12/2015).
Dalam pertemuan yang berlangsung tiga hari tersebut, para peserta muktamar juga sepakat mengenai pembentukkan lembaga tinggi untuk perundingan.
Pihak oposisi juga menyatakan kesiapannya untuk mengadakan pertemuan dengan wakil dari pemerintahan Suriah kini di bawah pengawasan dan inisiatif PBB dalam waktu yang terbatas.
Peserta muktamar itu sendiri dihari 100 peserta dan dipilih 32 anggota untuk perundingan diantaranya 10 dari faksi-faksi, dan 9 dari Persatuan Nasional Suriah, 5 dari gabungan beberapa faksi (Hai’ah Tansiq) dan 8 orang dari pihak independen.