Hidayatullah.com—Pertemuan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Raja Saudi Salman Bin Abdul Aziz di Riyad hari Selasa kemungkinan membahas pelengseran rezim Bashar al Assad.
Seperti diberitakan Kantor Berita Saudi, SPA, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tiba hari Senin dan bertemu dengan Raja Salman.
Pembicaraan antara Erdogan dan Raja Salman yang diadakan di Istana Kerajaan Al – Yamama, menekankan pada kerja sama antara Turki dan Arab Saudi yang sudah berjalan dalam dekade ini. [Baca: Pertemuan Erdogan dengan Raja Salman Bahas Krisis Suriah]
Sebagaimana diketahui, kedua negara termasuk pendukung terkuat pemberontak Suriah yang memerangi Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Dalam konteks ini, kedua negara mencapai kesepakatan tentang pembentukan Dewan Kerjasama Strategis Tingkat Tinggi. Erdogan ingin menitik beratkan kerja samanya dalam sektor ekonomi, perdagangan dan energi. Termasuk mereka membahas tentang permasalahan yang ada di Suria, Iraq dan Yaman.
pembicaraan Erdogan dengan Salman dihadiri oleh bangsawan senior lainnya Saudi dan pejabat, termasuk putra mahkota kerajaan, wakil putra mahkota, dan menteri keuangan, urusan luar negeri dan informasi. Delegasi Erdogan ke Arab Saudi termasuk menteri negara ekonomi, energi dan urusan luar negeri.
Dikutip SPA, Erdogan mengatakan, pemerintahnya dan Arab Saudi bekerja “dalam solidaritas dan konsultasi” untuk menemukan solusi politik bagi Suriah, karena kedua negara mendorong kesepakatan yang akan menghapus Assad dari kekuasaan.
Arab Saudi dan Turki adalah dua Negara yang mengambil garis keras dengan menyerukan pengunduran diri segera Bashar al Assad. Sebelumnya, kedua Negara pernah membahas penanggulangan terorisme sudah pernah disampaikan pada pertemuan G20 di Antalya – Turki.
Presiden Turki diperkirakan akan mencari bantuan Arab Saudi dalam upayanya mengurangi ketergantungan Turki pada energi Rusia. Tetapi Erdogan juga punya sesuatu yang akan diberikan. Ia mendukung inisiatif Arab Saudi, koalisi militer negara-negara Muslim guna memerangi teroris. Sebagai anggota NATO, angkatan bersenjata Turki termasuk yang terbesar dan memiliki perlengkapan terbaik di kawasan tersebut, demikian analisis Analis keamanan Metehan Demir dikutip Voice of Amerika.*/Ridwan