Hidayatullah.com–Terjadinya pembajakan pesawat Egypt Air pada Selasa pagi, 29 maret 2016 lalu mengakibatkan pesawat yang berencana terbang dari Alexandria menuju Kairo akhirnya terpaksa mendarat di Larnaca Airport, Siprus.
Seperti yang dilansir oleh Al-Jazeera(29/3), pembajak adalah seorang warga negara Mesir berusia 59 tahun yang diidentifikasi sebagai Saifuddin Musthafa, yang mengancam akan meledakan pesawat dengan bom sabuk yang dibawanya.
Lelaki itu mengambil alih penerbangan MS181 dan memerintahkan pilot mengalihkan penerbangan menuju Larnaca, Siprus.
Setelah lima jam mengalami kebuntuan, pria tersebut akhirnya menyerahkan dirinya kepada pihak kepolisian Siprus. Tidak ada korban yang terluka dalam insiden tersebut.
Setelah ditelusuri motif pembajakan, diketahui bahwa pria tersebut ingin menemui anak dan istrinya setelah 24 tahun tidak bertemu yang berada di Siprus.
Pengadilan Larnaca, Rabu (30/3) memerintahkan Musthafa untuk ditahan selama delapan hari atas tuduhan pembajakan penculikan, mengancam kekerasan, serta pelanggaran yang berhubungan dengan terorisme dan dua dakwaan terkait kepemilikan bahan peledak .
“Ketika seseorang tidak melihat keluarganya selama 24 tahun dan ingin melihat istri dan anak-anaknya, dan pemerintah Mesir tidak mengizinkan hal itu, apa yang harus seseorang lakukan?” Kata polisi Siprus dalam sebuah pernyataan.* Ramadhan Ribath